Mama sakit keras

Mama Sakit Keras, Aku Berusaha Bersabar Merawat dan Mendengar Keluhannya

Kisah Utama

Urbanwomen –

Aku anak tunggal, ayahku meninggal dunia ketika aku masih balita. Bersama ibuku aku tinggal dengan pamanku sekeluarga dan kakekku. Kami serba kekurangan. Mama anak perempuan satu-satunya, mengurus keluarga, rumah tangga, dan mengurus kakekku.  Ketika menikah lagi, kakekku pindah dari rumah. Pamanku, yang sering mabuk-mabukan, memilih tetap tinggal. Ibuku mencari kontrakan untuk kami tinggali berdua saja. 

Mama mulai sering sakit-sakitan. Semula hanya sakit biasa, seperti batuk dan demam. Karena tak punya biaya Mama hanya minum obat warung. Merawat Mama ketika usiaku masih sangat muda tidak mudah. Sepulang sekolah aku mampir ke rumah sanak saudaraku minta lauk untuk makan. Mama mengeluh  kenapa dia harus sakit-sakitan. Mau aku berusaha untuk mendengarkannya dan menjawab dengan lembut agar tidak menyakiti hatinya. Aku paham, perasaan seseorang ketika sedang sakit menjadi sensitif. Mama pernah memarahiku karena pulang terlambat, padahal aku mengambil lauk-pauk di rumah saudaraku.  

Karena sibuk merawat Mama aku sempat dua tahun berhenti sekolah saat masih SD. Aku juga tidak punya banyak teman, banyak yang bicara buruk tentang diriku karena punya ibu yang sakit-sakitan. Mama sering bicara sendiri, dan terlihat oleh tetangga yang lantas menggosip. Aku pernah merasa Mama adalah beban bagiku. Aku malu punya ibu yang sering bicara sendiri.  Mama sulit mendapat pekerjaan karena banyak omongan buruk tentangnya. 

Baca Juga: Berbagai Cara Ungkapkan Cinta Pada Keluarga

Akhirnya ada saudara membantu biaya hidup kami. Aku melanjutkan sekolah, sambil tetap merawat Mama. Hingga satu hari seorang tetangga datang ke sekolahku memberi kabar Mama masuk rumah sakit. Penyakitnya komplikasi, ada gangguan paru, lambung, dan masih banyak lagi. Aku tetap merawatnya di rumah sakit, termasuk membersihkan kotoran dan muntahannya. Sulit sekali membujuknya untuk rajin minum obat, bahkan dia sering marah-marah karena tidak betah. Kesabaranku diuji, tapi aku berusaha tidak marah dan bicara perlahan-lahan agar Mama mau minum obat. Hanya dirawat selama 2 hari, Mama meninggal dunia. Ketika itu usiaku 15 tahun. 

Sekarang aku tinggal bersama saudara. Masih banyak orang dan saudara yang peduli dan sering membantuku. Aku berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMK dan bekerja.

Selagi masih memiliki orangtua, berusahalah untuk tetap merawat dan menjaga hubungan baik dengan mereka. Kita tidak pernah tahu sampai di usia berapa kita bisa merawat dan menjaga mereka. Jika orangtua sakit, luangkanlah waktu sebanyak mungkin sebagai penyemangat dan obat sakit untuk mereka. Hargai orangtuamu selagi mereka masih ada.

Sumber: Mirani, 21 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu