Pandangan Pria Mengenai Ketulusan dan Keobsesian

Pandangan Pria

Holaa Ladies! Hari ini saya berkesempatan menulis rubrik pandangan pria dan mewawancarai salah satu pria yaitu teman saya yang bernama Aditya (31th). Beliau bekerja sebagai Production Team dan Talent Management di salah satu Production House yang cukup terkenal dan bekerja-sama dengan stasiun TV untuk mengisi program reality show nya. Kali ini saya akan menanyai ia bagaimana pandangannya mengenai ketulusan dan keobsesian? Berikut adalah hasil wawancaranya :

  1. Menurut pendapat pria, Ketulusan dan Keobsesian itu apa?

Bagi saya sendiri, ketulusan itu hal yang tidak sama sekali terlihat melainkan dirasakan dan tidak terjadi secara instan melainkan membutuhkan proses. Contohnya adalah ketulusan dalam menjalin hubungan, hal itu dapat dirasakan jika kita sungguh-sungguh mencintainya dan sayang tanpa melihat ada apa didirinya. Kalau Obsesi itu sendiri adalah berpusat pada apa yang kita lihat dan suka dari dirinya, biasanya tidak perduli dengan sifat atau justru hanya fokus terhadap sifat saja tida mempertimbangkan hal lain. Menurut saya semua itu tergantung cara kita memandang saja, karena kadang benar apa yang orang-orang katakan bahwa “Cinta itu Buta”.

  1. Apakah anda pernah punya pengalaman dengan seseorang terkait Ketulusan dan Keobsesian dalam hubungan?

Saya pernah mengalami dua situasi tersebut dan saya pernah menjadi seseorang yang menjadi target wanita yang merasakan hal tersebut. Berbicara mengenai Ketulusan terlebih dahulu ya, saya pernah menjalin hubungan dengan wanita yang sudah cukup lama berteman dengan saya. Kami memutuskan untuk berpacaran setelah dia memutuskan hubungannya dengan mantannya yang menyelingkuhi dia. Saya memang sudah naksir ibaratnya sama dia dari dulu, awalnya karena dia diajak ngobrol itu asik dan satu frekuensi dengan saya. Namun seiring berjalannya waktu saya jadi nyaman dan benar-benar tulus sayang, tetapi karena dia saat itu sedang bersama dengan pria lain jadi perlakuan yang saya tunjukkan hanya sebatas teman seperti jika dia ingin mencari orang untuk diajak ngobrol kapanpun saya menyanggupinya dan disaat dia meminta dijemput saya pun menyanggupinya. Setelah kejadian itu kami semakin dekat dan akhirnya dia merespon perasaan saya. Namun ternyata dia tidak sepenuhnya sayang terhadap saya, tetapi karena dia obsesi memiliki pasangan yang baik dan ingin lepas dari bayang-bayang mantannya saja. Disitu saya kecewa, tapi tidak menyesal telah melalui hubungan singkat tersebut, karena kita tidak tau latar belakang orang mempunyai perasaan itu seperti apa.

Lalu berbicara mengenai Keobsesian, itu juga pernah saya lewati. Saat itu saya sedang mengerjakan proyek program salah satu stasiun TV yang mengundang banyak talent wanita, dan saat itu mata saya langsung tertuju dengan salah satu dari mereka. Sangat cantik menurut saya, dan saya obsesi untuk memilikinya tentu saja karena secara fisik dia menarik. Lalu kami berpacaran, tetapi sifatnya sama sekali tidak cocok dengan saya melainkan kami terus berdebat dan mempermasalahkan hal tidak penting. Dia juga kasar, sehingga saat nada kami berbicara sudah tinggi, dia langsung menampar saya. Setelah hitungan bulan kami berpisah, dan ternyata salah satu temannya mengatakan ia hanya terobsesi punya pasangan di tempat kerja yang bisa membantunya tetap menjadi talent. Hal itu pun tidak saya sesali melainkan pembelajaran hebat untuk saya.

  1. Menurut anda apa saja faktor internal dan eksternal seseorang bisa Obsesi?

Waah kalau itu sangat banyak. Mulai dari internal ya, biasanya itu karena dia memasang standart terlalu tinggi. Mungkin karena dia sering membaca buku, melihat sinetron, melihat film dan melihat sosok yang terlalu sempurna maka itu menjadi acuannya. Karena keinginan tinggi tersebut maka ekspetasipun akan tinggi dan dia akan memperhitungkan hal-hal tersebut dalam mendekati lawan jenis, tidak menilai sikap ataupun sifat dan kenyamanan. Kalau untuk faktor eksternal ini yang sangat sering terjadi juga. Biasanya karena “membandingkan” pasangan atau lawan jenis yang disukai dengan “tokoh” favorit. “Tokoh” tersebut bisa saja Ayah, pasangan teman dekat yang kamu kagumi, atau mantan pacar. Obsesi itu dapat muncul ketika kita berlebihan dalam menilai dan ego kita tinggi untuk mendapatkah hal-hal yang kita inginkan saja.

  1. Bagaimana cara anda menghilangkan sisi Obsesi anda dan memulai Tulus?

Ini pertanyaan sangat bagus karena butuh proses panjang. Bagi pria, obsesi itu kadang tidak terlihat. Menurut beberapa pria itu hal yang wajar, karena berpikir untuk mendapatkan “apa yang pantas”. Dan itu adalah salah besar. Hubungan itu bukan sekedar mencari apa kelebihannya, kelemahannya, apa yang ia berikan maupun apa yang kita dapat berikan. Banyak juga yang memulai hubungan karena obsesi memiliki kekasih yang penurut, kekasih yang baik dan kasus lainnya namun percayalah hubungan itu tidak berlangsung lama. Ketulusan bukan sesuatu yang kita dapat hanya sekedar melihat, saat kita memutuskan untuk mau menjalin hubungan itulah ketulusan dimulai.

  • Saya belajar menerima proses. Kenapa saya belajar hal tersebut? Karena tanpa kita sadari, saat proses berjalan kita sudah tidak kuat. Belajar menerima didalam proses itu tidak harus selalu indah dan berbunga-bunga. Proses itu adalah dimana ego pasangan itu sama-sama turun untuk memutuskan sesuatu. Saya sudah menerima proses dan didalam proses saya tidak mau berekspetasi terlalu tinggi, melainkan membiarkan itu mengalir. Proses itu adalah soal waktu, jangan terburu-buru.
  • Setelah saya belajar menerima proses, saya belajar untuk menerima pasangan dan menerima diri saya sendiri. Waah mungkin hal itu sangat luas ya kaitannya, tapi saya mau bilang bahwa cara saya menerima pasangan saya adalah dengan tidak membandingkan dia, dengan tidak menyuruh dia menjadi orang lain dan mencintai dia sesuai dirinya tetapi tetap memberitaukan apa yang saya rasakan dengan cara yang lebih baik. Dan cara saya menerima diri saya sendiri adalah dengan tidak memaksa diri saya harus terlihat sempurna, saya rubah diri saya yang negatif tetapi tidak berlebihan dalam bersikap. Menjadi diri saya apa adanya. Saat hal-hal itu terjadi, saya dan pasangan jadi lebih terbuka dan saling mengisi dimana kelemahan dan kelebihan kita bisa diperlihatkan dan lebih tepatnya mau belajar menjadi pribadi yang lebih baik. 
  1. Menurut anda bagaimana agar mempunyai Hubungan Yang Sehat?

Ini adalah keingingan setiap orang, baik pria maupun wanita. Dari kacamata saya, hubungan yang sehat akan terjadi jika orang yang menjalaninya juga sehat. Bagaimana jika kita ingin tidak terlambat ke kantor, namun kerjaan kita itu tidur larut terus ya jelas tidak bisa. Hubungan itu terlihat tidak sehat karena orangnya. Saya pernah menjalani itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan empat kali. Bukan berarti saya bangga, tetapi saya terus belajar agar tidak mengulangi hal tersebut.

  • Jika mau hubungan kita sehat maka kita harus pintar untuk mengatur waktu. Mengatur waktu dengan pasangan, dan mengatur waktu untuk diri kita sendiri. Jika kita egois hanya mau pasangan yang memberikan waktu, tetapi kita tidak maka hubungan itu tidak sehat. Saya juga belajar bahwa memberi ruang dan waktu untuk diri kita sendiri juga perlu. Kadang kita perlu sendiri, merenung, merubah diri kita agar lebih terbuka terhadap hal positif yang dapat membantu kita dalam menjalin hubungan.
  • Semua tentang “kita” bukan “saya”. Seringkali kita dan saya juga mementingkan kepentingan sendiri diatas kepentingan bersama. Hal-hal itulah yang memancing terjadinya permasalahan. Karena hubungan itu bukan hanya tentang salah satu, melainkan kedua belah pihak. Kenyamanan yang dijunjung, tetapi kenyamanan berdua.
  • Tidak mudah tersulut dan mengatur pikiran. Kita boleh marah, tetapi bukan berarti kita harus mengatakan hal-hal yang menyakitinya. Mengatur pikiran kita agar tetap bijak dalam berucap dan bersikap. Jika terlalu “grasak grusuk” kita yang akan menyesal dikemudian hari.
  • Belajar bahwa ketulusan itu harus diciptakan. Jangan terus menuntut, tetapi mulailah tulus. Karena tidak semua orang sempurna, yang tidak terlihat namun dapat kita rasakan itulah yang sebenarnya kita butuh. Karena fisik, keinginan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu, tetapi kebutuhan akan tetap selalu sama.

So Urbannesse, mari kita sama-sama menyebarkan ketulusan kepada orang lain. Bagi wanita yang sedang mengalami hal ini, mari sama-sama rubah cara pandang kita dan siap untuk menerima hubungan sehat tanpa obsesi. Semoga artikel dan pandangan pria kali ini memberi kita pelajaran untuk menjadi wanita yang lebih baik secara pribadi.

Be a better version of yourself ya Ladies!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu