Prinsip menabung yang diajarkan keluarga

Prinsip Menabung yang Diajarkan Keluarga

Pandangan Pria

Banyak banget di antara kita yang belum benar-benar memahami gimana sih mengatur keuangan yang benar. Kok uang dari orangtua dan gaji selalu saja pas pasan? Bahkan sampai ngutang kanan kiri saking kepepetnya ga punya duit? Terus gimana ya biar engga kaya gitu terus terusan? Ada cara nabung yang mungkin bisa kamu coba ikuti nih.

Pertama Mentality. Saya menempatkan mentalitas sebagai poin pertama dalam menabung karena hal ini yang akan membentuk kebiasaan kita untuk rajin menabung atau tidak. Saya belum punya uang yang banyak dari hasil menabung sih, tapi sejauh ini saya menilai saya termasuk rutin menyisihkan pendapatan saya. Dan hal ini saya kira karena mentalitas hasil didikan di keluarga saya.

Sejak kecil saya termasuk anak-anak yang tidak suka jajan. Di keluarga saya diajarkan agar membeli sesuatu saat dibutuhkan saja. Hal ini mengajarkan saya untuk menekan perilaku konsumtif.

Sejak SD saya sudah diberikan uang untuk durasi yang agak lama (satu bulan misalnya, waktunya tidak tentu). Pesan orang tua saya, agar uang itu cukup sampai diberikan uang berikutnya. Sepertinya cara ini jarang diterapkan kepada anak-anak karena mereka biasanya diberikan uang saku harian. Dari situ saya belajar mengelola uang sendiri. Seringkali dari uang tersebut masih ada sisa, sehingga bisa saya tabung. Nantinya kalau ada hal yang saya ingin beli tinggal pakai tabungan tersebut dan tidak perlu minta dibelikan oleh orang tua.

Prinsip lain keluarga yaitu diajarkan agar menjauhi hutang. Jadi, kembali lagi dengan alokasi uang tersebut harus sebisa mungkin mencukupi kebutuhan saya. Yang pada akhirnya hal ini membantu saya menekan diri untuk berperilaku konsumtif tadi.

Kedua, Budget Allocation. Setelah tahu bahwa menabung itu menyenangkan juga, dalam hal ini bisa beli sendiri barang yang diinginkan, mindset saya selalu ingin menyisihkan sebagian uang yang saya dapatkan. Pada awalnya dulu saya hanya menyisihkan berapapun sisa uang dikurangi pengeluaran saya. Biasanya masih sisa karena pengeluarannya sudah diestimasi dibawah nilai pendapatan saya.

Akan tetapi, skema tersebut saya ubah. Saya langsung menyisihkan pendapatan saya untuk ditabung, 30% dari pendapatan saya biasanya. Sisa uangnya saya pakai untuk kebutuhan konsumsi. Di akhir bulan biasanya masih ada uang sisa yang cukup banyak. Uang tersebut saya tabung kembali. Kalau ditotal kadang bisa menabung lebih dari 50%.

Ketiga, Smart spending. Sebenarnya poin ini erat kaitannya dengan poin pertama. Ketika kita sudah memiliki mentalitas bahwa uang harus dikelola dengan baik dan wajib hukumnya untuk menabung, setiap kali kita akan membeli sesuatu akan menimbang apakah barang tersebut perlu dibeli atau tidak.

Kembali lagi saya berikan contoh saat saya kecil dulu. Setiap hari saya sudah dibiasakan untuk sarapan (ini kebiasaan sehat, btw). Karena sudah sarapan biasanya saya tidak jajan di sekolah. Saya biasanya jajan di hari-hari ada olahraga atau ada aktivitas fisik yang berlebihan. Kebiasaan ini pun terbawa sampai sekarang. Setiap weekend saya lebih memilih untuk memasak sendiri (atau weekday jika sempat). Dengan begitu biaya konsumsi di makanan akan terpangkas. Anyway makanan merupakan salah satu expense yang besar. Sehingga, bisa ada tambahan dana untuk disisihkan.

Contoh lain misalnya, ketika saya ingin membeli barang, saya perhatikan lifetime barang tersebut. Jadi, sebenarnya saya tidak enggan untuk mengeluarkan biaya lebih untuk kualitas yang lumayan. Harapannya, barang tersebut akan awet dan tidak akan segera tergantikan. Saya termasuk orang yang menggunakan barang hingga nilai barang tersebut habis. Terakhir, sebagai contoh, saya pernah dengan dari suatu Podcast agar menjadi smart spender. Dalam podcast tersebut disampaikan ada seorang anak yang selalu bertanya “Do I want it or do I need it?” ketika ingin membeli barang. Anak tersebut akan membeli kalau jawabannya adalah karena kebutuhan. Dan kembali lagi, di sini bisa dilihat bahwa lagi-lagi mentalitas itu perlu dibangun, bahkan sejak kecil

Keempat, Double account. Setelah berkutat dengan aktivitas-aktivitasnya, sekarang bagaimana cara menyimpannya. Saya memiliki lebih dari satu rekening untuk pengelolaan keuangan. Salah satu rekening selalu menjadi rekening tabungan saya. Rekening lainnya saya gunakan sebagai operasional atau aktivitas konsumsi. Uang yang terdapat di rekening tabungan ini sebenarnya juga saya jadikan sebagai emergency fund. Sehingga, saya termotivasi juga untuk menghadapi resiko yang saya miliki.

Pada awalnya rekening-rekening ini saya buat karena tuntutan pekerjaan. Tapi kemudian saya manfaatkan untuk skema “simpanan-operasional” tersebut. Hingga sekarang ada satu rekening yang rekening tabungan dan muara dari uang sisa dari rekening lainnya (termasuk digital money yang mulai ngetrend belakangan).

[Bonus] Pencatatan cashflow

Satu kebiasaan yang baik, namun saya belum konsisten yaitu pencatatan arus keuangan. Biasanya saya hanya mampu bertahan untuk beberapa bulan saja dalam melakukan aktivitas ini. Hal ini bisa dikarenakan ketika tahu kalau budgeting sudah sesuai atau lebih baik dari rencana awal. Selain itu, biasanya saya berhenti ketika ada major event yang mengacaukan cashflow (misal, berhenti bekerja, menikah, dll). Namun pada akhirnya saya yakini ini salah kebiasaaan yang baik terkait keuangan termasuk penyimpanan dana yang lebih baik. 

Sumber: Anto Daryanto

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu