Menantikan Pasangan Terbaik dari Tuhan

Menantikan Pasangan Terbaik dari Tuhan

Kewanitaan

Pertanyaan kapan akan menikah kerap kali terlontar dari orang-orang terdekatku termasuk orangtua. Jika dulu risih dengan pertanyaan seperti itu, kini rasanya aku justru bisa lebih santai menanggapinya dan memandangnya sebagai perhatian kepadaku. Jadi kapan aku menikah? Aku sendiri belum tahu. 

Bukan tidak ingin segera menikah, namun nyatanya mencari pasangan yang tepat tidak semudah membalik telapak tangan. Aku memang pribadi yang cenderung pendiam dan tak mudah menaruh perasaan kepada seseorang sejak dulu. Terlebih sekarang, ketika usiaku sudah menginjak 27 tahun dan serius mencari pendamping hidup. Aku menjadi ekstra hati-hati dan malas membuang waktu bersama orang yang salah.

Selama ini aku memang memusatkan diri pada masa depan. Aku menjalani masa-masa sekolah dan kuliah dengan belajar serius hingga bisa lulus dengan predikat cumlaude. Setelah lulus pun aku tidak terlalu memikirkan harus mencari pasangan. Aku tekun membangun karier agar bisa membahagiakan kedua orangtua yang selalu menyayangiku,  hingga kini aku bisa bekerja di sister company sebuah decacorn terkenal di Indonesia.

Sebagai anak bungsu yang belum menikah dan masih tinggal dengan orangtua aku berusaha sebisa mungkin mengambil bagian dalam rumah tangga. Dibandingkan membeli barang-barang mewah aku lebih senang mengalokasikan gajiku untuk memberikan hadiah untuk orangtua, membiayai kebutuhan rumah tangga, dan juga renovasi rumah. Aku merasa bertanggung jawab untuk itu, mengingat kakak-kakakku sudah berkeluarga. 

Di sela-sela kesibukan aku lebih senang menghabiskan waktu dengan keluarga. Menemani Ibu berbelanja, memasak bersama, kumpul bersama, atau justru asyik dengan duniaku sendiri di kamar menonton drama Korea. Aku tidak punya banyak teman, terlebih teman laki-laki. Tetapi entah mengapa aku sama sekali tidak merasa kesepian. Aku merasa bahagia dengan kondisi ini. Bisa memberi waktu untuk diri sendiri dan keluarga, karena mereka sumber kebahagiaan terbesarku.

Bila diingat-ingat, aku hanya menjalin hubungan dengan dua atau tiga teman laki-laki saja seumur hidup. Ada yang baik, namun terlalu mengekang. Ada yang menarik, tapi kurang cocok pemikirannya. Ada pula yang menarik tapi berbeda keyakinan. Ya, begitulah kisah percintaanku selama ini. 

Di fase seperti ini sebenarnya tak banyak yang kuharapkan dari seorang laki-laki. Aku tidak mau berpacaran, aku ingin sekali menjalankan proses ta’aruf proses saling mengenal sesuai syariat Islam, dua orang belawanan jenis bertemu secara langsung namun harus didampingi oleh pihak ketiga, menjaga jarak, tidak boleh bersentuhan, bergandengan tangan, ikhtilath (bercampur antara laki-laki dan perempuan), hingga menjaga pandangan mata keduanya. 

Di masa itulah aku akan menilai apakah laki-laki itu memiliki pengetahuan serta mengamalkan ilmu agama dengan baik, sayang pada orangtuanya dan orangtuaku, serta memiliki pekerjaan tetap. Namun tak banyak laki-laki yang menyambut keinginanku itu. 

Walau begitu aku tetap pada pendirianku untuk mendapatkan pasangan melalui ta’aruf. Sebab aku yakin, bila aku menemukan pasangan dengan cara yang dianjurkan agama maka aku akan mendapatkan pasangan terbaik. Jika saat ini aku belum menemukan orang itu, artinya aku memang belum menemukan laki-laki terbaik untuk menjadi suamiku. Dan aku sama sekali tidak khawatir menunggu hari itu datang juga sambil terus berusaha lebih membuka diri.

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu