Perempuan Bertanggung Jawab Atas Kebahagiaannya

Perempuan Bertanggung Jawab Atas Kebahagiaannya

Pandangan Pria

Pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah. Bisa jadi indah, bisa juga salah pilih pasangan dan timbul banyak masalah. Mungkin itu juga sebabnya banyak laki-laki yang terkesan gentar ketika ditodong soal pernikahan oleh kekasihnya. Sebagaimana perempuan memiliki pertimbangan dalam menentukan pasangan hidup, sebagai laki-laki saya pun demikian. Apalagi jika hubungan saya masih relatif sebentar. 

Sebagai laki-laki 34 tahun yang bekerja di sektor perkebunan,saya memang sedang mencari sosok pendamping hidup yang tepat. Saya jelas tidak sempurna karena tidak punya banyak waktu, tidak bisa selalu ada di samping pasangan karena tuntutan profesi, dan lain sebagainya. Beberapa kali saya menjalin hubungan, saya kenal melalui dating app maupun melalui kenalan kerabat. Bukan tidak serius. Memang belum menemukan pasangan yang tepat saja untuk bisa mengisi satu sama lain.

Dari beberapa hubungan tadi saya merasa kebanyakan dari mereka kerap membebani dengan banyak hal; minta perhatian berlebihan, minta memaklumi sikap-sikap mereka yang tidak dewasa, sampai dengan ketidaksamaan visi pernikahan. Poin terakhir itu paling krusial. Terkadang membuat saya ilfeel.

Ada yang terang-terangan ingin menikah karena merasa lelah bekerja dan ingin ada orang yang memberinya nafkah. Bukan hanya itu saja, tapi juga menuntut untuk mengayomi dan mendidiknya. Bertingkah kekanak-kanakan, tidak dewasa. Sebagai seseorang yang lebih tua saya seolah dituntut memaklumi itu semua. Parahnya, kebahagiaan mereka sepertinya bertumpu pada treatment saya. Sampai-sampai saya pikir, “Ini mau cari suami atau cari ayah?”

Beberapa cantik tapi sangat membosankan. Pikiran mereka sepertinya hanya dipenuhi masalah penampilan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Boros atas nama penampilan. Buat saya tidak ada hal menarik dari perempuan seperti itu. Tidak hanya ingin dimanjakan secara visual, saya juga butuh perempuan yang menyenangkan diajak bicara. 

Sejak itu pandangan saya berubah. Saya tidak mau lagi menghabiskan waktu dengan yang sejak awal saya rasa tidak cukup dewasa. Fisik memang selalu menarik, tapi kepribadian yang baik akan selalu membuat nyaman. Saya berusaha menggali kematangan perempuan dari sedini mungkin percakapan terjalin. Buat saya penting mengetahui seberapa perempuan itu bisa bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri, dalam arti tidak menggantungkan sepenuhnya kebahagiaan dari pasangan. Perempuan yang ingin menikah nyatanya tidak semua siap mental untuk menikah. 

Sekarang saya lebih tertarik pada perempuan yang punya karier sendiri, passionate dalam menjalankan hidupnya sendiri, yang mungkin tidak sempurna tapi sadar dan menyempurnakan diri, yang berwawasan luas dan menyenangkan. Bagi saya kenyamanan di atas segalanya. Dan kenyamanan saya rasa datang dari hal-hal itu. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu