berdiskusi sebelum menikah

Melewatkan Diskusi Sebelum Menikah, Rumah Tanggaku Hancur Berantakan

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku bercerai karena suami tidak berpenghasilan sama sekali dan pemalas. Suamiku pernah punya karier bagus dengan jabatan yang cukup tinggi sebelum menikah.  Saat itu kami hanya bermodalkan yakin dan sudah merasa cocok satu sama lain. Tapi itu tidak cukup untuk membangun rumah tangga harmonis.

Kami bertemu di kantor yang sama, pacaran beberapa bulan saja sebelum memutuskan untuk menikah. Memang ada peraturan di perusahaan bahwa suami-istri tidak boleh satu kantor. Karena banyak yang membicarakan kami, aku jadi tidak nyaman. Aku mengatakan pada suamiku bagaimana kalau aku mengurus anak saja dan berhenti bekerja. Tapi dia bersikeras menyuruhku tetap bekerja dan dialah yang mengundurkan diri. 

Aku sempat bingung kenapa semuanya dibebankan kepadaku. Semua hal penting terkait keuangan baru kami bicarakan setelah menikah. Keuangan menjadi berantakan. Apalagi suamiku agak sulit diajak berdiskusi soal itu. Seolah-olah dia menyerahkan semuanya padaku. Aku mengalah, sambil tetap mencoba berpikir positif, mungkin dia akan segera mendapatkan pekerjaan di tempat lain, tidak lama menganggur.

Namun setelah resign beberapa minggu dia seperti tidak ada niat mencari kerja. Sementara kebutuhan kami tidak sedikit. Awalnya suami beralasan tidak punya laptop dan meja kerja yang membuatnya tidak semangat mencari pekerjaan. Aku turuti semua keinginannya, membelikan meja kerja dan laptop agar dia bersemangat mengirim surat lamaran. Tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Saat aku bekerja, dia hanya santai di rumah. Tak masalah bagiku jika dia harus berjualan makanan di depan rumah, asalkan ada pemasukan dan dia tidak bermalas-malasan. Tapi tetap saja, tiap kali aku bicarakan hal ini dia justru sangat marah dan membentak-bentak. Karena kami masih punya cicilan sementara dia belum bekerja, terpaksa dia jual motornya. Aku sempat memberi saran, menggunakan sebagian hasil jualan motor untuk usaha kecil-kecilan. Tapi dia acuh tak acuh.  Tiap kali orangtuaku bertanya apakah suamiku sudah mendapat pekerjaan, aku selalu menutupi dengan alasan masih dalam tahap interview

Memasuki 5 tahun pernikahan kami, suamiku tetap tidak berubah. Aku seperti hidup sendiri, tidak ada bedanya sebelum dan setelah menikah. Tekadku bulat untuk minta cerai, aku tidak ingin dia terus mengandalkan diriku. Berbagai usaha sudah kulakukan, hampir setiap hari kuberi dia masukan tapi dia tetap tidak berubah. Ketika aku minta ceraidia memohon-mohon, berjanji tidak akan malas lagi dan segera mencari pekerjaan. Sempat kuberi dia kesempatan, tapi dia selalu asyik dengan handphone-nya, main game, santai di rumah. Aku memang harus meninggalkannya. Aku sudah terbebani dengan ekonomi, mengurus anak, dan lelah melihat tingkah lakunya setiap hari. 

Baca Juga: Menikah di Usia 29 Tahun, Tidak Terlalu Tua?

Ya, pernikahanku berujung pada perceraian karena kami tidak punya persiapan yang cukup sebelum menikah. Terutama kesiapan mental dan keuangan. Banyak yang menyalahkan diriku karena bercerai, tapi mereka tidak tahu seperti apa rasanya berada di posisiku saat itu. 

Jangan jadikan laki-laki pemalas sebagai suami. Carilah pasangan yang mandiri, yang mampu bertanggung jawab atas keluarganya dan dirinya sendiri.

Sumber: Nurul, nama disamarkan, 40 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu