Mudah Kecewa Pada Orang Lain

Mudah Kecewa Pada Orang Lain?

Blog

Urbanwomen – Merasa mudah kecewa pada orang lain? Saya pernah begitu. Saya selalu berusaha bertanggungjawab atas setiap hal yang saya kerjakan, termasuk cara saya berinteraksi. Sering respon saya standar dan wajar saja terhadap suatu situasi, tapi orang-orang di sekitar tidak demikian.

Salahkah saya? Saya tepat waktu mengembalikan uang yang saya pinjam tanpa perlu ditanya. Saya antre di toilet sesuai giliran. Tapi karena orang sekitar saya anggap tidak tertib maka saya gampang sewot. Saya marah merasa banyak orang tidak menghargai saya. Saya jadi malas  bersosialisasi. Ke manamana jadi terbatas karena saya ogah bertemu si Anu atau si Itu yang menurut saya menyebalkan, kurang tahu sopan santun. Ruang lingkup saya pun jadi terbatas. Saya merasa parno.  Tapi ternyata hidup seperti itu tidak enak. Selalu harus berhati-hati, dan gampang merasa bad mood

Sampai suatu saat saya ngobrol dengan seorang teman yang menurut saya easy going, tipe yang ke mana-mana asyik, sopan dan tidak mudah terganggu.  Menurutnya, walau kita mungkin punya tatakrama yang baik bukan berarti semua orang punya tatakrama yang sama. Kita masing-masing dibesarkan di lingkungan serta pendidikan yang berbeda. Sesuatu menurut standar kita baik belum tentu buat mereka sama baik atau perlu. Kita hanya bisa mengaplikasikan standar yang baik itu terhadap diri sendiri. 

Tentang rasa kecewa karena orang lain kita anggap melanggar kebaikan nilai kita, menurutnya itu semua tergantung ekspektasi kita terhadap orang tersebut. Kalau kita tidak berekspektasi semua orang baik maka pada saat dia tidak baik kita tidak akan kecewa. Sebaiknya kita punya ekspetasi yang realistis atau sedikit lebih rendah terhadap semua orang, agar kita siap. Kalau pun mereka melakukan sesuatu yang baik maka itu nilai plus. Kuncinya ada pada diri kita, bagaimana kita mengolah harapan pada orang sekitar kita. Daripada merasa kecewa dan emosional, lebih baik kita cari solusinya supaya kita tidak dirugikan. Sudah mengantre toilet tiba-tiba ada yang menyela? Tegur atau ingatkan orang itu untuk mundur. Rasa kecewa tidak membuat kita lebih nyaman, melainkan sebaliknya, menjadi negatif. 

Wow, pikir saya. Saya tidak pernah punya sudut pandang begitu sebelumnya. Saya selalu menyalahkan orang, dan bahkan melabeli orang sesuai kesalahannya. Dari obrolan itu saya belajar hal-hal berikut:

  1. Menumbuhkan empati bahwa tidak semua orang dibesarkan dengan cara yang sama dengan standar perilaku kita. 
  2. Belum tentu orang yang berbuat kurang baik itu tujuannya personal untuk merugikan kita. Bisa saja memang demikianlah kebiasaannya.  
  3. Jangan berharap tidak realistis atau terlalu tinggi terhadap orang lain. 
  4. Cari solusi atau jalan keluar dalam menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan. Jangan menyiramkan bensin pada emosi negatif kita.

Baca Juga : Mengurangi Kekecewaan. Why?

Masukan masukan ini saya terima dan pelan-pelan saya jalankan. Ternyata benar. Hidup berubah seperti bumi dan langit. Saya tidak lagi melabeli orang tidak tahu diri, egois, atau sengaja menyakiti saya. Saya lebih mampu menerima bahwa orang itu memang hidup dengan prinsip dan tata krama yang berbeda. Saya tidak lagi mudah mengeluarkan kata-kata pedas pada orang lain. Hidup jauh lebih tentram. Kalau kita bisa mengatur cara berpikir kita, luapan emosi pun bisa kita kendalikan menjadi positif dan damai.  (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu