Pede Itu Penting

Inspirasi Hati
Umur saya 54 tahun, dengan 2 cucu batita yang kesemuanya sedang belajar menghadirkan tantangan-tantangan baru setiap saat dalam hidup saya. Baru saja pensiun dini dari tempat kerja selama hampir 28 tahun, saya punya tantangan lain lagi karena mendadak seperti tidak punya kerjaan selama weekdays. Tidak enak rasanya, mendadak tidak punya rutinitas kerja. Cucu, di satu sisi, seakan menjadi tanda saya memang sudah tua. Pensiun, lebih-lebih lagi: Punya cucu adalah satu hal, tapi menua dan sudah pensiun adalah hal lain lagi.
Bagi sebagian besar dari kita tua, punya cucu, sudah pensiun, adalah kewajaran yang prosesnya seperti efek domino. Punya cucu sebagai cita-cita, menghabiskan waktu bersama cucu-cucu sebagai imajinasi yang manis. Kita uring-uringan jika ada proses yang tidak lancar terjadi menuju cita-cita dan imajinasi itu — belum menikah, atau belum dikaruniai anak, atau atau karena musabab lainnya. Kita mudah didera rasa kekurangan melihat “kewajaran-kewajaran” atau norma-norma sosial di sekitar kita, termasuk soal jodoh beserta kelengkapan selanjutnya seperti anak, keluarga, kelak juga cucu-cucu.
Mari saya jelaskan: Bahwa perasaan “tua” itu juga datang dari bagaimana sekarang lingkungan saya memandang diri saya ini. Saya ini memang sudah nenek, sekaligus kerap dianggap “tidak ingat umur”. Berapa dari kita yang masih suka kelepasan berkomentar “Udah nenek-nenek kok gitu tingkahnya?” melihat seorang perempuan berumur yang penampilan atau pembawaannya kita anggap tidak cocok dengan pola kewajaran atau norma-norma sosial yang kita anut? Lucunya, kita juga kerap merasa aneh melihat seorang perempuan dengan banyak uban di kepalanya. Saya kenyang diminta menutupi uban supaya tidak terlihat tua. Saya kenyang wajah saya diamati dari dekat, apakah betul keriput-keriput itu ada. Saya kenyang KTP diteliti lebih dari sekali untuk meyakinkan benar umur saya lewat setengah abad. Itu di antaranya bentuk penilaian dari orang lain, yang kadang lebih terasa mengusik ketimbang sebagai pujian. Rambut, keriput, KTP adalah hal-hal pribadi yang dipakai orang lain untuk menilai diri saya ini dari penampilan fisik semata.
Sesungguhnya, bagi saya, bagaimana cara kita menilai orang lain sebenarnya berakar hanya dari bagaimana kita menilai diri sendiri. Ada “norma-norma sosial” yang kita jadikan tolok ukur, yang kita pakai juga untuk menilai diri sendiri. Kita menganggap perempuan yang sudah tua seharusnya begini atau begitu, dan kita sendiri jadi malah gelisah tiap kali umur bertambah. Seberapa besar kesesuaian dengan ukuran sosial itu berakibat pada ponten atau angka yang kita sematkan bagi diri sendiri. Kita adalah makhluk sosial, jadi wajar saja jika kita menghubungkan diri pada sekitar kita. Menjadi masalah ketika kita menemukan ketidaksesuaian dan kita merasa kecewa. Contoh, bagaimana sih menilai “cantik” itu? Gempuran media sosial mengacaukan benak manusia lewat konten-konten seputar penampilan badaniah. Bukannya tidak kagum pada teknologi beauty filter, setelan kamera ponsel saya juga menghasilkan foto-foto lebih indah dibanding aslinya yang sesekali saya tampilkan di medsos.
Itu soal penampilan. Soal kemampuan atau kelebihan lainnya? Banyak dari kita merasa minder berada di dekat orang yang kita anggap lebih pandai, lebih berbakat, lebih ini lebih itu. Minder, dari kata Bahasa Belanda minderwaardig, adalah (rasa) kurang berarti, inferior, menganggap diri berkualitas rendah — segala rasa yang memusnahkan kepercayaan diri.
Tanpa kepercayaan diri, bagaimana kita sanggup menjalani hidup yang kerap terasa keras ini?
***
Masalahnya buat saya sekarang, sedikitnya menyangkut pameran selfie pakai beauty filter, adalah bagaimana agar saya sama percaya dirinya di dunia nyata dengan membawa kelengkapan alamiah dalam bentuk kerut-keriput-selulit di seantero kulit tubuh ini. Kita hidup di dunia nyata. Tampilan diri di medsos adalah tampilan buatan teknologi komunikasi.
Bagi saya umur adalah juga pengalaman dan lain sebagainya. Saya bangga karenanya. Saya mengamini umur yang “tua” ini. Uban? Saya mulai beruban sejak 14-15 tahun silam, selama beberapa tahun saya tutupi dengan syampo murah yang sekali pakai bisa menghitamkan rambut sampai 3-4 bulan, sebelum akhirnya saya capek. Keriput wajah, leher? Saya tidak bisa lari dari kenyataan — kita tertawa, menangis, merengut, sebagian malah meregang dalam kesakitan saat melahirkan, dan ada juga gravitasi bumi. KTP? Nah, mau lari ke mana juga saya? Tahun kelahiran harus dicantumkan di segala form isian mulai dari bank, BPJS, sampai akun Google.
Saya harus jujur di dunia nyata ini. Saya percaya hidup saya berlangsung bukan atas penilaian orang lain, melainkan bagaimana saya mau agar orang lain memandang diri saya berdasarkan nilai-nilai yang saya tampilkan. Kalau saya mau jadi “cantik”, saya sendiri yang memutuskan untuk merawat, menjaga, menyegarkan fisik. Saya ingin dihargai, maka saya terus menambah pengetahuan, ketrampilan, kemampuan diri. Berdandan dan ber-make-up sesuai kata hati, sewajarnya. Bersikap pun selalu memandang tempat dan lingkungan. Yang penting adalah rasa mantap karena saya nyaman membawa tubuh serta keseluruhan diri saya sendiri, pede aja, karena wajah, tubuh, kulit, rambut, dan diri sendiri ini punya saya seorang.
Catatan pentingnya, sekaligus penutup tulisan ini, adalah:
  1. Dalam beberapa hal kita ikut bersepakat dalam aturan atau norma sosial. Ada etika, ada etiket. Saya pribadi tidak ingin mengganggu kenyamanan sekitar saya dengan sikap yang mencolok. Proporsional saja, menyesuaikan tempat, kondisi, dan situasi. Mulai dari busana, sampaiisi pembicaraan. Tidak memaksa diri bicara tentang hal-hal yang sebenarnya tidak saya kuasai benar di hadapan mereka yang barangkali jauh lebih pandai, pun tidak bicara “tinggi” di depan mereka yang mungkin kurang beruntung dibanding saya. Kepercayaan diri bukan perkara pamer. Kepercayaan diri adalah juga soal menghargai sekitar kita.
  2. Manusia masa kini mudah “mempermuda diri”melalui cara-cara artifisial seperti makeup sampai teknologi untuk kecantikan kulit dan permak tubuh, atau metode kesehatan dan holistik. Sekadar menampilkan selfie dengan beauty filter di medsos tentu tidak dilarang. Hanya saja kebiasaan itu cenderung menjadi kebohongan bagi diri sendiri. Bangun tidur pagi kerut-merut tetap terlihat di cermin. Pekerjaan fisik tidak lagi mudah, gampang masuk angin, belum soal cidera otot. Justru dengan kesadaran akan umur yang kian bertambah seharusnya kita bisa lebih berupaya untuk hidup lebih sehat. Jangan lupa untuk menambah pengalaman, ketrampilan, yang syukur-syukur bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang lebih muda.
  3. Jujurlah pada diri sendiri. Kesanggupan mengakui kekurangan diri erat hubungannya dengan kadar humor. Semakin kita ringan hati, semakin mudah mudah pula bagi mereka di sekitar kita untuk menghargai kekurangan itu.Penghargaan itulah yang harus kita jaga. Rasa percaya diri itu saya jaga justru agar saya mendapatkan respek dari orang lain. Dihargai, bukan sekadar disanjung atau dipuja-puji, sesuai apa adanya diri saya seorang.
(Tatyana Soebianto — editor, penulis, pelaku seni, nenek dua orang cucu)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu