victim blaming

Mengapa Kita Sering Victim Blaming?

Inspirasi Hati

Urbanwomen –  Victim blaming atau menyalahkan korban adalah fenomena di mana korban kejahatan atau tragedi dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada diri mereka. Victim blaming sering terjadi pada korban kasus pelecehan dan kekerasan seksual di mana korban kejahatan sering dituduh mengundang serangan karena pakaian dan perilakunya, atau bahkan sering ditanya mengapa mereka tidak melawan.

Terus, kenapa sih masih banyak di antara kita yang sering victim blaming?

Hal tersebut terjadi karena kecenderungan untuk victim blaming mungkin sudah terprogram ke dalam pikiran manusia pada tingkat yang sangat mendasar. Victim blaming tidak selalu dengan menuduh korban dari kejahatan melakukan suatu tindakan yang menyebabkan mereka ditimpa musibah. Victim blaming bisa juga berupa pemikiran sederhana bahwa kamu akan lebih berhati-hati, menyiratkan bahwa kejadian tersebut setidaknya sebagian merupakan kesalahan korban karena tidak bisa menjaga diri sendiri. Contohnya saat kita mendengar ada kasus pelecehan di media sosial yang terjadi pada salah satu selebritas, pasti diantara kita setidaknya akan terbesit pikiran. Mungkin orang melakukan itu karena terundang setelah melihat salah satu postingannya di media sosial.

Seperti kasus yang terjadi pada via vallen, penyanyi Indonesia yang mendapat DM tidak pantas dari seorang pria. Namun saat ia menyuarakan kasus tersebut ke publik, masih banyak netizen yang justru menyalahkan gaya berpakaian dan kenapa ia mempublikasikan kasus tersebut.

victim blaming

sumber : https://www.boombastis.com/komentar-netizen-bahayakan-korban/163375

Kecenderungan untuk menyalahkan korban bisa memojokan para korban, membuat mental mereka semakin hancur, dan membuat orang cenderung tidak mau dan takut speak up dan melaporkan apa yang telah terjadi pada mereka. Meskipun beberapa contoh victim blaming berasal dari ketidaktahuan, kekejaman, atau rasa superioritas, tapi mungkin ada penyebab lain yang bahkan lebih terperinci. 

Secara khusus, psikolog percaya bahwa kecenderungan kita untuk victim blaming mungkin berasal dari kebutuhan mendalam untuk mempercayai bahwa dunia adalah tempat yang baik dan adil. Jika kita berlaku dengan baik dan seharusnya sesuai norma, pasti kejadian buruk tidak akan menimpa kita. Tapi kenapa tidak? Mengapa kamu berpikir tidak akan menghadapi peristiwa yang sama seperti orang lain, seperti para korban?

Menurut psikolog Universitas Massachusetts Ronnie Janoff-Bulman, kita dapat dengan mudah percaya pada kekebalan pribadi kita karena konsep pemikiran “memandang dunia dengan asumsi positif”. Pada tingkat tertentu, kebanyakan dari kita percaya bahwa dunia pada dasarnya baik, bahwa hal-hal baik terjadi pada orang baik, dan bahwa kita, untungnya, adalah orang baik. Dengan kata lain, kita percaya bahwa dunia pada umumnya adalah tempat yang adil.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh psikolog Melvin Lerner, Jika orang itu bisa menjadi korban pemerkosaan, pelecehan, perampokan, atau penyerangan, mungkin kita juga bisa. Jadi, untuk menghibur diri dalam menghadapi realitas yang mengganggu tersebut dan mempertahankan pandangan dunia yang baik, kita secara psikologis memisahkan diri dari korban. Dan mulai bertanya-tanya apakah dia telah melakukan sesuatu untuk mengundang tragedi itu. 

“Mungkin dia kena pelecehan karena mengenakan pakaian yang provokatif”

“Mungkin saja dia jadi korban dari kekerasan seksual karena pergaulannya terlalu bebas”

“Gak akan ada asap kan kalau gak ada api”

Bagaimanapun, dunia adalah tempat yang adil. Jadi jika seseorang mendapat musibah atau kejadian seperti itu berarti dia melakukan sesuatu yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Konsep ‘karma’ masih melekat dalam pikiran banyak orang. 

Baca Juga: Film Hope, Kisah Gadis Kecil Korban Kekerasan Seksual

Jadi, kecenderungan kita untuk victim blaming pada akhirnya adalah sebuah mekanisme perlindungan diri sendiri. Ini memungkinkan kita untuk mempertahankan pandangan dunia kita yang cerah dan meyakinkan diri kita sendiri bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada kita. Masalahnya adalah hal itu mengorbankan kesejahteraan orang lain. Dan ini membuat kita mengabaikan kenyataan bahwa yang seharusnya disalahkan adalah pelaku atas tindakan kejahatan dan kekerasan, bukan korban.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu