Saya Berani Menerjang Badai

Inspirasi Hati, Kisah Utama

Halo, saya Terry, umur 36 tahun. Saya ingin sedikit berbagi pengalaman tentang bagaimana saya bangkit dan memilih keputusan yang berat namun membawa kebaikan bagi saya.

Sebelum menikah saya bekerja di bidang akunting. Cukup panjang proses yang saya lewati sampai saya lumayan mantap di bidang ini. Pada usia 27 tahun saya dijodohkan oleh kedua orangtua  dengan anak sahabat ayah saya. Rio namanya, seorang pengusaha tekstil. Jarak usia kami 4 tahun. Sebelum saya menikah sempat ada pertentangan antara saya dengan orangtua karena saya tidak mau dijodohkan. Terlebih lagi karier saya sedang berada di puncak. Namun saya tidak sanggup melawan kehendak orangtua karena memang sejak kecil dididik untuk selalu menaati kata-kata dan pilihan orangtua.

Seperti pasutri yang lain di awal pernikahan kami semuanya berjalan baik-baik saja. Meskipun kami menikah karena perjodohan namun Rio memperlakukan saya sebagai istri dengan selayaknya. Saat itu saya putuskan untuk belajar menjadi istri yang baik dan bijaksana. Sejak menikah kami pindah ke Bandung tempat suami saya menjalankan usahanya. Saya pun tidak lagi bekerja dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Mulai memasuki tahun ke-3 pernikahan kami satu-satu masalah mulai datang. Ketika anak pertama lahir saya merasakan perilaku Rio mulai berubah,  menjadi sedikit emosian dan sering pulang terlambat. Hal ini terus berlanjut sampai masuk tahun ke-5. Saat itu timbul banyak pertanyaan dalam benak, mengapa suami saya bisa berubah seperti ini? Secara harafiah Rio masih tetap menafkahi kami dan kebutuhan biologis kami berdua pun masih seperti biasa. Namun perubahan sikap Rio sangat saya rasakan. Semua berjalan seakan saya hanya sebagai seorang istri dan ibu yang memang dibutuhkan karena “keadaan”. Tidak ada lagi obrolan hangat, tidak ada lagi rencana-rencana bagi keluarga kecil kami. 

Selama dua tahun saya menahan luka di hati. Pernah saya bercerita kepada kakak saya namun yang saya dapat justru hal-hal yang membuat saya semakin berkecil hati. Saya disarankan untuk tetap bertahan. Perceraian di dalam keluarga besar saya merupakan hal yang sangat dibenci. Posisi saya menjadi serba salah. Saya juga ikut berubah. Saya jadi sulit tidur, sulit makan,  sehingga berat badan turun drastis. 

Namun seperti bom waktu perasaan yang sudah saya tahan selama itu akhirnya meledak. Saya mendapati Rio memiliki wanita lain yang tidak lain tidak bukan adalah mantan kekasih saat mereka masih mengambil program master. Saya hancur dan seperti tidak ada harganya di mata suami. Sejak kapankah hubungan itu terjadi? Apa saya yang terlalu bodoh sampai tidak mengetahuinya?  Pertengkaran hebat terjadi di antara kami, saya yang sudah meledak hanya bisa memaki dan berteriak-teriak. Saya yang sabar, saya yang penurut tidak ada lagi pada waktu itu. Rio mengaku bahwa mereka telah berhubungan selama satu tahun setelah pertemuan tidak terduga mereka. Hubungan yang dahulu sudah jauh dan mereka memang berencana untuk menikah gagal terlaksana karena Rio dijodohkan dengan saya. Setelah mendengar pengakuan itu kami lantas memutuskan untuk mengambil waktu guna memikirkan semuanya dengan kepala dingin. 

Akhirnya kami sepakat untuk berpisah, setelah banyak hal saya pikirkan matang-matang, setelah saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan dan meminta petunjukNya. Saya berani mengambil keputusan terbesar dalam hidup saya. Saya meyakini meskipun sedih namun keputusan itu adalah jalan terbaik dari yang terburuk. Perceraian terjadi, saya resmi menjanda dengan 1 orang anak. Semula keluarga saya tidak menerima keptusan cerai itu, namun saya percaya itu semua akan terlewati, dan saya percaya Tuhan akan selalu ada untuk saya dan anak saya.

Pelajaran saya dapatkan adalah:

  1. Akan Ada Waktu Kita Memahami Semuanya
    Sedih? Kecewa? Marah? Menyesal? Terima saja semua emosi itu. Lampiaskan seluruh emosi yang dirasakan sambil tetap ingat untuk tetap menjaga akal sehat. Pada waktunya kita akan mengerti dan memahami semua yang terjadi. Persoalan jodoh bisa terkesan rumit. Mungkin jodoh saya dan mantan suami hanya sampai di situ. Namun, yang tak disangka-sangka, saya juga menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak karena pengalaman itu.
  2. Menyimpan Dendam Itu Ibarat Menggenggam Bara
    Meski tersakiti dan merasa hanya seorang diri saya tetap belajar untuk tidak menyimpan dendam kepada siapapun. Ladies, percayalah, menyimpan dendam itu seperti menggenggam bara. Semakin kuat kamu menggenggamnya, semakin tersiksa dirimu nantinya. Kuncinya adalah “ikhlas”. Memang berat, Ladies, namun yang saya lakukan hanya menikmati semua proses hingga pada waktunya saya bisa berkata bahwa semua telah baik-baik saja.
  3. Selalu bersyukur atas kegagalan dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup yang berharga. Bersyukur adalah cara paling indah untuk berterimakasih pada Sang Pencipta atas apa yang kita terima di dunia ini. Jangan pernah ciut dan putus asa ketika kegagalan menimpa.  Tak ada yang sia-sia jika kita mau bersyukur dan mengambil intisari setiap polemik hidup yang kita hadapi. Saya percaya Tuhan memberi saya ujian bukan untuk membuat saya terpuruk, namun agar bahu saya semakin kuat dan kokoh, sehingga tak goyah ketika diterpa angin badai.

Saat ini kehidupan saya sudah jauh lebih baik. Buah dari berani mengambil keputusan untuk tetap melangkah mulai saya rasakan satu persatu. Saya bisa kembali bekerja dan mulai kembali menata masa depan.  Anak saya tumbuh sehat dan cerdas, saya sudah kembali kepada keluarga saya seutuhnya. Kami saling memaafkan dan belajar bahwa di dalam hidup ini selalu ada pilihan dan tanggung jawab. Mungkin saat ini saya sendirian berjuang hidup bersama anak saya  namun saya tidak gentar karena saya percaya bisa melewatinya. Menjadi single parent bukan berarti saya tidak bisa menjadi seorang ibu yang kuat. Jadikan Tuhan sebagai tempat mengadu dan berserah, niscaya segala pilihan yang telah berani kita ambil akan berbuah manis.

Ladies, memilih dan dipilih adalah bagian dari kehidupan. Jadilah perempuan yang cerdas karena pilihanmu. Hidup adalah pilihan yang berkelanjutan. Pada setiap jengkal waktu yang bergulir kamu dihadapkan pada keputusan. Jangan takut untuk mengambil keputusan sekali pun berat karena percayalah akan selalu ada pelangi sehabis badai. 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu