Keputusan dalam hidup yang tidak pernah disesali

Keputusan Dalam Hidup yang Tidak Pernah Aku Sesali

Kisah Utama

Urbanwomen – Di usiaku saat ini, 40 tahun, menemukan pasangan yang tepat bukan hal mudah. Bagiku, banyak hal perlu dipersiapkan untuk sampai ke jenjang pernikahan. Sekadar lama menjalani hubungan bukan jaminan kita benar-benar mengenal pasangan. Apalagi, aku pernah punya pengalaman kurang menyenangkan dalam percintaan. Sudah tahu hubungan itu tidak sehat tapi tetap kupertahankan. 

Aku sangat mengaguminya, sosok yang pintar dan tampan. Bagiku dia sangat sempurna. Banyak waktuku terbuang hanya untuk dia. Aku bertemu dengannya selama merantau untuk melanjutkan pendidikan. Kami berpacaran, biasa saja, dan dia sangat baik. Sampai ketika dia mulai melarangku untuk bersosialisasi dan berteman dengan lawan jenis. Aku jadi ikut melarang dia. Saat itu kupikir itu  sewajarnya orang berpacaran saja. Maklum, dia pacar pertamaku. Kuturuti semua kemauannya dan sangat mempercayainya. Karena kami berbeda agama, dia menyuruhku ikut agamanya. Bodohnya aku, kuturuti juga itu. Ibuku melarangku untuk berhubungan dengannya. Orangtuaku tahu dia bukan laki-laki yang baik. Tapi dia menghasutku, untuk membenci dan melawan orangtuaku. Lagi-lagi aku percaya.  

Sepulang kuliah dan bertemu, malamnya kami lanjut banyak mengobrol melalui telepon hingga pagi. Padahal besoknya aku kuliah. Aku jadi tidak fokus belajar dan cepat lelah. Semantara dia tidak memikirkan kesehatanku. Jam tidurku jadi tidak teratur, nilai akademis jadi berantakan padahal aku cukup berprestasi di kelas. Pola makanku juga berantakan, hampir setiap hari hanya makan mie instan. Sampai aku aku jatuh sakit. Begitu orangtuaku tahu, mereka langsung menjemputku pulang ke kotaku. Pacarku masih peduli saat itu, tapi karena jurusan kuliah kami berbeda, kami tidak sempat bertemu dengannya.  

Sejak saat itu aku tidak berkomunikasi dengannya. Aku jadi tersadar sudah sering membantah perkataan orangtua, jauh dari teman dan keluarga, tidak memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Sempat kesal pada orangtuaku karena memaksaku untuk menjauhinya, beberapa kali aku nekat bertemu dengannya di Jakarta, pesan tiket dan beralasan mau mengambil barang-barangku di tempat kos. Tapi kekuatan doa orangtuaku besar sekali. Kuurungkan niat untuk bertemu dan hanya mengurus barang-barangku saja. Beberapa tahun kemudian aku bertemu kembali dengannya. Kami bekerja di kantor yang sama hingga saat ini, dan dia sudah bercerai dua kali. Betapa bersyukurnya aku karena Tuhan telah menyelamatkanku  dari laki-laki seperti itu.

Baca Juga: Cinta Sejati Rela Melakukan Apapun. Kata Siapa?

Sekarang aku berpacaran dengan seseorang yang jauh lebih baik. Aku juga tidak ingin terburu-buru memutuskan menikah. Berani bilang tidak jika aku merasa tidak sependapat dengannya. Berdasarkan pengalamanku, ada beberapa poin penting yang bisa membantu kita keluar dari hubungan yang tidak sehat. Sadari terlebih dulu bahwa dirimu berharga dan pikirkan kembali apa saja dampaknya jika tetap bertahan. Aku sadar, keluargalah yang seharusnya diprioritaskan. Karena saat kita sedang berada di titik paling rendah, keluargalah yang akan selalu menerima kita untuk kembali dan memperbaiki diri. 

Sumber: Ayu, 40 tahun, Di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu