Ayo Membaca Buku Bersama Anak

Keluarga

Perkenalkan namaku Stevi. Aku adalah seorang ibu, istri, dan tentunya perempuan yang ingin terus berkarya. Hobiku menulis dan membaca. Keluargaku perantauan, telah kutulis beberapa kisah kami di blog tentang kehidupan rantau kami. Banyak hal kami lakukan bersama – saya, suami, Rara putri kami yang berumur 19 bulan. Kami tidak memakai bantuan ART dan pengasuh, bahkan kami jauh dari keluarga dan tinggal di komplek perumahan yang individualis. Namun ini bukan alasan bagiku untuk diam saja. Aku mau terus menjadi perempuan cerdas di era milenial.

Menjadi perempuan cerdas kumulai dari keluarga kecilku. Memiliki keluarga yang harmonis adalah impianku. Bisa mengasuh anak dengan bermodalkan belajar berbagai metode pengasuhan adalah salah satu hal yang aku sangat ingin pelajari. Untuk diri sendiri aku selalu ingin menjadi lebih baik lagi dan membuat diriku bisa mencintai diriku sendiri.

Ceritaku dimulai ketika anakku lahir. Semasa hamil aku terlalu memfokuskan perhatian pada metode hypnobirth dan gentlebirth sehingga lupa menyiapkan mental saat bayi hadir Aku memang berhasil melahirkan dengan nyaman dan tanpa trauma, bahkan hanya mengejan dua kali sambil nonton TV di ruang bersalin. Akan tetapi begitu anakku lahir aku justru merasa membencinya. Ketika sampai rumah aku ingin dia mati, aku berkali-kali ingin membunuhnya. Aku yang sebelumnya sangat aktif tiba-tiba harus terkurung di dalam rumah. Jangankan untuk sekadar membaca buku, untuk mandi pun aku tak sempat. Mulailah aku mulai mencari tahu tentang apa yang terjadi pada diriku. Kutemukanlah istilah baby blues. Kubaca semua tentang baby blues dan memutuskan untuk menemui psikolog. Singkat cerita babyblues ini berlanjut menjadi post partum depression. Berkali-kali aku masih ingin menyakiti anakku. Penyebabnya hanya satu: Aku bosan, aku ingin produktif lagi.

Tapi bagaimana caranya? Siapa yang harus merawat anakku?
Sambil terus memanjatkan doa, melalui media sosial kutemukan banyak komunitas. Kucoba ikut salah satunya, yaitu Read Aloud Indonesia. Awalnya aku tidak berani bergabung, tapi aku mulai memahami terlebih dulu apa itu read aloud. Sebelumnya aku hanya mempraktekkan membaca untuk anakku tanpa tahu metode apapun. Anakku sudah mulai kubacakan buku sejak di dalam kandungan, bahkan saat aku mengalami babyblues dan post partum depression. Bagiku penting menjadikan seorang anak sebagai pribadi yang gemar membaca. Semakin aku belajar semakin aku tahu manfaat metode read aloud. Semakin aku tahu juga bahwa metode ini bisa meningkatkan bonding antara anak dan ibu.

Akhirnya aku mulai membuka diri. Aku mulai berani membawa anakku mengikuti berbagai aktivitas. Haruskah aku terus terkurung di dalam rumah sementara pikiranku sudah berjalan ke mana-mana? Aku rindu pada diriku yang semula memiliki ide-ide cemerlang sampai dapat mengaktualisasikannya.

Bermodal nekat saja kubawa anakku berangkat naik ojek daring menuju stasiun MRT untuk melanjutkan perjalanan ke gedung Kemendikbud di Jalan Sudirman, Jakarta. Itu adalah kali pertama aku memberanikan diri menghadiri acara komunitas membaca ini. Rasanya deg-degan namun aku harus bangkit. Berbagai macam hal kami bahas dan singkat cerita aku menjadi sangat aktif di dalam komunitas membaca ini bari terus membacakan buku ke anakku.

Tidak semua anak seberuntung anakku yang bisa menikmati indahnya dibacakan buku. Aku yang masih belajar dan terus belajar memberanikan diri mengunggah videoku yang sedang membacakan buku ke akun Instagram. Aku juga mengunggah video suamiku membacakan buku ke anakku. Tak disangka datang banyak pertanyaan tentang bagaimana aku dan suami bisa berkomitmen membacakan buku ke anak. Jawabku kuncinya hanya belajar dan mencoba. Itulah yang aku dan suami lakukan selama ini, tidak pernah malu belajar dan mencoba hal baru selama itu positif.
Aku juga mulai banyak berdiskusi dengan banyak orang di dalam dunia membaca dan mulai diundang untuk ikuti maupun menjadi narasumber di berbagai acara membaca. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka akan bisa sejauh ini. Semua berawal dari terus-menerus belajar dan tidak berhenti mencari informasi lalu mempraktekannya.

Suatu hari untuk pertama kalinya aku diminta membacakan buku di salah satu taman baca masyarakat. Ternyata peristiwa itu menjadi awal yang bagus bagiku untuk lebih banyak berkegiatan. Di taman baca masyarakat itu ada banyak anak kurang mampu yang menontonku bercerita. Sebagai generasi milenial aku senang sekali melihat mereka antusias mendengarkan aku membacakan buku. Rasanya bahagia sekali bisa kembali aktif dan mengeluarkan semua beban dalam pikiranku selama itu.

Sampai kini aku sudah beberapa kali mengisi acara membaca, baik itu membacakan buku di depan atau sharing pengalamanku dan suami membacakan buku ke anak. Kami senang sekali bisa berbagi keajaiban membaca ke banyak anak dan mengajak banyak orangtua untuk membacakan buku untuk anak. Membacakan buku untuk anak-anak kita bisa meningkatkan bonding antara anak dan orangtua, juga bisa mengurangi stres si ibu.

Sebagai orangtua aku ingin akan semakin banyak orangtua menyadari manfaat membacakan buku bagi anak-anak mereka.
Belajar dan terus aktif berkegiatan seperti apa yang kulakukan menurutku adalah cara cerdas menjadi generasi milenial. Kita bisa memperbaiki kualitas hidup kita dengan menjadi generasi yang cerdas dan pintar menyerap informasi dari berbagai macam sumber, sehingga kita menjadi generasi yang mampu bersaing secara cerdas di era milenial ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu