hubungan-red-flag

Red Flag Dalam Hubungan Menurut Pria, Baiknya Dilanjutkan atau Disudahi?

Pandangan Pria

Urbanwomen – Halo Urbansis, Urban Women mengajukan dua pertanyaan pada tiga orang laki-laki dengan usia dan latar belakang yang berbeda-beda. Kira-kira, apa ya yang akan mereka lakukan jika terdapat red flag dalam hubungan mereka? Simak yuk!

Sebagai laki-laki, hal apa yang paling membuat kamu ilfeel pada seorang perempuan?

“Yang pertama terlalu tergantung dan tidak mandiri. Hubungan itu harus “saling”, tidak hanya salah seorang saja. Misalnya,  tidak ada salahnya perempuan ikut membayari makan. Makanan seharga 100 ribu rupiah, dibagi 70 ribu dari laki-laki-laki dan 30 ribu dari si perempuan. Tidak masalah kalau perempuan bisa berkontribusi. Bagi saya, laki-laki akan lebih mudah kagum pada perempuan seperti itu, berinisiatif dan berusaha untuk saling. Kedua, biasanya laki-laki kurang nyaman pada perempuan agresif. Baru masa pendekatan saja sudah “nempel-nempel”. Perempuan seperti ini sebetulnya bisa saja dimanfaatkan dalam hubungan tanpa didasari rasa suka. Ketiga, saya kurang nyaman dengan perempuan yang sering bercerita bahwa dia disukai oleh banyak laki-laki. Keempat, biasanya laki-laki akan risih jika terus-menerus dituntut memberi kabar setiap saat, apalagi kalau dia bekerja tentu akan sangat mengganggu. Kelima, berlebihan ketika menyukai sesuatu. Saya paham setiap orang punya idola masing-masing, tapi jika sudah berlebihan atau bahkan sampai marah-marah ketika ada orang tidak menyukai idolanya itu bisa bikin sangat risih. Yang terakhir adalah curigaan. Tiba-tiba dituduh selingkuh tanpa alasan jelas padahal hanya karena tidak dihubungi seharian. Lebih baik tanyakan dulu sebelum mengambil kesimpulan yang tidak-tidak” (Denta, 28 tahun, freelancer, di Tangerang. )

“Saya ilfeel ketika dalam masa pendekatan lalu tahu bahwa dia merokok. Llebih soal kesehatan ya, karena rokok bisa menyebabkan gangguan kehamilan dan janin. Khawatir, kalau kebiasaan merokoknya tidak hilang sampai menikah, kemungkinan besar akan berpengaruh pada anak yang dikandungnya.” (Rifki 23 tahun, karyawan swasta, di Jakarta)

“Perempuan yang hanya memenuhi isi kepalanya dengan uang alias matre. Biasanya ya, perempuan seperti itu punya standar hidup tinggi tapi malas berusaha. Mereka menganggap cinta datang karena uang, selama pasangannya punya uang, terserah orang mau bilang apa. (Yudha, 24 tahun, karyawan swasta, di Jawa Timur)

Jika terdapat red flag dalam hubunganmu, apakah kamu tetap mau melanjutkannya?

Menurut Denta dia akan berusaha memberitahu pasangannya agar bisa berubah menjadi lebih baik. Jika sudah diberi masukan terus-menerus tetap tidak ada perubahan, meskipun sudah lama menjalani hubungan, lebih baik tidak dilanjutkan. Apalagi jika niatnya memang ingin menikah, lebih baik disudahi. Karena menikah itu jangka panjang, jadi jika dipertahankan kemungkinan besar akan memicu konflik secara terus-menerus.

Baca Juga: 15 Tahun Alami KDRT, Kini Aku Menjadi Pribadi yang Kuat dan Bahagia

Menurut Rifki, kalau red flag lebih mengarah pada bertukar sosial media tidak masalah karena harus ada keyakinan yang membuat pasangan percaya. Tapi kalau sudah melarang-larang, tidak boleh bertemu dengan teman-teman, lebih baik tidak dilanjutkan. Biar bagaimanapun hidup kita tidak melulu soal pasangan, tapi ada teman-teman dan keluarga.

Sedangkan menurut Yudha, dia akan tetap melanjutkan hubungannya. Dia yakin semuanya bisa diselesaikan secara baik-baik. 

Itulah pendapat tiga orang laki-laki berkaitan dengan red flag, berdasarkan pengalaman masing-masing. Jadi, apakah Urbansis sependapat dengan mereka? 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu