Menyikapi Rasa “Baper” Karena Aksi Pamer di Sosial Media

“Ah apaan orang itu, lagi jalan kaki saja pakai story.”

“Fotonya ga ada yang lain, selfie melulu.”

“Pantesan saja orangnya gendut, yang diposting makan ini, makan itu.”

Jika itu adalah salah satu komentar Urbanesse termasuk saya dulu ketika awal-awal menjadi pengguna sosial media ketika baru melihat postingan seseorang, maka itulah tanda-tandanya kita mulai baper di media sosial.

Baper di media sosial dapat berakibat banyak hal buruk, nyaris tidak ada baiknya. Semisal, kita menjadi tidak bahagia setiap kali melihat postingan orang lain. Kita kemudian bersikap bak juri yang menentukan bagus atau tidaknya timeline seseorang. Jika menurut kita  jelek, akan dikritik tajam, seperti menuduh pamer. Jika menurut kita bagus, maka perlahan-lahan akan ada rasa iri. Benar tidak ? saya bicara ini karena siapapun pengguna sosial media pasti pernah mengalaminya, termasuk saya.

Media sosial dengan segala fenomenanya memang membawa beragam dampak bagi penggunanya. Dan adalah wajar jika presentase pengguna media sosial profesional jauh lebih kecil ketimbang pengguna media sosial yang awam tapi masif. Itulah sebabnya hoax merajalela dan postingan-postingan tidak jelas bertebaran.

Dari pengalaman pribadi, menggunakan media sosial, jika memang mau mendalaminya, akan melewati berbagai fase. Fase norak adalah salah satunya, saya pernah mengalaminya juga. Norak dalam artian, segala sesuatu ingin diungkapkan di media sosial. Dan komentar netizen akan menjadi cara bagi seseorang untuk memperbaiki konten. Walau tentu, tidak bisa menyenangkan semua pihak.  Setuju ?

Sedangkan pamer sebenarnya memiliki dua sisi makna, positif dan negatif. Dalam dunia marketing, pamer adalah perlu. Misal, pamer bakat. Tidak mungkin seorang beauty vlogger menjadi viral jika dia tidak ‘memamerkan’ bakatnya. Atau pamer karya. Seorang perintis usaha kue akan sering-sering mengunggah hasil baking-nya sebagai portofolionya. Bahkan seorang travel blogger mau tidak mau harus ‘memamerkan’ foto perjalanannya. Dan perilaku ‘pamer’ itu malah sebelum seseorang itu dinobatkan sebagai vlogger viral, kebanyakan dari mereka hanya berniat berbagi inspirasi.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak berniat berbagi, melainkan murni pamer? Well, bagi saya, selama yang ditunjukkan itu adalah miliknya, why not? Kecuali, yang dipamerkan bukan milik dia. Itu yang repot. Atau sesuatu yang dipamerkannya itu hasil berutang sana-sini demi pencitraan. Semoga kita tidak menjadi yang disebutkan terakhir dan syukurnya saya tidak memiliki pengalaman di point ini.

Manusia sejatinya menjadi pembelajaran bagi manusia lain, role model untuk orang lain. Saya setuju dengan pernyataan ini.  Karena saya pribadi sejak beberapa tahun yang lalu sedang bertumbuh menjadi pengguna sosial media yang coba lebih bijaksana. Tidak semua hal harus saya posting, karena ada bagian dari diri saya yang pribadi yang tidak etis jika harus apa-apa saya post di media sosial. Main sosial media boleh, tapi junjung tinggi privacy kita Urbanesse.  So, menanggapi mereka yang seperti ini sejatinya adalah tantangan bagi kita khususnya saya pribadi. Apakah saya masih bisa mensyukuri hidup dengan cara apa adanya? Dan apakah kita mampu mensyukuri kehidupan baik seseorang di media sosial itu?

Alasan sejati seseorang mengunggah sesuatu itu hanya dia dan Tuhan yang tahu, saya tekankan selalu ke diri saya tidak ikut mencoreng hati sendiri dengan prasangka. Dengan mendoakan saja yang baik-baik. Untuk kita dan untuk mereka. Jika tak mampu berkata baik, maka diam. Kalau perlu jauhi media sosial untuk sesaat seperti yang pernah saya lakukan, (puasa beberapa minggu untuk tidak main media sosial) karena seringkali ‘kepo’ /ingin tahu tidak membawa kenikmatan bukan ?.

Ketika saya menggunakan sosial media saya ingatkan kembali ke diri saya mengunggah hanya yang positif di media sosial. Saya rasa itulah tanggungjawab saya sebagai pengguna media sosial. Caranya dengan meramaikan timeline dengan hal-hal yang membuat orang bahagia, terinspirasi, dan terinformasi dalam sisi yang positif karena sudah terlalu banyak konten negatif di luar sana. Dan untuk melakukannya, berhenti untuk terbawa perasaan (baper) di media sosial. Jadi media sosial sebagi media hanya untuk seru-seruan dan tempat saya mendapat informasi dan hal yang menginspirasi. Jika memang ada konten positif, apresiasi. Jika ada konten negatif, alias memiliki dampak merusak, maka laporkan.  Atau biasanya kalau saya lebih memilih menghindari  mereka yang kerap menyebarkan konten negatifdengan cara Unfriend, so simple. Karena tiap postingan negatif akan berdampak negatif bagi yang melihatnya begitupun sebaliknya.

“Beautify Your Social Media with positive thought provoking quotes” ini lebih baik Ladies. Setuju tidak ?

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu