Notice: fwrite(): write of 571 bytes failed with errno=122 Disk quota exceeded in /home/urbanwom/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 43
Keluargaku Sudah Memberikan Edukasi Seksual Sejak Kecil – Urban Women
Keluargaku Sudah Memberikan Edukasi Seksual Sejak Kecil

Keluargaku Sudah Memberikan Edukasi Seksual Sejak Kecil

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Namaku Jessica, mahasiswa, 21 tahun. Aku akan berbagi pelajaran yang diberikan orangtuaku tentang edukasi seks.

Ketika aku masih SD belum ada edukasi seks di sekolah. Ketika aku SMP, murid yang ketahuan menyimpan foto dan video porno akan mendapat hukuman. Edukasi seks sudah diajarkan melalui bimbingan konseling ketika aku kelas 9 (3 SMP).

Aku cukup heran, mengapa bisa ada satu kelompok murid laki-laki SMP menyimpan video porno di HP mereka? Seperti tidak ada kerjaan saja, pikirku saat itu. Mereka adalah kelompok yang sering membuliku. Kata ibuku mereka bertingkahlaku seperti itu karena kurang mendapat perhatian orangtua. Benar juga, pikirku. Aku tidak perlu mencari pelampiasan saat merasa putus asa atau tidak tahu. Aku tidak perlu ke luar rumah atau menonton video porno karena tiada orangtua yang selalu menemaniku dan mengajarkanku tentang edukasi seks.

Jadi, kunci utamanya adalah, orangtuaku tak hanya memberi edukasi seks saja tapi juga menjadi teman dan sahabat anak-anak mereka. Menurutku itu sangat penting. Guru mengajar,  namun belum tentu memperhatikan anak didiknya sampai ke soal ponsel. Semua orang dapat memotivasi sekaligus mengedukasi orang lain, tapi belum tentu menjadi contoh bagi orang lain. 

Tak hanya itu, pada zaman itu, tontonan TV tidak seburuk sekarang. Sekali-kali aku ditemani orangtua dan kakak untuk menonton TV di rumah. Dari beberapa FTV yang kami tonton, kebanyakan bercerita tentang hamil di luar nikah dan perselingkuhan. Tentu saja aku belum mengerti. Mulai dari test pack, sesks bebas, dan mengapa tokoh perempuannya tiba-tiba bisa hamil. Semua pertanyaanku yang muncul saat itu dijawab dan jelaskan secara sederhana. Tidak ada yang dipandang tabu oleh keluarga kami untuk diperbincangkan. Bagi orangtuaku, seks harus diterangkan dengan keterbukaan, jangan ada yang ditutup-tutupi terutama tentang dampak buruknya. 

Semua itu juga membantuku untuk mampu merasakan penyesalan seseorang setelah melakukan hubungan intim sebelum mengucapkan janji pernikahan. Pernah juga, ketika sedang diajak ke puskesmas atau ke rumah sakit, kulihat informasi tentang HIV atau AIDS atau seks bebas yang ditempelkan di dinding, dan ibuku menyuruhku untuk membacanya. Ya, semudah itu! Orangtuaku  tidak menjelaskan seperti seorang dokter yang bisa menjelaskan secara detail, namun ketika aku membaca informasi itu, ibuku ikut membaca bersamaku dan mengajarkan saat itu juga. Aku tidak pernah malas membaca saat orangtuaku berkata bahwa hal tersebut penting untuk dibaca.

Karena aku dan kakakku perempuan, kami diajari untuk jeli melihat kemungkinan-kemungkinan di tempat umum. Kami diingatkan untuk melawan saat bokong atau dada kami dipegang. Kami diingatkan untuk melawan saat diperlakukan tidak baik oleh laki-laki. Ibu kami juga mengajari  cara melawan pelecehan seksual verbal. Ayah kami bilang, jangan pulang malam-malam saat sedang bersama dengan laki-laki. Terkadang, kami bahkan bercanda tentang seks. Seperti kata ibuku, “Nanti dari pegangan tangan terus pelukan, terus ciuman, terus, terus, terus, keterusaaan…,” tiap kali kami sedang menonton FTV.

Kakakku pernah pulang malam dengan kawan laki-lakinya, sebelum tengah malam. Orangtua kami tidak memarahinya, hanya mengingatkan betapa pentingnya pulang tidak larut malam karena banyak kemungkinan buruk yang terjadi, seperti laki-laki mesum yang bisa berbuat sesuatu, orangtua yang menunggu kakakku pulang sehingga menunda waktu tidur, kejahatan di jalan seperti begal, dan lain-lain. Lebih baik mencegah sebelum terjadi. 

Baca Juga: Siapa Sosok Terbaik untuk Memberikan Pendidikan Seks Sejak Dini?

Jadi, sebaiknya tidak menganggap edukasi seksual adalah hal yang tabu. Justru penting dibicarakan. Apalagi masih ada lagi risiko seperti terkena penyakit kelamin. 

Sumber: Jessica Patricia

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu