Apakah Sang Pelaut Harus Ikut Tenggelam Bersama Kapalnya?

Perempuan & Karir

Banyak pelaut sangat setia pada kapalnya, namun jika kapal itu akan segera tenggelam apakah sang pelaut harus tinggal dan ikut tenggelam?

Berbicara tentang kesetiaan perempuan dalam pekerjaan, apakah artinya setia itu harus terus-menerus bekerja di perusahaan yang sama? Atau terus mengikuti setiap langkah dan keputusan atasan? Tentu selalu ada alasan di balik kesetiaan. Tapi satu hal yang pasti, dalam pengalaman hidup saya, yang namanya kesetiaan akan diuji dalam situasi yang tidak mengenakkan.
Setelah lulus kuliah saya bersyukur mendapat pekerjaan di bulan yang sama ketika saya di wisuda, hanya jeda sekitar dua minggu. Saya yang masih bau kencur bisa berkesempatan bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Saat itu belum terpikir oleh saya apa passion saya, untuk apa saya bekerja, atau tujuan hidup saya. Jadi saat itu saya murni hanya tahu bahwa kalau lulus kuliah ya harus kerja dan dapat gaji. Dari bau kencur, saya dibentuk dengan melewati berbagai proses di perusahaan tersebut. Sampai suatu ketika atasan saya berkata bahwa salah satu orang HR melihat potensi saya dan passion saya yang ‘people oriented’ di bidang sosial, kemudian mereka merekomendasikan saya pindah ke yayasan milik perusahaan ini. Maka saya pindah ke yayasan itu setelah bekerja selama satu tahun sembilan bulan.
Di yayasan itu saya mengenal seorang tokoh pemimpin luar biasa yang mengajarkan saya tentang arti passion. Salah satu yang beliau katakan passion itu harus selalu dikobarkan dan terkadang bukan berarti terus berada di satu tempat. Jujur, jika mau mencari kenyamanan maka di sinilah tempatnya, gaji yang sangat cukup bahkan di luar ekspektasi, lingkungan yang sangat mendukung, kalau mau pensiun dengan aman ya mungkin di sini tempatnya. Tapi, justru perkataan beliau tentang passion itulah yang membuat saya berpindah pekerjaan. Saya mau mengejar dan mengobarkan passion saya karena saya berpikir belum saatnya saya melabuhkan kapal. Tiga tahun saya di bekerja di yayasan ini.
Menggabungkan dua pelajaran dari dua tempat kerja ini saya akhirnya memulai dari bawah. Dari bekerja di sebuah panti asuhan, organisasi perempuan nonprofit perempuan tempat saya bisa mengembangkan keterampilan baru di bidang digital media sosial, bagaimana mempelajari manusia dalam jejak digital, sekarang saya sudah tiga tahun bekerja di salah satu NGO Internasional.
Sebelum saya diwawancara untuk pekerjaan saya ini sebetulnya ada juga wawancara yang berbeda, sama-sama NGO Internasional, namun saya terkena stigma ‘kutu loncat’ oleh HRD di NGO itu. Dari CV saya terlihat sepertinya saya suka berpindah tempat kerja. Saya pikir “Wah, sepertinya di interviu berikutnya bisa-bisa tidak lolos juga karena ini.” Tapi ternyata CV saya tidak menjadi fokus utama. Bahkan dari wawancara mereka cenderung bertanya tentang apa yang bisa saya kontribusikan untuk NGO ini dengan berbagai pertanyaan kasus yang bisa saya jawab melalui pengalaman pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.
Mungkin dalam kehidupan ini kita akan banyak menemui pertanyaan tentang kesetiaan di bidang pekerjaan, seperti sampai sejauh mana makna kesetiaan itu dilihat dari lama waktu bekerja? Apakah kita langsung dicap tidak loyal pada perusahaan jika berpindah pekerjaan? Atau apakah bahkan ada yang mempertanyakan motif kesetiaan seseorang di tempat kerja itu? Jawabannya tentu bisa bermacam-macam dan relatif.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa berdampak negatif, apalagi bagi seorang perempuan. Bisa menimbulkan rasa insecure dalam dirinya, dan akibatnya dia bisa membuat keputusan yang salah untuk masa depannya. Dari segala sesuatu yang ‘relatif’ itu kita harus menemukan satu yang ‘absolut’ untuk hidup kita, dan itu bisa ditemukan saat kita sudah tahu tujuan hidup kita. Untuk saya, yang absolut adalah saya memberikan kesetiaan saya kepada Dia (Tuhan) yang mengungkapkan apa tujuan hidup saya, yang di dalamnya terkandung passion dan potensi. Dia yang saya percaya tidak akan pernah meninggalkan kita, tidak seperti manusia yang bisa iya bisa tidak, tergantung kondisi. Oleh karena itu saya selalu ‘secure’ atau aman dalam menjalani hidup ini, membuat saya bisa bertahan bahkan membuktikan saya bisa lepas dari stigma-stigma buatan manusia.
Jika kita sudah memberikan kesetiaan kita pada satu hal yang absolut itu, percayalah, bagi saya itu membuat kita bisa memberikan seluruh potensi, talenta yang sudah Tuhan berikan untuk saya di tempat kerja dengan totalitas tanpa ada rasa takut dipecat, diabaikan, atau ditinggal, bahkan saat saya sempat tidak bekerja selama  tiga bulan saya tetap bisa produktif membuat usaha online shop. Semua itu karena saya diproses dalam pengalaman-pengalaman di tempat kerja sebelumnya, karena semuanya itu bukanlah suatu kebetulan. Itu proses. Proses tidak akan mengkhianati hasil, maka responlah proses itu dengan selalu memberikan yang terbaik.
Jadi apakah sang pelaut harus tinggal dan ikut tenggelam bersama kapal yang akan tenggelam itu? Saya pikir jika ada peluang untuk menyelamatkan diri maka selamatkanlah diri kita dan lanjutkan kesetiaan itu di kapal berikutnya dengan memberikan kontribusi yang terbaik dan berdampak signifikan bagi sesama kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu