Tuhan, Aku Bersyukur.

Keluarga
Halo, aku Natasha. Ini pertama kalinya aku bisa mengirim tulisan untuk Urban Women Indonesia. Aku ingin berbagi cerita dalam kehidupanku, sesuai tema “kesetiaan” yang menjadi topik kali ini.  Kisahku ini adalah mengenai perjalanan pernikahan ibu dan ayahku tercinta. Bukan kisah cinta yang mengagumkan dan heboh seperti cerita novel atau film romantis melainkan kisah sederhana namun menjadi pedoman hidup untukku.
Semua dimulai saat ayah dan ibuku bertemu dalam sebuah acara keagamaan. Menurut cerita ibuku, saat itu ayahku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. “Inilah perempuan yang akan bersamaku dan mendampingiku,” kata ayahku dalam hati. Doa ayahku dijawab dan menjadi kenyataan. Saat ini usia pernikahan orangtuaku sudah berjalan selama 40 tahun, dikaruniai dua orang anak. Aku sendiri anak bungsu, menikah, dan memberikan dua orang cucu. Keluarga kami merupakan keluarga sederhana. Kedua orangtuaku adalah orangtua yang sangat baik bagi anak-anaknya, membimbing kami dengan penuh cinta kasih dan sayang melalui segala kearifan dan ketegasan mereka.
Aku teringat ketika aku masih berusia sekitar 16 tahun sewaktu adik-adik ibuku mengajak ibuku pergi berbelanja di pasar swalayan yang saat itu sedang menggelar diskon besar-besaran dengan kualitas yang sangat bagus. Ibuku menolak ajakan itu karena ayahku sebentar lagi pulang kerja. Kata ibuku, Ibu tak akan pernah meninggalkan ayahmu sendirian.” Kata-kata itu selalu ditegaskan oleh ibuku, mengingatkan aku selalu bahwa apapun yang terjadi sebagai seorang perempuan aku wajib untuk selalu menemani suamiku dalam keadaan apapun. Dalam keadaan kekurangan, berkelebihan, sehat maupun sakit, seorang perempuan harus menjadi teman hidup suaminya. Ketika itu adik-adik ibuku menertawakan, karena menurut mereka itu hanyalah sekadar janji pernikahan.
Bertahun-tahun kemudian kami sekeluarga menerima berita bahwa ibuku terjatuh saat sedang bekerja di rumah. Ibu menjadi lumpuh. Dokter mengatakan saraf tulang belakangnya tidak berfungsi lagi. Saat itu ibuku memasuki usia 52 tahun dan ayahku 54 tahun. Ayah adalah laki-laki yang sehat. Dalam usianya yang sudah tidak muda ayahku setia merawat ibuku, menyuapi, bercerita tentang segala hal, dan menguatkan ibuku. Ayah tak pernah meninggalkan Ibu. Saat Ayah memutuskan untuk pensiun dan hanya akan menjalankan usaha saja maka waktu-waktu Ayah untuk menemani dan merawat Ibu dapat semakin banyak.
Kami sekeluarga bekerja sama untuk merawat Ibu. Saat itu, meskipun kami sekeluarga mendapat cobaan berat, kami tetap bisa menaikkan rasa syukur kami. Memang keadaan menjadi sangat berbeda. Biasanya Ibu aktif dengan kegiatannya, di pagi hari membuatkan kami sarapan, mengurusi kedua anak dan suaminya dengan sangat baik. Setiap sebulan sekali kami sekeluarga selalu pergi berjalan-jalan bersama, tidak perlu jauh yang penting kualitasnya.
Jujur sejak ibuku mengalami kelumpuhan aku sebagai anak bungsu yang memang dekat sekali dengannya sangat sedih melihat keadaannya. Beliau menjadi lebih banyak diam dan menangis. Namun seiring berjalannya waktu, seiring Ibu melihat kami tidak pernah meninggalkan beliau, terlebih ayahku yang sangat setia mendampingi, ibuku menjadi lebih tegar dan menerima keadaanya. Ibuku bisa banyak tersenyum dan percaya bahwa ketika kita senantiasa berharap kepada Tuhan maka segala cobaan akan dapat dilewati dengan kuat.
Suatu ketika saat ayahku sedang memotongi kuku Ibu beliau ditanya oleh ibuku, “Ayah, untuk apa melakukan ini? Ibu sudah sangat tua, jelek, dan tidak cantik lagi.” Ayah menjawab dengan santai dan lembut, “Aku ingin kamu tetap cantik dan mempesona di mataku,” Aku, yang menyaksikan dan mendengar percakapan itu, saat itu juga berdoa kepada Tuhan agar senantiasa menjaga dan menyertai pernikahan kedua orangtuaku serta berharap suatu hari nanti aku akan mendapatkan seorang pendamping dengan segala kebaikan dalam dirinya.
Sewaktu sampai juga aku menemukan tambatan hati dan akan melangsungkan pernikahan aku sangat bahagia. Namun di sisi lain aku merasakan dilema untuk meninggalkan kedua orangtuaku, karena kakakku sudah menikah lebih dulu. Suatu hari kusampaikan perasaanku pada Ibu. Katanya, sambal tersenyum indah, “Ibu sangat bahagia, anak bungsu Ibu akan segera menikah dan menjadi seorang istri. Satu pesan yang ibu ingin berikan, sejatinya janji pernikahan bukanlah hal yang dapat dipermainkan. Ketika kalian berdua sudah mengucapkan sumpah pernikahan maka seumur hidup kamu dan suamimu harus setia sampai kematian memisahkan.” Kemudian Ibu bertanya, “Natasha, kamu tahu kenapa Ayah tak pernah meninggalkan Ibu?” Aku menggeleng dan Ibu berkata, “karena Ibu tak pernah meninggalkan Ayah”. Saat itu aku menangis dan bersujud di kaki ibuku. Aku percaya restu dan doa ibuku akan menyertai perjalanan pernikahanku.
Ladies, kisah cinta kedua orangtuaku telah memberiku pelajaran berharga tentang tanggungjawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih bukan melalui kata-kata melainkan dengan memberikan contoh dari kehidupan mereka. Oleh karena itu bagiku apakah kesetiaan itu keharusan atau pilihan? Dengan yakin aku dapat katakan bahwa kesetiaan asalah keharusan. Kesetiaan itu sangat mahal harganya, namun kita dapat sangat mudah menemukannya dengan sangat sederhana bila kita tidak mengingkari janji hati atau komitmen untuk selalu ada bagi pasangan kita. Cinta menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, dan yang akan terjadi. Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik melainkan hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu