LIFE IS SO GREAT WITH(OUT) YOU

Life Is So Great With(out) You

Inspirasi Hati

Pada suatu hari seorang kawan menelepon pukul satu dini hari, dengan suara bergetar dia cerita baru putus. Hubungan diselesaikan singkat saja melalui WhatsApp oleh kekasihnya, tak lama setelah kawan saya mengucapkan selamat ulang tahun pukul 12. Begitu datar, tanpa drama, bahkan tanpa alasan yang “memuaskan”. Putus yang didasari pada “aku sudah tidak nyaman, hidupku tidak lagi menyenangkan dan itu membuatku tidak tenang.”

Saat itu, menurut ceritanya, kawan saya hanya diam. Pesan dibaca tanpa dibalas. Dia kehilangan arah seketika. Dunia berputar tanpa bisa dicegah. Hollow. Pukul 12 yang dinanti, disiapkan baik-baik demi jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun, berakhir dengan perih yang menggigit. 

Di ujung hening yang panjang, hanya sesekali suara ingus ditarik, kawan saya lirih berkata, “Padahal aku sudah siap melamarnya. She’s my universe. Aku nggak tahu lagi harus hidup dengan cara apa tanpanya…”

 Ya, teman saya itu laki-laki. Cukup matang, karier bagus, bukan player, hidup lurus macam jalan tol, pandai menabung, mapan, dan, oh, good looking. Dia pun bukan tipe drama yang mempersoalkan hal (yang dianggapnya) kecil. Tahu kapan harus menampilkan ego kapan tidak. Terlalu sempurna sih. 

Mengingat dia menganggap serius sebuah hubungan, never playing around, maka hubungan cintanya ini adalah penting. Pakai banget. Tapi… saya tidak menduga dia akan menelepon saya, dini hari, dengan suara bergetar menahan tangis. 

Mendadak kehilangan pasangan, rasa yang menghantam terasa sama bagi perempuan maupun laki-laki. Sama-sama terpuruk, dada nyeri ingin tumpah dalam tangis.

Saya hanya mendengarkan, lalu menyuruhnya tidur setelah sambungan telepon yang lebih banyak diam itu berjalan satu jam lebih sedikit. 

Pasca putus, yang diperlukan hanya telinga, bukan nasihat, kan? Saya tahu persis karena saya pernah diputusin. Dua kali. Keduanya setelah pacaran selama 2,5 tahun. Bayangkan, saya pernah buang waktu lima tahun!

Eh, sebentar. Apa iya saya buang waktu lima tahun? Tidak. Saya dua kali “pindah sekolah” selama lima tahun itu. Setelah “lulus” dari dua “sekolah”, saya dipaksa mengerti bahwa saya tidak perlu siapa pun untuk bisa merasakan cinta, untuk bisa bahagia. 

Tapi rupanya sekolah itu tidak cukup. Setelah pernah mengalami bercerai, saya tuntas menyelesaikan kurikulum percintaan. Ternyata, bukan saya tidak perlu siapa pun untuk bisa merasakan cinta dan bahagia, melainkan saya perlu mengenal diri sendiri dulu untuk bisa dapat bonus cinta dan bahagia. 

Kita, saya, seringkali memutuskan sesuatu berdasarkan “seharusnya” begitu. Contoh: memangnya kita harus sarapan pada pagi hari? Haruskah kita tidur lagi ketika terbangun pada dini hari? Kedua hal itu bisa dijawab “tidak”, tergantung kita sedang punya prinsip apa. Sarapan pada pagi hari tidak dilakukan oleh orang yang menjalankan intermittent fasting (mengosongkan perut selama 16 jam). Bagi orang dengan kepercayaan tertentu, terbangun pada dini hari adalah pertanda dia perlu beribadah khusus. 

Apakah kedua hal tersebut bisa diterapkan pada orang lain? Tidak. Karena setiap orang punya prinsip hidupnya sendiri. Dari mana prinsip hidup itu diyakini lalu dijalankan? Dari pengenalan diri sedalamnya, menekuni pemahaman spiritual, serta mereguk pengetahuan dengan rasa haus tiada putus. 

Mengenali diri sendiri dengan baik (dan jujur!) adalah pintu masuk menuju gerbang prinsip hidup. Di dalamnyalah kita akan mendapatkan inner peace. Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan. Segala gagal dan berhasil hanyalah bagian dari perjalanan. Mengenal diri sendiri, berarti kita tahu bagaimana caranya bangkit dari jatuh. Termasuk dari putus. 

Sehingga, laki-laki bukanlah patokan kebahagiaan kita. Laki adalah pelengkap. Seperti 4 sehat 5 sempurna. Ada empat, hidup kita akan sehat dan baik-baik saja. Bila ada yang kelima, hidup kita sempurna. Meski, ada penelitian terbaru bahwa teori 4 sehat 5 sempurna itu perlu dipertanyakan. Sebab, susu ternyata tak berpengaruh banyak pada kesehatan kita. Haha. 

Kitalah yang menentukan ketenangan dan keamanan diri sendiri. Sebaiknya tak tergantung pada siapa pun. Begitu kita tergantung, maka kita tidak akan sempat jadi diri sendiri. Terlalu sibuk khawatir. Dan berujung tak kunjung punya prinsip.

Apakah kita perlu pria untuk membuat hidup kita tenang dan bahagia? Boleh saja. Tapi toh menu nasi bisa digantikan oleh karbo yang lain, kan? 

Selamat hari ini! (*)

Sumber: Candra Widanarko

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu