Masa-Laluku-Menjadi-Alasannya-untuk-Berbuat-Seenaknya-Padaku

Masa Laluku Menjadi Alasannya untuk Berbuat Seenaknya Padaku

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Nabila, 28 tahun, freelancer di Jakarta. Aku tidak pernah menyangka bakal pernah mengalami hubungan yang toxic selama bertahun-tahun

Baru 2 bulan berhubungan, pacarku ketika itu tiba-tiba menerorku. Dia mengancam akan menyebarkan foto-foto vulgar kami, padahal dia sendiri tidak punya. Memang beberapa kali aku melakukan hubungan intim dengan seseorang sebelumnya. Tanpa sengaja, pacarku tahu. Dia sangat kecewa, padahal itu masa laluku. Dia lantas menjadi cepat marah dan sikapnya dingin. Aku terus minta maaf semenjak kejadian itu. Aku merasa Tuhan tidak adil memberikan seorang laki-laki baik-baik untuk perempuan kotor seperti diriku. Aku selalu menyalahkan diri sendiri atas kesalahan di masa laluku itu.

Mulailah muncul berbagai larangan. Aku tidak boleh berorganisasi di kampus, harus pulang sebelum jam 5 sore, tidak boleh main bareng teman-teman, dan lain-lain. Bodohnya, kuturuti semua keinginannya yang tidak masuk akal itu. Aku sendiri  tidak pernah sekalipun melarang nya dan tidak pernah bisa. Menurutnya, derajatku di bawahnya. Bagi dia perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Aku diam saja waktu itu, selalu menghindari pertengkaran.

Dia tidak pernah merasa bersalah, berbuat seenaknya. Dia berfoto dengan teman-teman perempuannya. Dia bebas melakukan apapun yang aku tidak boleh lakukan. Aku jadi sering menangis, murung, mudah marah, dan overthinking. Selama dengannya, aku tidak punya teman. Hanya dia yang aku punya. Beberapa kali aku coba mengutarakan apa yang membuatku tidak nyaman dalam hubungan itu. Tapi dia selalu menyalahkan saja.  Kalau aku tidak mau menuruti larangannya dia akan menyuruhku pergi. 

Keluargaku tidak tahu. Jujur, aku takut berterus terang. Rasa takut kehilangan dan kesepian lebih besar saat itu. Tiap kali dia marah aku sangat khawatir dan merasa sangat bersalah. Dia sering sekali berkata-kata kasar, dan menghina keluargaku. Padahal keluargaku sangat baik padanya. Setelah 5 tahun berpacaran aku tidak tahan lagi.  Sampai ibuku tahu. Beruntungnya, ibuku tidak menghakimi. Ibuku mendengarkan semua keluh kesahku, memberi masukan bahwa laki-laki yang baik akan menghormati kita, tidak akan berbuat kasar. 

Baca Juga: Belajar dari Film Story of Kale : Apakah Hubungan Cintamu Sudah Sehat?

Aku mulai berpikir dan bertanya pada diri sendiri, apakah aku bahagia dengannya, apakah aku yakin mau menikah dengannya. Akhirnya kuputuskan hubungan kami. Sungguh aku hanya buang-buang waktu saja. Aku mulai dengan mencintai diri sendiri, melakukan hal yang aku suka. Membangun hubungan kembali dengan teman, dan memperkuat ibadah. 

Ibuku terus mendampingiku, sampai memastikan hidupku kembali normal seperti dulu dan bahagia. Ibuku juga meyakinkanku, bahwa kelak aku akan menemukan laki-laki yang jauh lebih baik. Belajar untuk menerima dan mengikhlaskan. Jangan terpaku dengan kenangan manis. Masih banyak laki-laki di luar sana yang akan menyayangi kamu, dan memperjuangkan kamu seutuhnya.

Sumber: Nabila, nama disamarkan, 28 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu