Melajang atau Menikah Bukan Masalah

Melajang atau Menikah Bukan Masalah

Keluarga

Tuhan memberi cobaan demi cobaan agar umatnya menjadi kuat, bersabar, senantiasa bersyukur, dan bisa memetik hikmah. Tak terkecuali kepada keluargaku. 

Aku dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Adikku penyandang Down Syndrome dengan gangguan penglihatan pada mata kirinya. Sejak lama aku menyaksikan bagaimana orangtuaku dengan kasih sayang merawatnya. Dan itu pula yang membuatku mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup.

Aku masih lajang di usiaku yang sudah menginjak 41 tahun. Berprofesi sebagai dokter spesialis mata aku menangani banyak pasien di dua tempat praktik. Hari-hariku diisi pekerjaan dan mengurus adik serta ibuku. Sepeninggal ayahku, kami hidup bertiga. Selain itu aku banyak menghabiskan waktu menekuni hobi olahraga, meracik kopi untuk orang-orang terdekat, bermain musik, dan membaca buku, atau melakukan kegiatan domestik lainnya. Tak ada waktu bagiku untuk mencari pasangan hidup. Dan entah mengapa aku juga tidak begitu tertarik. 

Tidak banyak yang tahu, alasanku menjadi dokter spesialis mata adalah agar aku bisa menyembuhkan penglihatan adikku. Aku melakukan banyak penelitian ke beberapa negara di Asia untuk memperdalam spesialisasiku. Namun aku tetap gagal menyembuhkan adikku. Gangguan penglihatan pada matanya merupakan kelainan bawaan yang terjadi saat dia dalam kandungan. Aku sempat merasa segalanya sia-sia, tapi akhirnya sadar tidak ada yang sia-sia apalagi ilmu. 

Sejak lama aku merasa bertanggung jawab pada adikku. Aku ingin sekali berbuat sesuatu untuk membantunya meraih kebahagiaan. Apa daya, aku manusia biasa dengan banyak keterbatasan. Jauh di lubuk hati aku merasa ingin mendedikasikan hidup untuk menjaga adikku saja. Sejauh ini aku belum bisa menemukan laki-laki yang benar-benar peduli pada adikku. Dan jika aku menikah dan ibu sudah tiada tidak ada orang yang bisa menjaga adikku. 

Aku ingat sewaktu aku kecil ibuku menitipkan pesan padaku untuk menjaga adik. Sejak saat itu aku berjanji pada diri sendiri untuk menjaganya. Sulit menemukan pendamping yang tepat untuk adikku, dan sulit juga bagiku mendapatkan pendamping yang bisa mengerti keadaanku. Terlebih jika nanti menikah dan mempunyai anak aku akan kesulitan mengurus adikku secara langsung. Aku tak bisa mempercayakan adikku diurus oleh orang lain, karena selama ini ibuku merawatnya sendiri dengan hati-hati. 

Kunikmati seluruh waktu yang kucurahkan untuk ibuku dan adikku. Ibuku telah memasuki usia senja dan hidup tanpa ayahku. Aku pun tak ingin melihatnya kecewa dan kewalahan mengurus adikku sendirian. Aku belum mengambil keputusan untuk hidup sendiri, tapi kalaupun tidak menemukan pria yang mampu menerima aku dan adikku, aku sama sekali tidak keberatan hidup terus melajang. Aku bisa berjuang meraih kebahagiaan yang lain dengan tanganku, tapi adikku tak berdaya untuk itu. Aku ingin menjadi tangan yang memberi kebahagiaan padanya meski tak sempurna. Aku akan merasa bahagia, bila terus bisa menjaganya. Adikku sama sekali bukan beban, namun keajaiban dalam keluarga kami.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu