Menjadi Orangtua Tunggal yang Tangguh

Menjadi Orangtua Tunggal yang Tangguh

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Natallia, berusia 42 tahun. Menjadi orangtua tunggal dengan 4 anak memang tidak mudah. Tak hanya memenuhi kebutuhannya, aku juga perlu memastikan jika mereka tidak kekurangan kasih sayang karena kegiatanku yang begitu padat setiap harinya. Waktu yang digunakan untuk bekerja juga tak sedikit. Aku bekerja sebagai konsultan saat ini. Sehingga sudah menjadi rutinitas, begadang setiap malam untuk bekerja karena perbedaan waktu yang cukup jauh Indonesia dan Afrika. 

Saat malam hari, di mana seharusnya waktu beristirahat justru digunakan untuk tuntutan pekerjaan, meeting dan lain sebagainya. Semua jadwalku yang padat, membuat aku memikirkan cara bagaimana agar semuanya seimbang. Pekerjaan tetap bisa aku selesaikan dengan baik, anak-anak tetap diperhatikan, dan punya waktu untuk diriku sendiri.

Agar semuanya dapat berjalan dengan baik, aku mulai dari pola mendidik anak yang sudah ku ajarkan sejak kecil. Membutuhkan waktu sekitar 4 tahun agar mereka membiasakan diri untuk melakukannya. Dengan begitu, mereka juga akan disiplin dan mandiri. Ini sangat membantuku juga dalam menjalankan peran sebagai orangtua tunggal dengan 4 orang anak.

Mungkin kedengarannya sangat sepele, tapi ternyata memiliki dampak besar yang bisa mereka bawa hingga besar. Dari kecil, aku membiasakan mereka untuk makan di meja makan. Jika biasanya anak-anak lebih suka disuapi sambil berlarian ke mana-mana, tidak pada anakku. Dari kecil aku sudah mengajarkan mereka untuk disiplin, makan di meja makan. Itu sangat meringankan bebanku dan menanamkan perilaku baik pada mereka. Hingga kini, mereka sudah terbiasa setiap ingin makan pasti di meja. Tanpa perlu aku marahi dulu. Aku juga mengajarkan mereka untuk terbuka dan menceritakan hal apapun kepadaku, agar tiap kali ada masalah kita bisa menyelesaikannya bersama-sama. Saling tahu, sehingga tidak ada yang terbebani.

Tak hanya itu, aku juga membiasakan mereka untuk izin terlebih dahulu pergi kemanapun agar aku tenang dan dapat bekerja dengan fokus serta tepat waktu. Dengan semua kebiasaan yang sudah aku terapkan pada mereka dan hingga kini sudah melakukannya, aku juga tidak perlu merasa bersalah karena tetap fokus pada karir. 

Menjaga mental juga penting untukku, seperti melakukan quality time. Entah itu bertukar cerita ke teman-teman, pergi ke salon dan paling tidak seminggu sekali aku juga menyempatkan waktu dengan anak-anak untuk saling bercerita, mendengarkan semua keluh kesah mereka. Semua hal ini sangat membantuku dalam mengembalikan energi positif.

Tak lupa aspek spiritual. Aku juga selalu mendekatkan diri pada Tuhan dan melibatkan Tuhan di setiap kegiatanku. Aku rutin mengikuti komunitas gereja di mana aku bertemu dengan orang-orang positif. Ya, menurutku semua itu berasal dari pikiran. Jika kita selalu mengisi diri dengan hal positif hidup menjadi lebih tenang.

Setelah mencoba untuk menjalani hidup yang seimbang selama ini, aku lebih bisa mengendalikan emosi, pikiranku juga selalu tenang. Semua pekerjaan, kehidupan pribadi, anak-anak dapat berjalan semestinya. Aku tidak terbebani justru sangat enjoy menjalaninya.  

Baca Juga: Menyeimbangkan Peran, antara Urusan Pekerjaan dan Pribadi

Memang tidak mudah menyeimbangkan beberapa aspek dalam hidup kita. Yang bisa kita lakukan adalah dengan selalu berusaha menyeimbangkan aspek yang ada. Tujuan dari menyeimbangkan hidup tentu saja agar kita selalu hidup sehat dan bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan  kita harus menciptakan energi yg positif, mencintai apapun yg sedang kita kerjakan, dan konsisten dalam pelaksanaannya.

Sumber: Natallia

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu