Toxic

Perjuanganku Menyembuhkan Luka diri karena Hubungan Toxic

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Cassandra, 44 tahun, pengusaha di Jakarta. Aku beberapa kali terjebak dalam hubungan yang toxic. Jika sudah menunjukan tanda hubungan tersebut toxic biasanya aku cepat menyadarinya. Sebelum menjadi pribadi yang lebih bahagia, stabil, dan hampir tanpa drama, pengalaman masa laluku memang kurang menyenangkan.

Bertahun-tahun aku terjebak ke dalam hubungan toxic. Aku  sudah biasa mengalaminya. Salah satu faktornya karena aku berasal dari keluarga broken home, orangtua tidak punya waktu dan tidak peduli pada anak-anaknya. Mereka sibuk sendiri. Aku jadi punya ketergantungan pada laki-lali yang bisa memberi perhatian lebih, yang kubalas dengan tubuhku, uang, dan waktu.

Pernah ada seseorang yang cocok diajak berbicara dan memberi perhatian lebih padaku. Dia selalu bersedia mendengarkan cerita masa laluku yang pilu. Aku sampai berpikir “Ini dia jodohku.”  Momen-monen bersamanya terasa manis sehingga aku berpikir terlalu jauh tentang dia. Aku membanggakan dia,  dan rela melakukan apapun agar tetap bisa bersamanya. Aku menganggap diriku sungguh beruntung.  

Tapi lantas aku juga mendapat kekerasan fisik, masalah keuangan, ditambah beberapa fasilitasku yang dimanfaatkan olehnya. Aku juga diduakan. Sampai akhirnya aku sadar hubungan itu sudah sangat salah. Tidak ada lagi kebahagiaan di dalamnya. Aku sering menangis sedangkan pasanganku tidak peduli. Sesungguhnya aku berprinsip untuk  menjalani hubungan sampai akhir. Tapi aku lantas menyadari hal itu sebaiknya tidak dipaksakan.

Hubungan terakhir yang kujalani juga cukup parah. Sempat diriku menangis berhari-hari sampai bola mataku terluka dan mengganggu penglihatanku. 

Kenapa aku sampai berkali-kali memilih bertahan dalam hubungan yang toxic adalah karena aku merasa lemah tanpa mereka. Pandangan yang salah ini menjerumuskanku ke dalam masalah yang lebih besar. 

Aku sangat lelah karena terus berkorban. Letih emosional, tabunganku juga habis. Setelah berjalan selama 20 tahun dengan laki-laki yang berbeda-beda, aku sadar mereka bukan siapa-siapa. Semua hanya janji murah semata untuk mempermainkanku. Aku berkonsultasi ke psikolog untuk mengobati luka batin. Proses penyembuhan dilakukan dengan menggunakan metode sandplay menggunakan pasir dan patung. Selama 2 tahun secara rutin seminggu sekali aku menjalani metode ini, terapi alam bawah sadar terbaru yang sangat efektif untuk membantu memyembuhkan trauma  yang cukup dalam. Metode in tidak butuh cerita tentang penyebab trauma sehingga terapi bisa lebih nyaman dan informasi pribadi juga terjaga dengan baik. Saat itu aku didiagnosa mengalami delusi, tidak bisa membedakan mana kenyataan mana khayalan. 

Saat kondisiku sedang jatuh pun orangtuaku tidak peduli. Hanya teman-teman yang mendukungku secara mental. Keinginanku kuat untuk berjuang sendiri agar sembuh. Aku disadarkan bahwa ternyata aku tidak selemah itu dan tidak perlu mencari pahlawan dalam hidupku. Aku bisa menjadi pahlawan untuk diri sendiri selama aku bisa berpikir dengan baik dan tetap tenang. Konseling memperbaiki pola pandangku terhadap diri sendiri, kejadian masa lalu, dan persepsi tentang dunia.

Aku mulai menjadi pribadi yang lebih tenang dan percaya diri. Aku mulai belajar banyak, membaca tentang bagaimana menjalani hubungan yang sehat. Karena sudah berdamai dengan keadaan, saat aku tertarik dengan seseorang aku tidak lagi memberikan semua yang untuk dirinya. Aku kaji terlebih dulu. Memang, mencari pasangan yang cocok dan mencintai kita ternyata tidak semudah itu. 

Baca Juga: Jangan Mulai Hubungan Baru Kalau Kamu…

Sampai sekarang aku belum menemukan pasangan yang cocok tapi aku bahagia. Aku tidak terperangkap lagi dalam hubungan yang membuatku tertekan dan tidak bahagia. Setidaknya  saat ini jauh lebih baik dibandingkan dulu ketika menjadi bucin. Tapi aku tetap menunggu laki-laki yang tepat. 

Jangan pernah menjadikan laki-laki sebagai sumber solusi masalah kita. Lebih baik, sembuhkan diri terlebih dulu sebelum memulai hubungan kembali. Buatlah diri sendiri bahagia dan tenang. Setelahnya baru perlahan mencari pasangan yang sepadan sehingga kita menjadi lebih objektif dalam proses perkenalan.

Sumber: Cassandra, nama disamarkan, 44 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu