pernikahan toxic

Mempertahankan Toxic Relationship Hingga ke Pernikahan, Diriku Tak Bahagia

Kisah Utama

Urbanwomen – Namaku Tata, 28 tahun, ibu rumah tangga, di Nganjuk. Memang benar ketika berpacaran menjadi kesempatan untuk kita memperhatikan sikap dan karakter pasangan. Bila hubungan sudah toxic sejak awal lebih baik tidak perlu dilanjutkan. Seperti kisahku, sejak awal sudah menunjukan bahwa hubungan yang aku jalani tidak sehat tapi tetap dilanjutkan hingga ke pernikahan. Aku memutuskan menikah muda waktu itu. Saat pacaran, dia sudah sering mengancam, melarangku berhubungan dengan siapapun termasuk sahabatku. Dia hanya ingin aku menghabiskan waktu dengannya saja. Karena aku mencintainya, aku menuruti semua keinginannya meskipun sebetulnya aku tidak setuju.

Selama menikah, aku menaruh kepercayaan penuh padanya dan selalu berusaha menjadi istri yang baik di tengah kesibukanku bekerja sambil mengurus anak. Saat dia sedang emosi, dia sangat kasar padaku. Mencubit hingga berdarah, menampar, menendang, dan memukul. Ada kebiasaan yang sampai saat ini tidak aku pahami. Tiap kali kami bertengkar, dia lari ke wanita lain untuk mengajaknya jalan-jalan, sekadar makan siang bersama, atau curhat.  Dibelakangku dia seperti itu. 

Setahun yang lalu, suami menyuruhku keluar dari pekerjaan karena dia sudah merasa cukup dengan materi yang kami miliki. Aku dimintanya pindah ke rumah orangtuanya di kampung. Padahal, gaji yang aku dapatkan saat itu sangat lumayan. Karirku di kantor juga cukup bagus untuk ukuran karyawan baru. Demi keluarga, aku rela melepaskan semua impianku. Tadinya, aku dan suami bekerja di Surabaya, anak di kampung bersama mertua. Setelah resign, aku diminta pulang ke kampung suami untuk menemani anak di sana. Akhirnya kami LDR.

Selama tinggal dengan mertua, aku mengalami banyak hal yang kurang menyenangkan. Karena mertuaku tidak setuju dengan keputusanku keluar dari pekerjaan. Aku dibanding-bandingkan, dikritik, diremehkan dan direndahkan. Ketika aku sakit, mertua juga tidak peduli. Dia hanya peduli pada anaknya. Setiap kali aku bercerita pada suami, aku dimarahi. Menganggap aku terlalu terbawa perasaan, tidak peduli dengan kondisi. Padahal, dia yang memintaku tinggal di sana. 

Sampai suatu hari, aku mendapati suamiku memposting foto bersama wanita. Jaraknya sangat dekat sekali sambil merangkulnya. Aku sangat down waktu itu. Kepercayaanku mulai terkikis. Perlahan, Tuhan membuka aibnya melalui banyak cara. Dia memanggil teman wanitanya dengan sebutan sayang, dan mengajak rekan kerjanya untuk menginap di kos-kosannya. Dia juga pernah mengajak wanita tunggal muda kaya raya untuk menjalin hubungan. Dia menghina dan menjelek-jelekan aku dan orangtuaku ke beberapa sahabatku. Bahkan memfitnah aku selingkuh. Yang tidak aku habis pikir lagi, dia mengatakan bahwa dia menyukai sahabatku sendiri. 

Memang, aku bukan berasal dari keluarga berada. Beberapa kali orang tuaku meminta bantuan finansial padaku dan suami sekitar 1 hingga 2 juta ketika kami juga mengalami kesulitan keuangan. Namun, itu hanya beberapa kali saja. Selama bekerja dulu, seluruh pendapatan yang aku punya aku berikan pada suami. Namun, semua aset kami atas nama suamiku. Tidak ada satupun atas namaku. Setiap dia marah karena orang tuaku meminta bantuan finansial, dia tak segan menghina aku dan orangtuaku. 

Menyakitkan sekali rasanya. Setelah memberikan semua yang aku punya, dia balas seperti itu. Dia tetap kasar padaku sampai menikah. Aku merasa kehilangan arah. Saat aku bilang padanya, kalau aku mengetahui semua kebohongannya dia berjanji akan berubah. Tapi nyatanya, dia sering mengunci hpnya. Namun, aku tidak bisa mengakhirinya. Aku ingin anakku hidup lengkap bersama ayah dan ibunya. Terlebih ayahku sakit stroke. 

Keputusan yang aku ambil saat ini adalah bertahan, sambil memperbaiki kondisi ini. Aku meminta bantuan profesional di bidang kejiwaan, mendekatkan diri pada Tuhan, mengasah skill menjadi freelancer, memperbaiki self esteem dan self love yang sudah hancur, dan mencoba menyembuhkan luka.

Baca Juga: Beberapa Film Ini Memotret Kekerasan Dalam Hubungan

Hati-hati dalam memutuskan untuk menikah. Jangan mudah terperdaya oleh kata-kata atau perlakukan manis pasangan kita. Sadar, dan segera ambil langkah untuk menjauh jika sudah terlihat salah satu tanda manipulatif atau gaslighting dari pasangan sebelum menuju ke jenjang pernikahan. Karena bercerai itu bukan keputusan yang mudah. Berikan pula batasan-batasan dalam hubunganmu. Jangan terus-menerus menuruti keinginan pasangan, karena itu bukan jaminan dia akan memperlakukanmu dengan baik.

Sumber: Tata, nama disamarkan, 28 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu