Menikah Butuh Kesiapan Matang

Menikah Butuh Kesiapan Matang

Pandangan Pria

Hai Urbanesse, kali ini Urban Women berbincang dengan seorang laki-laki bernama Rota seputar tema bulan ini, “Bisa Hidup Aman dan Tenang, dengan atau  Tanpa Laki-laki”.  Kira-kira seperti apa ya pandangan Rota melihat perempuan yang sudah cukup umur dan berkecukupan tapi masih single atau belum menikah? Yuk, simak jawabannya.

Hmm… tak masalah.

Saya percaya setiap orang punya jalannya masing-masing. Saya tidak berpikir cewek yang masuk umur 25 atau sudah cukup umur dan masih single itu suatu masalah, atau keanehan, atau terlambat, atau apalah.

Saya pribadi pro orang-orang yang berprinsip bahwa seseorang harus mengenal calonnya luar- dalam sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Saya setuju dengan orang-orang yang benar-benar selektif memilih pasangan (Bukan berarti saya setuju dengan orang-orang yang terlalu pemilih dan tuntutannnya setinggi langit, ya…).

Saya belajar dari pengalaman keluarga, sepupu-sepupu, dan sahabat-sahabat saya, bahwa menikah itu butuh banyak pertimbangkan matang-matang, dinamis, dan ada banyak hal yang mungkin terjadi di tengah jalan nanti.

Tidak ada jaminan gebetan yang baik akan menjadi pacar yang baik. Tidak ada jaminan pacar yang baik akan menjadi tunangan yang baik. Tidak ada jaminan tunangan yang baik akan menjadi suami atau istri yang baik. Tidak ada jaminan suami-istri yang baik akan menjadi ayah-ibu yang baik bagi keturunannya kelak.

Dengan demikian tidak ada jaminan juga jika menikah awal akan bahagia. Kalau Anda tidak kenal betul-betul pasangan Anda, berhati-hatilah. Di bawah ini adalah contoh-contoh nyata dari orang-orang yang saya kenal, yang “kecolongan” :

  • Ibu dan ayah saya menjalani masa kenalan hanya hampir dua bulan. Pernikahan beliau-beliau atas dasar suka sama suka. Tidak ada catatan kejahatan di tangan ayah saya. Siapa sangka beberapa tahun setelah pernikahan, ayah saya membuat kesalahn.. Kecantol perempuan lain. Walaupun ayah saya sekarang sudah insyaf dan kembali menjadi seseorang yang bertanggung jawab untuk keluarga, poinnya adalah orang yang baik pun bisa “kecolongan”. Itulah mengapa saya sangat setuju pada perempuan yang berani menunda pernikahan kalau belum kenal calonnya luar-dalam. Soalnya kalau sudah begini yang rugi bukan hanya si perempuan, anak-anaknya juga ikutan kena getahnya.
  • Sifat misoginis ayah saya baru ketahuan setelah sepuluh tahun pernikahan. Suka tanam “saham” di mana-mana. Untung ibu saya super strong dan independen, bisa menjadi single-parent bagi dua anaknya, dan sangat berhasil mendidik dan merawat anak-anaknya. Ibu saya perempuan yang kuat. Tidak semua orang bisa menjadi seperti ibu saya. Yang keluarganya tambah berantakan ada, yang pribadinya sendiri jadi gila juga ada. Kalau kenal calonnya betul-betul, paling tidak ketika menemukan sifat buruk seperti ini, tahu prioritaslah, siapa yang harus diperjuangkan, apa yang harus dilakukan. Kalau main nikah aja? Yakin siap dengan yang seperti ini?

Intinya, laki-laki atau perempuan, sudah lebih dari 25 atau sebelum 25 atau pas 25 sekalian, kalau memang memilih untuk mempersiapkan diri baik-baik dari pada bertaruh masuk ke jenjang pernikahan, saya salut dan saya dukung.

Buat yang belum punya pacar tambah tidak ada masalah lagi. Pacaran juga tidak serumit pernikahan.

Lagian… kalau kita mau berpikir simpel… Orang belum ketemu jodohnya ya udah to… kenapa perlu di anggap ini dan itu, apalagi dipaksakan…

Jadi, poin saya disini adalah, jika ada wanita/pria yang memang belum “menemukan” pasangannya, sebaiknya kita tidak menggurui, mengucilkan, atau bahkan memaksakan kehendak untuk memasangkannya dengan seorang pria/wanita lain yang bukan pilihannya.

Sumber: Rota Pranata

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu