Kenapa Aku Menjadi Seperti Ini

Kenapa Aku Menjadi Seperti Ini?

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Sebelum SMA aku menyukai seorang cowok yang sering bermain denganku. Kami sangat dekat, bahkan orangtua kami juga sangat dekat. Aku sangat menyukainya, sampai kami memutuskan untuk berpacaran meski semula aku belum ingin berpacaran. Selain tampan dia juga baik sekali.

Selama setahun berpacaran aku sangat memercayainya. Tidak pernah aku ingin mencek handphone-nya. Sampai suatu ketika, saat kami sedang makan di sebuah mall, tak sengaja handphone-nya tertinggal di meja dan munculah notifikasi chat dari seorang perempuan. Aku kaget. Pacarku tidak pernah bercerita apa-apa. Kupikir hubungan kami baik-baik saja. Penasaran, kucek juga foto-foto yang tersimpan di handphone-nya. Syok sekali rasanya aku melihat foto-foto kemesraan mereka, tidak sangka dia berbuat seperti itu. Kutanyakan kemudian baik-baik siapa perempuan itu. Aku takut aku salah paham, tapi kenapa ada foto-foto semesra itu. Awalnya dia mengelak, kami bertengkar, dan kemudian diakuinya perempuan itu sebagai pacarnya.Kutanya kenapa dia tega sekali. Alasannya, karena dia sedang merasa bosan saja denganku. Aku sangat kecewa, karena aku sangat memercayainya tapi dia malah menghancurkan semuanya. Sakit sekali.

Kuakhiri hubungan itu. Aku menjadi cuek pada laki-laki. Tiap ada yang mendekati aku tidak pernah menanggapi. Sampai di SMA aku berkenalan dengan seorang cewek yang sangat baik padaku. Dia sangat tomboy. Penampilannya maskulin. Kami menjadi dekat, dan aneh… aku merasa nyaman sekali bersamanya. Dia lantas sering juga menginap di rumahku. Orangtuaku senang sekali ada temanku yang menginap. Aku punya seorang kakak, tapi ketika itu sedang tidak di rumah karena ada urusan pekerjaan di luar kota.

Perasaan yang sudah membeku itu berubah drastis setelah ada teman baru ini. Kuceritakan juga kepadanya pengalaman pahit bersama pacarku dulu. Ya, saat itu aku mulai merasakan jatuh cinta lagi, tapi bukan pada laki-laki. Sesungguhnya aku selalu berusaha menyangkal agar dia tidak tahu dan aku sendiri selalu bertanya-tanya kenapa aku begini.
Suatu malam, saat menginap, dia ungkapkan rasa sayangnya yang melebihi teman terhadapku. Rasa kecewaku yang dalam terhadap laki-laki membuat kami akhirnya menjalani hubungan ini. Ya, aku menjadi penyuka sesama jenis selama masa SMA. Kami berdua saling mengerti, jarang sekali bertengkar, saling dukung dalam kegiatan sekolah. Sampai kami lulus dan dia memutuskan untuk tinggal di daerah asalnya di Yogyakarta. Saat itu kupikir dia memang baik, tapi aku tidak bisa terus. Aku juga ingin punya anak, dan berkeluarga. Meski sangat menyayanginya aku bicara terus terang padanya. Seperti biasa, dia memahamiku. Dia menerimanya.

Dua tahun kemudian dia menghubungiku, mengabarkan bahwa dia punya pacar laki-laki. Dia berusaha hidup normal. Aku sangat senang mendengarnya. Aku pun memutuskan untuk berterus terang pada orangtuaku. Saat itu aku tidak tahu arah, tidak tahu harus ke mana. Tentu saja orangtuaku sangat kaget. Aku menangis, tidak tahu harus bagaimana. Lambat laun orangtuaku menerima kenyataan itu, mengajakku berkonsultasi dengan psikolog. Orangtuaku, terutama ibuku, mendukungku untuk sembuh, sampai kemudian mengenalkanku seorang laki-laki.

Aku sendiri mencoba memaafkan masa laluku terlebih dahulu, menerima semuanya dengan lapang dada, dan tidak mengulangi kesalahan. Kucoba juga membuka hati pada pilihan ibuku. Ya, dia sosok laki-laki yang sangat sederhana. Kami semakin dekat, sampai dia melamarku dan menerima semua kekuranganku di masa lalu. Kami pun menikah. Anakku satu. Dengan mantan pacar laki-laki dan perempuan aku juga sudah saling memaafkan. Bahkan sesekali kami berkomunikasi untuk sekadar menanyakan kabar.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu