Nikah-tak-cukup-modal-cinta

Nikah Tak Cukup Bermodalkan Cinta, Pernikahanku Berakhir Dengan Perceraian

Kisah Utama

UrbanWomen – Aku Lala, 26 tahun, single mother, bekerja sebagai SPG di Kalimantan. Aku menikah di usia 20 tahun,karena membayangkan hal-hal indah dalam pernikahan, misalnya ada seseorang yang akan menemaniku setiap hari. Sedangkan mantan suamiku saat itu didesak oleh orangtua untuk menikah. Padahal kami masih sangat muda sekali. 

Meskipun mantan suamiku saat itu belum berpenghasilan tetap, dia berasal dari keluarga berada. Kupikir keluarganya bisa memenuhi kebutuhan kami setelah menikah. Aku menyetujui pernikahan ini karena merasa gagal masuk di kampus yang sudah lama kuimpikan. Ditambah kondisi keluargaku saat itu, kedua orangtuaku bercerai dan kondisi keuangan keluarga tidak stabil. Ketika itu aku merasa dia adalah satu-satunya orang yang kupunya. Kami berpacaran sampai berhubungan badan, sehingga ketika dia mengajak menikah aku menurut saja. Semua biaya pernikahan kami yang cukup mewah berasal dari keluarga laki-laki karena aku dan keluarga belum punya tabungan yang cukup untuk menikah.  

Kami tinggal di rumah orangtua mantan suamiku. Muncullah konflik. Aku merasa sangat tidak nyaman dengan mertua karena terlalu sering menyindirku. Seperti ketika aku tidak bangun pagi, mereka bilang aku pemalas dan lain sebagainya. Aku semakin kesal ketika suami tidak peduli padaku. Setelah pulang kerja, bukannya mencari penghasilan tambahan, dia hanya main handphone. Jika kekurangan uang selalu mengandalkan pemberian dari kedua orangtua. Kusampaikan padanya aku tidak nyaman tinggal di rumah orangtuanya.

Kami pun pindah ke rumah yang lebih sederhana dan menemukan sedikit ketenangan. Namun tetap saja muncul masalah lainnya. Keadaaan ekonomi kami semakin sulit. Memang suami ikut bekerja di tempat orangtuanya tapi gaji yang didapat tidak seberapa. Kami harus berhemat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari selama sebulan. 

Setelah setahun, aku hamil. Kami belum menyiapkan sama sekali biaya persalinan, pendidikan anak, atau dana darurat. Bukannya senang, kehamilanku membuatku tambah stres karena kebutuhan semakin banyak terutama untuk membeli susu. Meskipun suami tahu keadaan ekonomi kami sedang sulit tetap saja dia terlihat santai. Ketika aku melahirkan semua biaya lagi-lagi ditanggung orangtuanya. 

Kesalahanku berikutnya, aku tidak memahami betul seperti apa suamiku. Baru terlihat setelah menikah, ternyata dia bukan suami yang siap siaga. Ketika aku melahirkan dan masih dalam kondisi lemas, dia tidak memperlakukanku dengan baik. Aku yang mengurus anak sepenuhnya. Ketika anak rewel dan ASI tidak lancar dia tidak peduli. Keluargaku juga tidak ada yang peduli.

Baca Juga: Belajar dari Film Story of Kale : Apakah Hubungan Cintamu Sudah Sehat?

Pernikahanku hanya bertahan selama 3 tahun. Aku merasa jika ini adalah kesalahan terbesarku dalam hidup. Menikah muda tanpa memikirkan hal yang akan terjadi ketika menikah. Hanya karena cinta dan yakin saja ternyata tidak cukup untuk membangun rumah tangga. Perlu pasangan yang tepat untuk membuat kehidupan rumah tangga harmonis. Pasangan yang mandiri, tidak lagi menunggu pemberian dari orangtua.

Sekarang di saat luangku aku berjualan di depan rumah. Aku sadar seharusnya sebagai perempuan aku juga harus mandiri secara finansial, tidak bergantung pada siapapun. Nanti kalau bertemu dengan laki-laki lain, aku tidak ingin buru-buru menikah. Aku tidak mau mengulang kesalahanku.

Cinta saja tidak cukup untuk membina pernikahan yang sehat. Suami dan istri juga perlu melakukan banyak usaha dan pengorbanan untuk mempertahankan pernikahan.

Sumber: Lala, 23 tahun, di Kalimantan 

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu