pacaran beda agama

Pacaran Beda Agama Selama 4 Tahun, Kami Sepakat Mengakhiri Hubungan

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku pernah berpacaran beda agama selama 4 tahun. Dia sosok yang ambisius dan sangat memikirkan masa depan. Itu satu alasanku menyukainya saat itu. 

Dia sangat ingin berkuliah di salah satu universitas ternama di Bandung yang sudah lama diimpi-impikannya. Dia berjanji jika lulus tes dia akan menjadikanku pacarnya karena sebelumnya kami sudah dekat cukup lama. Setelah beberapa hari, dia mengabari keberhasilannya. Sesuai janjinya, kami berpacaran. Meski berbeda agama, dia selalu meyakinkanku dia akan berjuang untuk bisa masuk agamaku. 

Aku merasa yakin dengannya karena dia selalu menepati janji. Aku selalu yakin dia akan memiliki masa depan yang baik. Selama kurang lebih 2 tahun hubungan kami sangat baik. Hanya ada perdebatan kecil yang masih bisa kami atasi. Pertengahan kuliah, dia mencoba melamar di satu perusahaan yang cukup besar.  Aku selalu mendukung impiannya dan tidak banyak menuntut. Ketika dia berhasil diterima di perusahaan itu rasanya campur aduk, senang karena dia berhasil mewujudkan impiannya namun di satu sisi kami harus LDR.

Sempat muncul keraguan, apakah kami yang berbeda agama dan LDR tetap bisa sampai ke jenjang pernikahan? Tapi lagi-lagi dia selalu meyakinkan dia akan berjuang. Kami berusaha beradaptasi kembali, berusaha saling memahami ketika dia sibuk dan tidak sempat menghubungiku, belum lagi ketika dia membatalkan pertemuan yang sudah lama kutunggu karena ada urusan pekerjaan. 

Setelah sekian lama LDR, kami berencana untuk bertemu. Dia ingin menyampaikan sesuatu tentang kelanjutan hubungan kami. Katanya dia tidak bisa masuk agamaku karena keluarganya. Memang kedua orang tuanya sangat taat. Aku sempat ragu apakah dia bisa membujuk mereka dan minta izin pindah agama demi diriku. Tapi itu kuabaikan begitu saja karena merasa sudah menemukan pasangan yang tepat.

Itu satu-satunya janji yang dia ingkari. Dia menyerah, tidak memperjuangkan hubungan kami karena alasan agama. Aku sangat kecewa, tapi di satu sisi aku juga tidak boleh egois. Ini soal agama. Aku terlalu takut kehilangannya, takut sendirian, dan sempat berpikir apakah aku akan bertemu dengan laki-laki seperti dia. 

Kami pun sepakat hubungan kami memang tidak bisa dilanjutkan. Jika terlalu lama akan sia-sia saja. Kami putus baik-baik.

Sulit sekali menerima kenyataan waktu itu. Aku merasa dunia runtuh karena dia tak lagi bersamaku. Namun tidak ada cara selain berusaha menerimanya. Aku sempat menyalahkan keadaan, kenapa ketika aku bertemu laki-laki yang tepat kami berbeda keyakinan. Aku menyalahkan diri sendiri, menangis, mengurung diri di kamar, kehilangan nafsu makan, dan susah tidur. Setelah kurang lebih setahun aku mulai bisa menerima kenyataan dan merasa keadaan semakin membaik. Masa depanku masih panjang, aku harus bisa memaafkan orang lain dan mengizinkan diriku untuk jatuh cinta lagi.

Baca Juga: Diselingkuhi, Aku Sadar Jika Kebahagiaanku Berasal dari Diri Sendiri Bukan Pasangan

Tak mudah melewati semua fase itu. Setelah sembuh, aku bertemu dengan laki-laki yang saat ini menjadi pacarku dan kami berencana menuju jenjang yang lebih serius.

Dalam hidup, kita harus terus belajar menerima bahwa apa yang kita mau belum tentu hal yang tepat. Ada kalanya kita harus ikhlas melepaskan yang kita sayangi, demi pilihan yang benar. 

Sumber: Nina, 28 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu