sahabat terbaik

Pernah Alami Depresi, Menyadarkanku Bahwa Teman Terbaik adalah Diri Sendiri

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Flow, 33 tahun, karyawan di Jakarta. Dulu aku suka sekali curhat pada orang-orang terdekat. Ketika sedang merasa stres, semua kutumpahkan pada sahabatku. Aku yang semula tidak suka mengirim pesan panjang, di saat depresi aku mengetik pesan panjang-lebar hampir setiap hari. Ini karena orang-orang terdekatku tidak sekantor denganku. Saat sedang terjatuh, aku ingin ada orang yang mendengarkan, ingin banyak berbagi keluh kesah. Karena jika aku diam saja, biasanya aku lebih sering menangis. 

Di awal pandemi, aku merasa benar-benar down, dan bnyak sekali pikiran negatif muncul di kepala. Aku jadi curhat berlebihan. Padahal banyak orang yang lebih susah, tiap orang punya masalah sendiri. Sampai ada salah satu sahabat bilang bahwa aku cuma memikirkan dir sendiri tanpa peduli orang lain. Aku lupa, aku terlalu sering menceritakan masalahku, cuma mau didengarkan, sedangkan dia tidak ada tempat untuk bercerita. Aku jadi sering bertengkar dengan beberapa teman. Satu temanku sampai muak mendengarkanku. Mereka tidak membalas pesanku, karena masalahku itu-itu saja. Mereka capek. 

Masuk umur 31 aku merasa hidupku berat. Keluhan-Keluhanku itu sama saja dengan aku membagi energi negatif. Tahun ini, setelah dijauhi sahabat-sahabatku, aku mulai melakukan healing (penyembuhan) luka batin.  Mulai dari sinilah proses pendewasaanku. 

Sebetulnya curhat itu tidak salah, aku juga curhat tidak pada orang yang salah. Tapi aku memberi beban terlalu banyak pada orang-orang sekitar, sampai berlebihan. Aku sudah dewasa, setidaknya aku bisa memproses emosi yang kurasakan. Belajar memahami apa yang terjadi dalam diriku, kutemukan self love. Aku mulai membersihkan racun-racun dalam diri, rasa sesak yang kurasakan. 

Aku sadar orang lain tidak “berutang” padaku. Aku merasa kecewa karena mereka kuanggap sahabatku, kenapa mereka tidak bersedia mendengarkan, tidak peduli denganku. Aku sudah tidak bisa melihat masalah orang lain karena merasa masalahku paling berat. Ketika aku diminta memeriksakan kesehatan untuk kebutuhan pekerjaan, baru terdeteksi aku mengalami gangguan psikosomatik, jatuh sakit tiap kali banyak berpikir. Beban pikiran menyebabkan penyakit fisik. Aku muntah-muntah, pusing, sakit punggung, sampai harus ke psikiater. Aku didiagnosa mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Itu semua terjadi karena aku memasuki masa transisi. Baru berkarier sebagai karyawan tetap ketika di usia 30 tahun, masa magang yang panjang, dan lain-lain. Itu membuatku belum sepenuhnya siap menerima keadaan. 

Saat aku berada di titik paling rendah, tidak satu pun keluarga yang tahu. Aku terlihat biasa saja di depan mereka. Perjalanan karierku yang berat, hanya aku yang mengetahuinya. Maka dari itu aku mencari support emosional dari keluarga dan media sosial. Tapi ternyata hanya diri sendiri sajalah yang paling mengerti.

Aku semakin sadar aku mengalami codependent (pola hubungan yang membuat diri sendiri tergantung pada orang lain, hampir untuk setiap keputusan yang dibuat). Selalu bergantung pada orang lain, selalu mencari orang, tapi aku tidak mampu menguraikan masalah di dalam diriku. Yang aku tahu hanya cara membuangnya saja dengan menceritakannya pada orang lain.

Aku sendirian saat itu, jadi kugunakan kesempatan untuk introspeksi diri. Aku mendalami spiritual, belajar melihat hidup lebih berbeda, menjadi pribadi yang dewasa. Sadar, bahwa kalau hanya 1 orang yang pergi meninggalkan kita berarti kesalahannya terletak pada diri orang itu. Tapi, jika sudah banyak yang meninggalkan kita, berarti letak kesalahannya ada pada diri kita.

Aku berusaha menyembuhkan, mencari tahu apa yang membuat diriku seperti itu. Belajar untuk nurturing dan reparenting diriku. Jadi, ketika aku sedang sedih, aku akan bicara pada diri sendiri, memberi diriku sendiri kenyamanan. Seperti “aku tahu kamu sedih” sambil elus diri sendiri. Belajar menerima emosinya dulu, saat sedih, terasa berat. Itu pertama kali aku benar-benar bisa menerima emosi yang kurasakan.  

Jadi, apa yang kucari dan kubutuhkan dari orang kuberikan untuk diri sendiri. Seperti kenyamanan dan mau didengarkan saja. Aku berusaha menjadi sahabat terbaik, menerima dan paling mengerti untuk diri sendiri. Akulah yang seharusnya memvalidasi diri sendiri, bukan orang lain. 

Baca Juga: Jangan Sembarangan Curhat : Tips Memilih Tempat Curhat yang Tepat

Ya, curhat memang tidak salah. Asalkan kita sendiri memahami emosinya terlebih dulu. Ketika curhat tidak berlebihan, tidak meledak-ledak, dan tahu batasannya. 

Sumber: Flow, 33 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu