Ketika Aku Menyadari Nilai Diri

Ketika Aku Menyadari Nilai Diri

Kewanitaan

Urbanwomen – Ada banyak orang yang pernah mengalami fase ketika mereka merasa sangat kecewa atas perbuatan mereka. Begitupun aku. Bila mengingat fase itu kurasa ada banyak orang yang mencerca diriku. Bahkan sampai saat ini. Tapi tak apa, memang tidak semua orang mau dan mampu memahami latar belakang mengapa seseorang mengambil suatu tindakan.

Sebagai seorang anak perempuan dari keluarga menengah di tanah Sumatra aku tumbuh besar dalam budaya patriarki yang sangat kental. Ayahku sangat dominan. Bukan hanya dominan tapi juga kerap melakukan tindak kekerasan secara verbal maupun nonverbal terhadap anggota keluarga perempuan, terutama ibuku. Dia juga berselingkuh. Aku merasa itu semua tidak adil. Dan karena itu pula saat tumbuh dewasa aku takut pada pernikahan.

Suasana di rumah nyaris tak pernah menyenangkan bagiku. Aku lebih senang menghabiskan waktu di luar rumah. Ketika memiliki kesempatan keluar dari rumah untuk kuliah tentu saja aku senang. Aku pun memilih lokasi yang jauh, kota Bandung.

Hidup jauh dari keluarga membuatku senang di awal masa perkuliahan. Aku cenderung melupakan keluargaku karena kami berkomunikasi dengan intensitas sangat rendah. Tetapi lama-kelamaan aku merasakan kesepian yang menusuk jauh di dalam hati. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk membunuh kesepian itu, mengingat temanku di kampus juga sangat terbatas. Mendekat kepada orangtua juga bukan opsi tepat bagiku. Mulailah terlintas dalam pikiranku untuk mencari lawan jenis sebagai kekasih agar aku tidak merasa kesepian. Aku dekat dengan seorang teman di kelas, namun dia ternyata hanya menjadikanku teman bersenang-senang saja. Aku sedikit kecewa, namun aku berusaha melupakannya dan tetap menikmati hidup.

Setelah itu aku mulai memainkan salah satu aplikasi kencan dan bertemu banyak laki-laki. Mereka semua juga menjadikanku teman bersenang-senang. Aku malah melepas keperawananku begitu saja pada salah satu di antara mereka.

Awalnya kupikir aku akan biasa-biasa saja. Namun ketika menyadari bahwa aku telah kehilangan aku menjadi sangat menyesal dan ketakutan. Aku merasa berdosa, takut kehilangan harga diri di mata masyarakat. Tetapi sebagai orang yang memang relatif cepat melupakan sesuatu entah mengapa aku terus melakukannya. Selain karena menikmatinya sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, aku anggap nyatanya aku memang sudah kehilangan harga diri.

Aku berbagi ranjang dengan banyak sekali laki-laki sampai merasa letih secara fisik maupun psikis. Tak kurang dari 30 lelaki masuk dalam daftarku. Tapi hati kecilku merasa sakit menghadapi sikap mereka yang memperlakukanku seolah tidak lebih dari sampah. Pergumulan batin sempat kurasakan karena di sisi lain tanpa sadar aku berusaha mendobrak perspektif patriarki yang menggangguku sejak lama. “Kalau laki-laki bisa bersenang-senang dengan banyak perempuan, kenapa perempuan tidak? Kenapa hanya perempuan yang mendapat stigma negatif sedangkan laki-laki tidak?” pikirku saat itu.

Sampai pada suatu hari aku bertemu seorang lelaki berkebangsaan Prancis dari aplikasi kencan. Kami juga melakukannya. Tapi ada yang berbeda darinya. Dia ingin menjalin hubungan lebih dari sekadar tidur bersama. Kami berpacaran selama kurang lebih 2 tahun sebelum akhirnya berpisah. Dialah yang mengembalikan kepercayaan diriku sebagai perempuan, meski aku telah kehilangan keperawanan. Dia orang yang memperlakukanku dengan penuh cinta dan memberiku rasa hormat.

Kini dari semua eksplorasi panjang itu aku sama sekali tidak menyesal. Aku menjadikannya pelajaran. Aku tidak lagi takut tidak ada laki-laki yang menerimaku dengan kondisi seperti ini. Aku kini tahu bahwa nilai diri seorang perempuan bukan hanya terletak pada keperawanannya. Apapun yang terjadi aku tetap perempuan yang bernilai. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu