Perilaku manipulatif

Perilaku Manipulatif Darinya Membuatku Terus Menyalahkan Diri Sendiri

Kisah Utama

Urbanwomen – Namaku Yulia, 27 tahun, single mother. Gagal di perkawinan pertama, aku pernah kembali membuka hati kembali tapi justru mendapatkan pasangan yang hobinya selingkuh. Sesudah itu aku masih bertemu laki-laki lain. Semula aku tidak serius menanggapinya karena saat itu aku masih dalam proses penyembuhan luka hati.

Tapi kuterima dia juga, karena rasanya nyaman bersama dengannya. Saat itu karierku cukup bagus. Walau hanya lulusan SMK aku mampu mendapatkan jabatan menjadi supervisor di perusahaan retail. Laki-laki itu sangat royal, tak segan mengeluarkan uang hingga berpuluh-puluh juta setiap bulan, menawarkan kemewahan yang tidak kudapatkan seperti makan di tempat mewah, perawatan tubuh, dan lain sebagainya.

Ketika itu aku kuliah sekaligus bekerja. Awalnya dia tidak mempermasalahkan. Setelah hubungan kami berjalan kurang lebih 3 bulan mulailah terlihat sifat aslinya. Dia minta aku berhenti kuliah dan berhenti kerja. Alasannya karena dia merasa aku terlalu sibuk sehingga tidak bisa selalu ada waktu untuknya. Karena kupikir dia mampu memenuhi segala kebutuhanku setiap bulan, kuturuti kemauannya, resign dari pekerjaan. Kami tinggal bersama waktu itu, dan semakin terlihat semua keburukannya. 

Sebetulnya aku sudah melihat sinyal tidak baik saat berkunjung ke rumahnya, pertanda bahwa dia bukan laki-laki baik. Dia kasar pada orangtuanya, lisan maupun fisik, termasuk terhadap ibunya sendiri.  Semakin lama, apa yang dia lakukan pada ibunya juga terjadi padaku. Ketika beberapa kali kami bertengkar hanya karena hal sepele dia begitu mudah menjadi marah, dan melukaiku. Dia juga menghina-hina diriku, menganggapku perempuan tak berarti. Tapi aku selalu memaafkannya karena sesudah berbuat kasar dia selalu memohon-mohon dan berjanji tidak akan mengulangi. 

Sewaktu aku hamil, dia berjanji akan bertanggung jawab. Kami pun menikah siri. Selama aku hamil, dia memperlakukanku seperti pembantu yang harus bersedia melayaninya terus-menerus. Gaji yang didapatkannya di perusahaan baru jauh lebih besar, tapi dia cum memberiku sedikit untuk kebutuhanku sebulan. Aku sempat berjualan online, untuk menambah penghasilan. Tapi hanya sedikit sekali uang yang aku dapatkan, tak cukup untuk sebulan. Perlakukannya semakin kasar, dan aku keguguran karena stres.  Perilaku kasar yang dia lakukan saat itu, membuatku stress setiap hari hanya bisa tidur selama 2-3 jam setiap hari hingga memutuskan ke psikiater. Untungnya, aku tak perlu mengeluarkan biaya saat berkonsultasi karena memakai BPJS. Aku juga beralasan sakit ketika berkonsultasi, agar diizinkan keluar olehnya.

Aku memaksa diri untuk bertahan. Aku juga takut. Adakah laki-laki pria yang mau menerimaku dengan kondisiku seperti itu, selain dia?

Dia masih berlaku aniaya. Kasar pada ibunya, bahkan di depanku. Aku tidak punya kuasa untuk melawannya. Bantahanku akan berujung saling pukul. Beberapa kali aku diusir tiap kali kami bertengkar. Tapi aku tidak tahu lagi mesti ke mana. Ujung-ujungnya aku menyalahkan diri. Aku merasa tidak becus jadi istri. Aku mencari pembenaran atas kesalahannya. Betulkah aku perempuan tidak becus, atau pembangkang, sehingga dia jadi seperti itu. Sampai akhirnya aku mencari tahu sendiri, mencari info sebanyak mungkin, banyak membaca artikel, dan lain-lain. Sungguh tidak ada jaminan dia akan berubah, mau berapa lama pun aku mau menunggu.  

Tuhan begitu meyakinkan aku saat memutuskan untuk berpisah dengannya. Ketika berpamitan dan berencana pulang ke kampung, aku sempat dianiaya olehnya di depan orangtuanya. Untungnya aku ditolong oleh ibu mertua dan om. Aku disuruh keluar rumah, sampai ibu mertua yang mengeluarkan semua barang-barang. Saat itu juga aku pergi dan keluar dari rumah, memutuskan tidak akan kembali padanya. Untungnya, aku masih memiliki simpanan dari hasil berjualan onine yang bisa aku gunakan terlebih dahulu. 

Baca Juga: Hubungan Harmonis Gak Cukup Modal Cinta

Kini aku berencana melanjutkan kuliahku yang tertunda dan bekerja kembali. Nanti, seandainya  bertemu dengan seseorang aku akan tetap bekerja. Aku tidak ingin takut kehilangan, dan menjadi lebih mandiri. Aku harus menata masa depanku. 

Jika mengalami hal seperti pengalamanku jangan ragu untuk mencari pertolongan, dan tempat untuk bercerita. Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan menyakitimu dengan sengaja.

Sumber: Yulia, 27 tahun, di Jawa

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu