Menikah Itu Realitas, Bukan Hanya Bayangan

Cinta & Relasi

Bicara soal realita pernikahan, saya menikah di usia yang terbilang muda 24 tahun. Dulu, dalam pandangan saya, menikah adalah satu langkah mudah setelah kita menemukan pria yang ‘cocok’ atau istilahnya ‘the one’. Ternyata, pernikahan jauh lebih besar daripada yang saya kira..

Kira – kira, dulu gambaran pernikahan di kepala saya begini:

  1. Hidup dengan pasangan yang dicintai setiap hari, yeay!
  2. Bebas dari omelan orangtua & bisa menentukan arah kehidupan sendiri.
  3. Kalau soal kerjaan atau rejeki, bisa dicari berdua lah.. Yang penting bebas dulu rasanya.
  4. Tidak sabar ingin memulai babak hidup baru, yang belum tahu akan seperti apa.

Rasanya nano Рnano setelah menikah, di awal Рawal tahun, semua terasa membahagiakan, ada tenggang rasa disana. Saya sempat terkejut ketika tiba Рtiba saya kangen dengan orangtua, tetiba ingin pulang kembali ke rumah keluarga, atau kangen masakan rumah karena ternyata tanggung jawab memasak jadi pindah ke tangan saya. Padahal saya  nggak bisa masak, dan suami saya demanding pengin masakan yang enak.

Bertemulah saya dengan realita – realita dalam pernikahan:

  1. Problem akan ada setiap hari, setiap saat.
  2. Kadar cinta harus diusahakan tetap on fire dengan pasangan.
  3. Tenaga harus dikerahkan bersama, cari uang sama – sama karena bayar cicilan rumah & kendaraan.

Tibalah saya dalam sebuah kesimpulan, setelah punya 1 orang anak, saya tinggal di rumah kami sendiri tapi dengan tambahan Ibu mertua & adik ipar, yang semua ini diluar ekspektasi saya. Mau menolak? Ya tidak bisa, wong mereka juga keluarga besar kita, kan?

Ada hal – hal diluar dugaan yang akan datang menghampiri dan memberi pelajaran berarti buat saya, akhirnya saya paham bagaimana cara kerja Tuhan mengajarkan sesuatu kepada umatNya.

Yang saya tahu, pernikahan adalah sebuah langkah yang harus ditempuh dengan penuh niat dan keyakinan, serta keinginan dan keterbukaan untuk terus belajar hal baru, berkompromi dengan masalah & mencari solusi. Bukan cuma cinta – cintaan. Pernikahan adalah lembaga yang melibatkan dua keluarga besar sehingga kita punya tanggung jawab kepada pihak yang lebih besar..

Hingga hari ini saya Indry dan pasangan saya masih terus menjalani pernikahan dengan segala realitanya. Setiap masalah yang sedang dan sudah kami hadapi kami anggap sebagai satu titik batu pijakan untuk saya dan pasangan selangkah demi selangkah menjadi pribadi yang selalu mau memperbaiki diri dan mau menerima masukan satu sama lain. berhenti berekspektasi lebih seperti yang dulu saya pikirkan, selalu mau belajar melihat realita pernikahan dari pengalaman orang lain dan tidak perlu merasa takut karena sejatinya menikah itu tetap membaa kebahagiaan dan kebaikan untuk diri kita. Ini cerita ekspektasi dan realita pernikahan saya, bagaimana dengan kamu Urbanesse ?

BACA JUGA : Kenapa Orang yang Menikah Wajahnya Semakin Mirip?

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu