Berdamai Dengan Ketidaksempurnaan.

Keluarga

Tidak sempurna, setiap kita pasti sering mendengar kalimat ini dilingkungan sekitar kita atau bahkan pernah berada diposisi merasa “ tidak sempurna”. Mengetahui potensial diri sendiri memang tidaklah mudah ladies, terutama jika kita mengenal orang lain yang lebih potensial dari kita. Seringnya kita akan menjadi minder dan tidak percaya dalam melakukan sesuatu. Faktor terbesar apakah yang membuat hal ini terjadi ladies? Berikut ada cerita dari sahabat kita Ane tentang bagaimana melewati fase ini di dalam hidupnya..

“ Coba deh rambutnya di lurusin biar lebih cantik”

“ Pake baju yang bagus dong biar penampilannya enak dilihat “

“ Kemampuan kamu segini aja? Kamu kalah sama dia?”

Halo aku Ane, kalau kalian bingung diatas kalimat apa, ya kalimat diatas merupakan pelengkap aktivitas sehari-hari aku. Aku seorang anak pertama dari 2 bersaudara di sebuah keluarga yang tergolong tegas dalam mendidik. Ayah merupakan seorang pensiunan militer dan ibu merupakan seorang dokter spesialis anak. Aku sendiri berumur sudah lebih dari setengah abad dan bekerja di salah satu perusahan bidang property yang sudah mempunyai nama di Jakarta.

Banyak hal yang terjadi di dalam hidupku sehingga membentuk aku menjadi pribadi sekarang. Salah satunya ketika melewati fase “ tidak percaya diri” yang sangat lama dan berat. Sejak kapan dimulai hal ini? akupun tidak menyadarinya. Sejak kecil aku sudah di didik dengan tegas oleh ayah. Di satu sisi ada hal positif dalam didikan keluarga ku, membuat aku menjadi pribadi yang selalu berusaha dalam mengerjakan sesuatu. Namun di dalam prosesnya sering aku mengalami keadaan tertekan. Selalu menjadi tolak ukur untuk adik , tidak jarang juga dibandingkan dengan saudara ataupun adik sendiri dengan dalih “ kamu itu kan sudah dibekali ini itu masa iya masih dibawah dia?” ya, sejak kecil aku dan adik ku sudah diatur dalam semua hal.

Aku dan adik ku memang sedikit berbeda dari segi fisik maupun karakter. Meskipun kami memiliki perbedaan namun hubungan kami sebagai saudara tetap baik. Sepanjang kami tumbuh kembang bersama terkadang ibu ku atau keluarga ku yang lain berkata “ Kak kamu itu beda sekali sama adikmu, adikmu itu pintar merawat diri kamu jugalah!” “ kak kamu itu perempuan pake baju yang bener” “kak gausah gambar-gambar kamu belajar ini aja” mungkin saat masih remaja aku tidak terlalu memikirkan perkataan tersebut namun seiring berjalannya waktu dan kami sudah beranjak dewasa timbulah pikiran-pikiran yang membuat kepercayaan diriku berkurang. Apa iya penampilan ku kurang menarik? Apa iya aku tidak boleh memilih apa yang aku suka? Kenapa selalu adik aku yang jadi perbandingan? Apa aku seburuk itu? Semua pikiran tersebut menjadi satu sehingga membuat aku merasa sangat amat buruk. Hal ini membuat aku secara tidak sadar menjaga jarak dengan keluarga ku sendiri.

Sampai tiba dimana ada satu kejadian yang saat itu menyakiti hati ku. Setelah aku menyelesaikan masa studi, aku berencana bekerja di jakarta karena mendapat tawaran di salah satu perusahaan besar menjadi seorang design interior. Ketika aku meminta izin kepada kedua orang tua ku mereka melarang keras aku untuk pergi. Ayah ku berkata “ ngapain kamu jauh ke Jakarta hanya untuk bekerja seperti itu? Kamu bisa menghasilkan apa dari pekerjaan seperti itu? Adik kamu saja bisa menjadi dokter, Jangan jadi anak bodoh kamu!”. Bodoh… ya kata-kata itu yang sangat menyakiti hatiku pada saat itu. Semua terasa sia-sia untuk ku, perjuangan ku mendapatkan nilai yang baik, mengikuti semua hal yang kedua orang tua ku inginkan, tidak memikirkan perkataan keluarga ku yang lain, terlebih lagi selalu berusaha tidak iri dengan adik ku sendiri meskipun pada kenyataannya aku sangat amat tertekan dengan semua hal itu. Karena pada saat itu aku sangat amat merasa kecil hati, aku memutuskan untuk tetap pergi ke jakarta ada atau  tidak ada izin dari orang  tua ku. Saat itu aku hanya berfikir untuk membuktikan bahwa aku layak dan akan menjadi seorang yang sukses.

Singkat cerita, tidak terasa sudah 2 tahun aku hidup seorang diri di jakarta, aku jarang menghubungi keluarga ku karna pada saat itu masih ada luka di hati. Selama 2 tahun ini aku berubah total, aku membuat image baru untuk seorang “ Ane”. Ya perasaan minder, berkecil hati membuat aku sering merasa “insecure” dan berujung membuat sebuah perubahan. Satu waktu disela-sela pada saat bekerja, aku mendengarkan sebuah siaran radio. Pada saat itu tema program radio tersebut “ berdamai dengan ketidaksempurnaan” ketika mendengarkan siaran tersebut salah satu narasumber berkata “ tidak ada yang sempurna di dunia ini, diri kita, lingkungan, pertemanan bahkan keluarga sekalipun tidak ada yang sempurna. Jangan menganggap diri rendah hanya karena melihat orang lain dengan kelebihannya. Saat kamu terluka, menjadi kecil hati bahkan sekalipun merasa buruk tetaplah ingat ada satu pribadi yang tetap mencintaimu apapun keadaanmu, yaitu Sang pencipta. Hati akan menemukan kedamaiannya saat kita mampu memaafkan. Jadilah pribadi yang anggun diatas ketulusan.”

Aku seperti tertampar dan menyadari apakah semua yang aku jalani dan perubahan ini membuat aku lebih bahagia? Nyatanya tidak, perasaan ku masih seperti kosong. Aku selalu merasa kurang, tidak puas dan berujung lelah karena tidak bisa menjadi diri sendiri. Mungkin semua ini aku rasakan karena aku belum bisa berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan. Berdamai.. ya pada akhirnya aku berdamai dengan diri ku sendiri dan berdamai dengan keluarga ku. Meminta maaf dan memaafkan segala yang telah terjadi. Aku sadar seperti apapun bentuk sebuah keluarga, keluarga tetaplah rumah bagi kita. Kedua orang tua ku meminta maaf dan berkata mungkin mereka memang terlalu keras kepadaku namun di balik itu semua mereka menginginkan yang terbaik dan aku menjadi seorang pribadi yang tangguh dalam menjalani hidup yang keras ini karena aku merupakan seorang anak sulung.  Dari fase ini aku mendapatkan pembelajaran yang berharga bahwa semua kebaikan akan datang kepada kita jika :

1. Berdamailah dengan ketidaksempurnaan kita, berdamai artinya menerima. Menerima diri kita sendiri dalam segala hal. terkadang tanpa kita sadari sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain, atau menuntut diri kita untuk sempurna dalam segala hal baik penampilan, pekerjaan dan yang lainnya. Ketahuilah bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jangan menganggap diri rendah hanya karena melihat orang lain dengan kelebihannya. Semua manusia diciptakan dengan derajat yang sama. Yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah bagaimana mereka menjalani hidupnya di dunia ini.

2. Percaya, selalu ada orang-orang yang tulus menyayangi kita , kita mungkin merasa tidak percaya diri karena merasa tidak berharga, memiliki banyak kekurangan, tidak kompeten dalam melakukan banyak hal. Namun, percayalah, dengan setiap kekurangan yang kita miliki, tetap selalu ada orang yang menyayangi kita. Tuhan sang pencipta yang menciptakan kita senantiasa selalu ada dan menyayangi. Mungkin saat itu aku merasa kehilangan keluarga namun aku bersyukur Tuhan mendatangkan sahabat dan orang di sekitar ku yang selalu ada di dalam segala kondisi.

3. Meminta maaf dan memaafkan membuat aku menjadi pribadi yang lebih bahagia. Aku melepaskan segala hal-hal yang telah berlalu dan percaya bahwa hari yang aku jalani sekarang akan selalu ada kebaikan untuk diriku sendiri dan orang-orang disekitarku.

Ladies percayalah bahwa setiap kita berharga apapun keadaannya. Selalu ingat bahwa kita bisa! Kita berharga! Berdamailah dengan ketidaksempurnaan untuk menemukan versi terbaik  diri kita.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu