Pria terjebak dalam hubungan toxic

Mengubah Hubungan Toxic, Aku dan Dirinya berkomitmen untuk memperbaiki hubungan

Pandangan Pria

Urbanwomen – Aku Irwan, 23 tahun, karyawan swasta, di Jakarta. Sudah sekitar 2 tahun lebih aku menjalani hubungan dengan seorang wanita yang aku temui ketika kuliah. Di awal, hubungan kami sangat buruk, sering bertengkar hanya karena masalah sepele. Dia sangat posesif sering menuduhku melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan sama sekali. Seperti waktu itu, ketika aku sedang menjalani bisnis dan mantan gebetanku membelinya, pacarku marah dan melarang menemuinya. Padahal, aku dan dia hanya sekadar urusan bisnis.

Dia juga melarangku berteman dengan lawan jenis. Sering mencurigai aku berselingkuh, berpikir negatif tentang diriku. Hal ini membuat dia terus memantauku melalui aplikasi, sehingga dia tahu aku sedang berada di mana. Ketika aku bilang padanya ingin reunian, dia selalu bertanya dengan siapa saja, apakah ada teman wanitanya atau tidak. 

Awalnya aku selalu memakluminya. Apapun yang dia mau aku turuti. Tapi semakin lama lelah juga rasanya. Jika biasanya wanita memaksakan diri bertahan karena takut sendirian dan sudah terlanjur sayang, pada laki-laki juga bisa seperti itu. Bedanya, aku sebagai laki-laki tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Aku lebih menutup diri dan mencari solusinya sendiri.

Semua hal yang dia lakukan padaku, membuatku tidak nyaman. Sampai suatu ketika aku bertanya, kenapa dia seperti ini. Sementara aku tidak pernah melakukan hal yang dia pikirkan, seperti selingkuh atau membohonginya. Aku selalu berusaha untuk jujur, mengatakan semua yang aku lakukan, sangat terbuka padanya. Ya, ternyata alasannya karena masa lalunya yang sebenarnya belum selesai. Dia pernah diselingkuhi. Kejadian ini membuatnya trauma ketika menjalani hubungan dengan orang baru.

Aku ingin serius padanya, tidak ingin langsung menyudahi hubungan ini. Perlahan aku coba memperbaiki hubungan ini agar tidak toxic dan saling nyaman. Awalnya cukup sering berdebat, tidak aku turuti apa kemauannya, tapi dia mempunyai ‘jurus’ andalan setiap aku tidak melakukan yang dia mau seperti “ya, aku memang begini orangnya.” Seakan-akan aku harus menerima sikap dia yang seperti itu, menolak untuk berubah demi kebaikan hubungan ini. Justru dia menuntutku untuk selalu memberi kabar, mengirim foto untuk mengetahui aku sedang melakukan apa. Jika tidak, dia akan marah sekali menuduhku.

Setelah mencoba mengarahkan dia agar berubah namun belum ada perubahan, tetap aku tidak menyerah begitu saja. Aku coba cara lain, dengan sering mengajaknya deep talk. Mengarah pada topik pembicaraan yang lebih serius. Aku mengajaknya untuk membicarakan apa yang membuat dia tidak nyaman padaku, begitupun sebaliknya. Apa yang perlu aku dan dia ubah. Dia menanggapinya dengan baik, bahkan kita membicarakan semua masa lalu yang menjadi penyebab kenapa dia seperti itu. Aku juga yakinkan padanya bahwa aku tidak seperti yang dia pikirkan. Tidak ada niatan untuk mencari perempuan lain di belakangnya. Aku ingin hubungan ini langgeng sampai menikah.

Kenapa aku tetap bertahan dalam hubungan ini? Karena aku menemukan, pada dirinya ada sosok ibuku. Karakternya persis sekali ibuku.

Kebiasaan membahas topik yang lebih dalam dengannya aku lakukan sampai saat ini. Benar saja, semakin lama hubungan kita semakin membaik. Kini dia tidak mencurigai aku terus. Dia mulai memberi kepercayaan padaku. Mengerti bahwa hidupku bukan hanya tentang dirinya, tapi aku juga punya teman dan keluarga. Kini dia jauh lebih baik, meskipun memang untuk sampai ke tahap ini banyak sekali yang harus diperjuangkan terutama kesabaran membimbingnya. Dia juga tidak melarangku seperti dulu jika tidak sengaja bertemu dengan mantan gebetan. Dia semakin dewasa dan paham bahwa aku bukan laki-laki seperti masa lalunya. 

Karena hubunganku dengannya semakin baik, kini aku bisa semakin fokus bekerja, meningkatkan karir, mengumpulkan uang untuk menikah dengannya.

Baca Juga: Mempertahankan Toxic Relationship Hingga ke Pernikahan, Diriku Tak Bahagia

Butuh usaha lebih dan niat yang amat kuat untuk mengubah pasangan kita. Jika memang kita yakin dan ingin serius dengan pasangan, kita bisa memintanya berubah dengan menunjukan padanya bahwa kita memiliki empati, lebih pada mengajaknya bicara dan menunjukan pribadi yang hangat. Jelaskan dengan sabar dan tenang mengenai pengaruh sikapnya terhadap kamu dan juga hubungan. Tidak masalah harus bertengkar di awal demi membuat hubungan lebih sehat. Pahami, apakah hubungan masih bisa diperbaiki atau tidak.

Sumber: Irwan, nama disamarkan, 23 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu