Penerimaan Diri dan Keadaan

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Penerimaan diri atau self acceptance adalah suatu sikap positif yang dilakukan oleh seseorang dalam menerima kelebihan dan kekurangan, tanpa menyalahkan diri sendiri maupun orang lain. Hal ini dilakukan untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan positif.

Itu adalah teori singkat dari makna penerimaan diri atau self acceptance. Mengapa saya mengangkat tema ini? Karena rasa lelah saya yang sudah berada di titik puncak.

Kata orang, jadi anak tunggal itu enak, itu yang selalu saya dengar dari semua orang sejak saya kecil, ‘enak ya dimanja’, ‘enak ya ga ada saingan’, ‘enak ya jadi pricess’, dan masih banyak lainnya. Kenyataannya? Sangat jauh dari semua itu hahaha. Yes, itulah kenyataannya. Sejak kecil saya dididik sangat keras, terhadap diri sendiri dan orang lain. Keluarga kami adalah keluarga yang sederhana dan sejak kecil terekam dalam memori saya bagaimana keluarga dari pihak ayah selalu menjelekan kami, selalu merendahkan kami, karena keadaan ekonomi kami yang biasa saja. Ibu saya selalu menanamkan pada saya bahwa kami tidak membutuhkan orang lain, kami bisa berjuang sendiri tanpa keluarga. Dari pihak ibu saya memiliki satu orang paman yang sejak muda sudah pindah menjadi warga negara asing. Jadi bisa dibilang kami tidak memiliki kerabat dekat.

Sejak kecil saya sudah dibiasakan memegang alat-alat listrik, tang, palu, dan semua keperluan rumah harus bisa saya kerjakan sendiri, mungkin itu sebabnya saya memilih jalur teknik saat kuliah.

Saya tidak dibiasakan menjadi anak perempuan yang manja dan menunjukkan emosi, saya terbiasa memendam semua emosi sendiri, sampai saat inipun seperti itu, dan itu sebenarnya bukan hal yang baik, karena ada saatnya kita harus membiarkan diri kita menjadi rapuh dan mengeluarkan emosi apa adanya. Yang terjadi pada saya, akhirnya saya sangat mengutamakan logika, saya kurang peka dengan emosi manusia, walaupun saya memahami, saya mengerti dan memaklumi, namun saya tidak terima. Karena ada hal-hal yang seharusnya tidak perlu ditangisi. Iya saya salah, saya masih belajar dan berusaha membiarkan emosi-emosi terjadi dengan alami. Sampai ada salah satu sahabat saya menyampaikan, ‘kakak ga papa kok kalo nangis’, hahaha saya malah tertawa, seringkali akhirnya yang terjadi adalah saya tertawa namun ada air mata yang mengalir. Saya tidak mengijinkan diri saya menjadi lemah, baik di depan orang maupun di belakang mereka, bahkan orang tua mengatakan bahwa saya anak yang sangat tertutup.

Bagi saya semua itu tidak masalah, karena saya harus menjaga diri saya, karena saya tidak punya siapa-siapa, kalau saya lemah, jatuh, tidak ada yang akan membantu saya, jadi saya harus selalu kuat dan bisa melakukan semua sendiri. Sejak usia belia saya tanamkan itu pada diri saya, itu sebabnya di saat Ibu atau Ayah sakit, saya tidak pernah menangis, karena saya membutuhkan diri saya 100% fokus dengan keadaan dan kenyataan. Mereka hanya punya saya, hanya saya yang bisa diandalkan, jadi saya harus kuat dalam segala hal titik tidak ada alasan.

 

Apa kaitannya dengan tema penerimaan diri dan keadaan?

Baik, ada satu fase dalam hidup saya, dimana saya mengalami kekecewaan yang luar biasa terhadap orang tua, begitu banyak masalah yang adalah kesalahan mereka, namun pada akhirnya saya yang menanggung. Saya kecewa, marah, tidak terima, mereka tahu mereka hanya memiliki anak tunggal perempuan, mengapa mereka membebani tanggung jawab pada saya sampai seperti ini, sangat tidak masuk akal. Namun, saya diam, karena saya harus menjaga kesehatan mereka yang menderita hypertention, saya pendam semua sendiri. Terkadang saya menangis sendiri dalam sujud, hanya bisa mengadu pada Allah.

Di saat bersamaan, saya mengalami hubungan yang sulit dengan pasangan, dan yang membuat saya hanya bisa diam dan menerima keadaan, karena dalam masalah ini berontakpun percuma, hanya akan memperunyam masalah, saya lebih memilih diam dan membiarkan keadaan menjadi tenang.

Dengan salah satu sahabat saya mengalami kekecewaan, yang pada saat itu sangat berat, kekecewaan yang melebihi semua kekecewaan saya kepada teman dan sahabat yang lain. Saya merasa di saat itu sangat sendiri, orang-orang yang paling saya cintai, semua mengecewakan saya. Akhirnya self defense mode on kembali aktif hahaha, ok saya tidak butuh siapapun, saya kuat, saya bisa sendiri, toh saya selalu sendiri.

Semua itu terjadi sebelum puasa, dalam satu minggu saya selalu menangis dalam sujud saya, saya nyerah, saya tidak sanggup menghadapi perasaan saya ini, terlalu overwhelm, melebihi batas kekuatan saya, saya menyerah pada Allah.

Saat mulai memasuki masa puasa, perlahan-lahan saya menemukan ketenangan batin, mulai berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Disitulah saya menemukan makna sesungguhnya dari penerimaan diri dan keadaan.

Saya bukan orang hebat, bukan wonder woman, saya hanya manusia biasa yang lemah, kekuatan saya adalah Allah. Bagaimana mungkin saya sanggup menghadapi semua ini, menyelesaikan semua masalah orang tua, dengan pasangan dan sahabat. Saat itu saya katakan pada diri sendiri, ‘kalo lo begini terus, lo bisa gila, kalo lo gila orang tua lo sama siapa? Siapa yang ngurusin mereka?’. Perlahan saya lepaskan semua, saya berdiam diri, merenung, menjauh dari semua, membiarkan diri saya fokus menyembuhkan hati saya, membiarkan diri saya menangis, membiarkan diri saya hancur, di hadapan Allah.

Perlahan saya menemukan titik terang, benar-benar merasakan proses menerima diri dan keadaan, tanpa menyalahkan siapapun, tidak menyalahkan diri sendiri, orang lain maupun keadaan.

Karena konsep penerimaan diri dan keadaan tidak akan bisa dilakukan jika kita masih menyalahkan orang lain dan keadaan. Mengapa? Karena banyak hal yang berada di luar kuasa kita, mungkin kita tidak bersalah, tidak adil jika kita tidak menyalahkan orang lain dan keadaan. Namun, apakah ada gunanya juga jika kita menyalahkan orang lain dan keadaan? Apakah hal tersebut akan menyelesaikan masalah?

Tidak!

Seringkali kita tidak punya pilihan selain diam, membiarkan orang lain dan keadaan terjadi sesuai alurnya masing-masing, tanpa bisa kita ganggu gugat. Kita hanya bisa menjadi penonton tanpa boleh berkomentar.

Sakit? Marah? Dendam? Semua itu alami, saya mengerti dan memaklumi. Tapi, bukan berarti bisa kita pertahankan, karena toh tidak menyelesaikan masalah, yang terjadi kita akan sakit, terluka semakin dalam. Enough, saya capek, lelah teramat sangat, saya tidak mau fokus dengan rasa sakit, saya mau bangkit, masih banyak kerjaan yang harus saya selesaikan, dan mereka tidak akan selesai dengan sendirinya. Rumah tidak akan bersih dengan sendirinya, orang tua saya harus makan, saya harus bangkit untuk orang tua saya, tidak peduli betapa sedihnya saya saat itu. Rasa tanggung jawab, itu harus ada dalam diri kita, kesadaran bahwa kita punya kewajiban, harus kita tanamkan dalam diri.

Kesadaran seperti itu tanpa kita sadari akan membantu kita untuk kembali ke kenyataan hidup, yang harus dihadapi, namun dengan kaca mata yang berbeda. Bukan lagi dengan kaca mata kemarahan, namun dengan kaca mata kasih.

Dalam proses penerimaan diri dan keadaan, saya menemukan kedamaian, sisi lemah lembut dalam diri saya yang sudah lama hilang karena tekanan-tekanan hidup.

Intinya:

  1. Kesadaran bahwa kita memiliki rasa sakit, amarah, dendam, and it is ok. Sadari, rasakan semua emosi tersebut, tidak perlu dilawan, disangkal, karena kenyataannya mereka ada dan terjadi.
  2. Menangislah, sesering yang disanggupi, rasakan semua kesedihan, kekecewaan, biarkan semua rasa bercampur jadi satu, lepaskan dalam tangisan. Rasakan di dalam dada bagaimana rasa sedih itu begitu besar, begitu menyakitkan, begitu menyiksa. Biarkan ledakan kesedihan mengalir, nikmati setiap tangisan yang keluar.
  3. Bernapaslah, nikmati udara yang kembali bersih masuk kedalam dada kita, setelah lega menangis. Rasakan kelegaan memenuhi rongga dada kita. Rasakan mata kita yang menjadi lebih terang setelah tangisan membersikan rongga mata kita. Kelegaan yang luar biasa karena luapan emosi yang tersalurkan.
  4. Perlahan, katakan pada diri Anda sendiri, ‘saya sedih, saya kecewa, saya menderita, dan itu semua tidak apa-apa, saya menerima semua itu, karena banyak hal yang terjadi dalam hidup yang diluar kuasa saya’. ‘Bukan semua salah saya, bukan semua salah orang lain, bukan semua salah keadaan, namun memang harus terjadi diluar kuasa saya’.
  5. Penerimaan diri dan keadaan bukan berarti kita diam, tidak melakukan apa-apa. Perlahan, kita cari apa yang harus saya lakukan, kalau bisa akan saya lakukan, kalau tidak bisa akan saya kesampingkan sejenak sampai saya temukan jalannya.
  6. Rasakan kedamaian di dalam hati.

Saya ada, saya hadir, saya menuliskan ini, untuk Anda, Kalian, diri saya sendiri, kita belajar bersama-sama, kita tumbuh bersama-sama dalam kasih Allah. Rasakan keindahan dari hal-hal kecil yang ada di depan mata kita, syukuri, nikmati.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu