Meski Mendapat Dukungan dari Orang Tua, Menikah Muda Tak Semudah yang Dibayangkan

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku sangat beruntung punyai keluarga yang selalu mendukung. Aku menikah di usia 19 tahun dengan pacar satu universitas. Berpacaran 2 tahun, kami memantapkan diri untuk melangkah ke jenjang serius. Tentunya keputusanku untuk menikah muda itu tidak lepas dari dukungan orangtua kami masing-masing. 

Ketika itu suamiku belum punya pekerjaan tetap, tapi orangtuanya ingin dia cepat menikah tanpa harus menghentikan pendidikan. Butuh waktu berbulan-bulan bagi kami berdua memikirkan saran orangtuanya itu. Kami juga saling mengingatkan bahwa menikah bukanlah hal yang mudah, meski mertuaku menyiapkan rumah untuk kami tinggali, dan orangtuaku mendukung dari segi finansial. 

Menikah di usia muda memang tidak mudah meski sudah merasa cocok selama berpacaran. Ada satu topik pembicaraan yang tidak kami bicarakan sebelum memutuskan menikah dan berdampak dalam kehidupan pernikahan kami, yaitu tentang anak. Ternyata aku dan suami berbeda pendapat. Aku ingin menunda punya anak sampai lulus kuliah, suamiku ingin segera punya anak. Kami harus sama-sama belajar untuk saling menerima dan mengurangi ego masing-masing. Kami berdiskusi cukup lama, sempat pula bertengkar karena perbedaan pendapat. Aku sadar aku tidak boleh mementingkan diri sendiri. 

Akhirnya kami sepakat untuk fokus kuliah terlebih dulu. Kami saling bantu mengerjakan tugas kuliah dan saling bagi pekerjaan rumah tangga. Kami lulus kuliah dan mencoba berjualan online, meski tidak berjalan lancar. Namun Tuhan memberi kami karunia lain yaitu anak. Tak lama setelah lulus kuliah, aku hamil. 

Baca Juga: Kalau Belum Siap Dengan Konsekuensi Ini, Mending Jangan Buru-Buru Nikah Deh

Satu persatu keinginan terwujud. Meski kedua keluarga kami banyak membantu, kami tidak ingin mengandalkan mereka. Suamiku berhasil mendapat pekerjaan tetap. Untuk membantu perekonomian, aku juga ingin sekali bekerja. Tak masalah bagiku mengurus anak sambil bekerja. Suamiku selalu mendukung hal-hal positif yang kulakukan. Selama hamil aku hanya fokus pada kuliah saja, setelah melahirkan aku bekerja. Sempat merasa kesulitan antara membagi waktu bekerja dan mengurus anak, tapi di sinilah peran penting pasangan. Kami saling membantu dalam urusan anak. Semuanya semakin lebih baik dan bertumbuh. Tantangan di depan pasti lebih berat. 

Meski kedua belah pihak keluarga meberi dukungan, tetap saja hanya kita dan pasanganlah yang menjalani kehidupan rumah tangga. Selagi diri sendiri siap fisik dan mental, tidak masalah menikah muda. Namun, kenyataan bahwa menikah itu tak semudah yang kita bayangkan harus diterima. Bersedia saling belajar dan menerima, itu yang terpenting. Komitmen untuk mau terus belajar dan mengurangi ego. Karena menyatukan dua kepala yang berbeda bukanlah hal yang mudah.

Sumber: Dhena, 25 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

 

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu