Memutuskan untuk Berpisah

Memutuskan untuk Berpisah

Keluarga

Kejadian ini berawal dari pertemuan kami yang sudah lama tak berjumpa. Dia teman SD. Sejak perjumpaan itu kami sering berkomunikasi dan semakin dekat. Kami pun berpacaran selama sebelum  memutuskan untuk menikah. 

Awalnya baik-baik saja, kami berusaha maju bersama sampai mampu membeli mobil. Rumah belum.  Ayahku yang sudah cukup tua dan sakit-sakitan mewariskan rumah untukku apabila suatu saat dia meninggal. Aku punya kakak perempuan yang juga sudah menikah dan tinggal bersama ayah kami. Kami pun tinggal di rumah ayahku.

Mulailah terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Secara tidak langsung beberapa kali suamiku mengusir keluarga kakakku, bertanya kepada mereka kapan mereka mau mencari rumah sendiri. Ya, rumah yang kami tinggali itu adalah warisan untukku, tapi tidak seharusnya suamiku bersikap seperti itu terhadap keluarga kakakku.

Suatu ketika ayahku sakit keras. Sebagai menantu, suamiku bukannya membantu. Dia  malah berkata  bahwa dia tidak ingin mengurus orangtua sakit. Aku sangat geram dan kaget bisa dia berkata seperti itu.

Tak lama, lahir anak kami. Kesakitan dalam proses melahirkan juga membuat suamiku bergeming. Katanya semua orang yang melahirkan pasti kesakitan.  

Sewaktu anak kami sudah cukup besar aku pun bekerja untuk membantu perekonomian kami. Pekerjaan suamiku serabutan, dan dia sering pulang lebih cepat. Tiap kali aku pulang kerja rumah selalu berantakan. Suamiku tidak ada niat membersihkan, walaupun hanya untuk mengelap air yang tumpah. Dari situ, kami sering bertengkar. Hingga suatu saat ketika kami bertengkar hebat dia menjatuhkan talak kepadaku. Kendati kemudian dia bilang sebetulnya itu hanya gertakan saja tapi aku percaya pada aturan agama tentang suami-istri. Kusetujui talaknya untuk bercerai setelah 10 tahun pernikahan kami.  Aku sudah sangat lelah, dan sudah selalu mencoba bersabar.  

Aku sendiri segera mengurus berkas perceraian. Setelah resmi bercerai aku memusatkan perhatian pada pekerjaan demi membesarkan anakku. Sebelumnya aku sudah membuka usaha katering, namun ketika kami masih menikah kateringku cukup sepi hingga akhirnya aku mencari pekerjaan lain. 

Ketika hidup tanpa dia, entah kenapa rezeki justru datang terus-menerus. Aku percaya Tuhan hanya membukakan pintu rezeki berlimpah bagi pernikahan yang harmonis. Aku giat bekerja, usaha kateringku ramai kembali, lancar sampai sekarang. Mantan suamiku pernah mengajak rujuk, kutolak karena tanpa dia aku sudah bahagia membesarkan anakku. Namun, biar bagaimanapun dia tetap ayah anakku. Aku membiarkannya bertemu anaknya sampai saat ini. (*) 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu