orang tua tak banyak menuntut

Orang Tua Tak Banyak Menuntut, Aku Justru Semakin Bekerja Keras

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Keila, 24 tahun, karyawan swasta, di Jakarta. Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai digital marketing officer. Ayahku bekerja sebagai arsitek sedangkan bundaku berjualan makanan di rumah. Aku beruntung sekali memiliki kedua orangtua yang selalu mendukung apapun keputusan yang aku ambil, termasuk soal pekerjaan dan mencari pasangan.

Aku berasal dari keluarga sederhana. Setelah lulus sekolah, orangtua mendukungku untuk melanjutkan kuliah jurusan arsitektur sama dengan ayah. Namun, ayah tidak mengharuskan aku masuk ke jurusan tersebut, semua keputusan ada ditanganku, ayah hanya menyarankan saja karena ayah tahu aku sudah sejak lama hobi menggambar. Keahlianku menggambar berhasil tertuang pada jurusan kuliahku. Hanya saja ada tambahan berupa hitung-hitungannya.

Setelah aku masuk kuliah di jurusan arsitektur, beberapa kali ayah juga membantuku dalam mengerjakan tugas yang cukup sulit. Apalagi kuliah di jurusan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena harus membeli peralatan yang cukup banyak. Tapi kedua orangtuaku selalu memastikan bahwa aku tidak kekurangan biaya kuliah. Jika ayahku memang sedang tidak bekerja, bundalah yang mencari uang dengan menjual makanan, seperti risol, tahu, dan masih banyak lagi. Bagi mereka, yang terpenting aku bisa menyelesaikan kuliah. Mereka juga tidak pernah menuntutku untuk mendapatkan nilai yang sempurna dan selalu belajar. Mereka percaya padaku mampu menyelesaikan kuliah dengan baik. Dari kepercayaan yang mereka tanamkan, aku menjadi anak yang lebih bertanggung jawab untuk menyelesaikan kuliah dan tugas yang diberikan tepat waktu.

Sesudah lulus kuliah, aku tidak langsung mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya menjadi freelancer, dan kedua orangtuaku juga tidak menuntut aku harus segera mendapat pekerjaan. Mereka hanya melihat usaha yang aku lakukan untuk segera mendapat pekerjaan. Tapi jika belum dapat, mereka tidak pernah mengatakan “kamu kok belum dapat kerja juga ya, jangan kelamaan nganggur.

Namun, karena mereka sangat memahami kondisiku dan tidak banyak menuntut, justru membuatku semakin berusaha untuk segera mendapatkan pekerjaan karena tidak ingin mengecewakan mereka. Ya, mereka begitu baik. Beberapa kali mengalami penolakan, aku tidak menyerah dan terus mencari. Sampai akhirnya, aku berhasil diterima di salah satu perusahaan, namun berbeda dengan jurusan kuliah yang aku ambil, bukan menjadi arsitektur tapi sebagai digital marketing officer. 

Baca Juga: Rekomendasi Film : 5 Film Tentang Keluarga yang Menguras Air Mata

Seperti biasa, ayah dan bundaku tidak pernah menyalahkan hanya karena pekerjaanku tidak sesuai dengan jurusan kuliah. Mereka tetap mengapresiasi keputusan yang aku ambil. Hal terpenting bagi mereka, aku bisa bertanggung jawab atas pilihan yang aku ambil dan tidak merasa tertekan. Mereka paham, akulah yang paling mengerti bagaimana kondisiku dan mau seperti apa. Tugas mereka hanya mendukungku dari segi finansial dan tetap memberi masukan. Setelah lama bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, kedua orang tuaku juga tidak pernah memintaku uang. Hanya ketika mereka benar-benar tidak memiliki uang, baru aku membantunya. Meski tidak diwajibkan memberi uang bulanan, aku tetap memberi kedua orangtuaku uang walaupun tidak begitu banyak. Namun, karena ini aku mulai bisa menata keuanganku untuk menabung. Biaya sekolah kedua adikku juga mereka yang membiayai. Tapi kedepannya aku pasti membantu untuk meringankan. Kini aku sedang fokus merintis karir untuk menata masa depanku, dan membahagiakan kedua orangtua.

Anak tetap memiliki kebebasan dalam memilih karir yang mereka ambil. Tugas orangtua hanya mendukung dan memberi arahan dalam mengambil keputusan. Selebihnya, anak yang akan memutuskan mau seperti apa. Karena jika orangtua terus memaksa agar terus mengikuti keinginan mereka, anak justru merasa tidak bahagia, menjalaninya dengan terpaksa akhirnya semua akan berantakan. Lalu, untuk membantu anak hidup dengan karakter yang dapat diandalkan dan bertanggung jawab, orangtua harus memberikan contoh yang sama.

Sumber: Keila, 24 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu