Curiga berlebihan, Berujung tidak setia?

Kewanitaan
Dalam suatu hubungan selalu ada perbedaan ketika menjalaninya. Ada yang terkesan cuek namun hangat, ada yang mungkin lebih protektif terhadap pasangan masing-masing, ada juga yang datar-datar saja. Saya ingin bercerita tentang bagaimana ketika saya pernah menjalani hubungan dalam kategori pernikahan. Saya Karina ( nama disamarkan)  bersuami bernama Andre (bukan nama sebenarnya) dengan jarak usia 7 tahun lebih tua dari saya. Pernikahan kami baru menginjak tahun pertama ketika itu. Seperti pengantin baru pada umumnya, hubungan kami selalu diwarnai cekcok karena masalah kecil.
Jujur, itu terjadi karena saya adalah tipe orang yang selalu curiga pada pasangan dan berlebihan merasa takut kehilangan. Sifat ini membuat saya selalu tidak mempercayai apa yang dilakukan pasangan saya. Saya selalu lakukan mengecek handphone Andre, berikut semua pesan dalam inbox setiap sosmed miliknya. Dan jika menurut saya ada sesuatu yang janggal saya akan langsung marah tanpa berasalan. Hasilnya kami selalu cekcok. Meskipun demikian saat itu Andre tetap menerima sifat saya itu, mungkin karena dia jauh lebih dewasa dan juga tetap mencoba mengerti saya.
Tetapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Di usia pernikahan memasuki 3 tahun, hal yang saya takutkan pun terjadi, Andre mengkhianati saya. Ini terbukti karena pada saat kami sedang pergi untuk makan malam bersama, seperti biasa saya melakukan kembali tindakan meng’audit’ handphone Andre, dan menemukan pesan inbox dari nomor tanpa nama dengan kata-kata mesra khas orang pacaran pada umumnya. Saat itu kepala saya seperti dilempari batu, pusing. Saya tidak menyangka sama sekali. Tanpa bertanya pada Andre, saya diam- diam mencari tahu siapa pemilik nomor tersebut, mencari tahu ada apa antara pemilik nomor tersebut dengan Andre. Hingga akhirnya terbukti, pemilik nomor itu adalah mantan kekasihnya yang memang sedang dekat kembali.
Saya yang waktu itu masih muda menjadi sangat terluka. Terlebih ketika itu saya dalam keadaan mengandung. Karena sudah tidak tahan, dengan kemarahan yang terpendam akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepada Andre. Seperti yang sudah ditebak, timbullah cekcok. Andre berkata itu terjadi karena dirinya terlalu jenuh dengan sikap saya yang selalu menaruh curiga terhadapnya dan selalu memperlakukan dia sebagai ‘milik’ nya seutuhnya.
Saat itu saya tetap tidak terima. Saya masih merasa saya justru ‘korban”.. Terlebih dengan keadaan saya yang kala itu tengah mengandung. Hingga akhirnya perpisahan pun tak terelakkan, Andre sudah sangat tidak tahan pada pertengkaran yang terus terjadi dan saya pun sudah sangat lelah. Namun meskipun berpisah Andre tetap bertanggung jawab dengan membiayai kebutuhan saya selama mengandung. Sayangnya, karena stress dan lain sebagainya kandungan saya pun bermasalah di usia 5 bulan. Baayi yang saya kandung meninggal dan harus dilahirkan segera. Bagaimana keadaan saya saat itu? Tentu sangat down, dan putus asa. Saya seperti hilang arah. Sudah kehilangan lelaki yang saya cintai, mengapa saya juga harus kehilangan anak yang telah sangat saya tunggu-tunggu kehadirannya. Dalam masa berkabung yang cukup lama saya rutin berkonsultasi pada psikolog atas saran kelurga.
Setelah kejadian yang bertubi-tubi itu akhirnya saya mencoba menerima semuanya dengan hati yang ikhlas. Saya  lebih mengintrospeksi diri. Saya mereka ulang kejadian-kejadian yang menimpa diri saya selama ini. Dan saya menyadari bahwa kebiasaan saya selama ini dalam menjalin hubungan adalah salah. Psikolog yang rutin saya datangi berkata kepada saya “Faktor terjadi perpisahan ini mungkin juga salah satunya ada di pola pikir kamu. Meskipun kamu dikhianati, coba kaji ulang darimana semua ini bermula? Kesalahan tidak sepenuhnya ada pada pasangan kamu. Karena memang betul, jika kamu selalu menaruh rasa curiga terhadap pasangan, mungkin pasanganmu akan sangat amat jenuh dan berujung melepas kesetiaan yang dia jaga karena selalu merasa tidak bebas.”
Akhirnya saya memutuskan untuk bangkit dan memperbaiki diri, sekaligus memutuskan untuk membuang sifat-sifat buruk yang sebelumnya ada pada diri saya. Saya sadar, kebiasaan memperlakukan pasangan sebagai hanya ‘milik saya” itu salah, seolah-olah saya kurang mempercayai kesetiaan pasangan saya. Selama itu saya menginginkan seluruh waktu pasangan hanya untuk saya,  padahal jelas-jelas pasangan saya memiliki waktu sendiri untuk hobby, untuk keluarganya, dan untuk teman-temannya.
Saat ini hubungan saya dengan mantan pasangan telah membaik. Kami berdua saling memaafkan dan memutuskan untuk menjadi teman baik. Dan tentunya seiring bertambahnya usia banyak pula perubahan positif yang terjadi. Saya kini mampu menjadi wanita yang lebih bijaksana dalam mengontrol emosi, tidak lagi gampang ngambek, menangis, mengeluh, bisa  mengurangi sifat curiga yang berlebihan dan rasa ingin tahu yang kelewat batas. Ladies, dalam sebuah hubungan Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya.
Ladies, jagalah kesetiaan di dalam diri kita atau kesetiaan pasangan kita dengan menjadi orang yang lebih bijaksana dan menjaga privasi masing-masing. Ingat, di dalam pernikahan pun, kita tidak bisa mengatur segalanya sesuai kehendak kita. Saling menghargai adalah salah satu pondasi kokohnya sebuah hubungan.
Love will always find a way”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu