Rezeki Tak Berpintu

Inspirasi Hati

 

Beberapa tahun silam, ketika saya menemani Ibu ke gereja pagi dan kami berjalan pulang di parkiran motor, seorang laki-laki setengah baya mendekati kami. “Ibu apa kabar?” sapanya, sembari menyalami ibu saya yang memang dulunya berprofesi guru. Setelah perbincangan singkat, ibu saya mengeluarkan selembar uang 20 ribu dan memberikannya kepada lelaki tersebut.

 

 

 

Dalam perjalanan saya bertanya, siapa dan mengapa ibu saya melakukan hal itu. Ibu menjelaskan, lelaki tersebut bekas muridnya yang tidak lulus dan sekarang tak punya pekerjaan. “Kasihan…” begitu imbuhnya ketika itu. Saya dengan cukup kritis tidak menyetujui hal itu. Saya berkeras, dia masih cukup muda untuk bekerja jika mau. Ibu tak membantah banyak, hanya bilang. “Jangan begitu, toh cuma sesekali memberikannya…”

 

 

 

Selepas bergereja, biasanya aktivitas kami selanjutnya adalah mengisi perut. Saat itu saya sedang ingin soto. Bukan sembarang soto, tapi Soto Rajawali, salah satu soto terkenal di Padang yang akan habis bahkan sebelum pukul 11 di hari Minggu. Maka segera saya arahkan motor ke Jalan Ir. H. Juanda sembari menyusuri pinggiran pantai Padang.

 

 

 

Soto paru adalah soto favorit saya. Paru, atau dikenal dengan rabuh di restoran ini, gurih seperti kerupuk namun tetap renyah. Sembari menyantap makanan pagi, Ibu menceritakan kembali sedikit kisah tentang laki-laki yang tadi kami temui di gereja. Kisah hidupnya yang juga tidak mulus, gagal menikah, saudara yang sering menuntut, “Makanya dia terlihat seperti orang ling lung..” curhat Ibu menutup cerita tersebut.

 

 

 

Sembari menyeruput soto, saya membayangkan kembali muka laki-laki tersebut. Kasihan juga, pikir saya setelah mendengar secara utuh potongan ceritanya. “Padahal dia pintar…” gumam Ibu seperti belum selesai dengan ceritanya. “Jalan hidup manusia memang sulit ditebak,” Ibu menyimpulkan perbincangan yang tak ada ujungnya ini.

 

 

 

Di Padang, pertemuan dengan orang-orang yang dikenal memang sering terjadi. Maklumlah, di kota kecil ini tempat yang sering dikunjungi akan berkisar itu-itu saja, sehingga wajah-wajah familiar hampir pasti ditemui. Begitu juga pagi itu di Soto Rajawali, bekas murid Ibu yang lain juga terlihat sedang menikmati makan pagi. Bertegur sapa sejenak lalu kembali ke meja masing-masing, sudah menjadi rutinitas jika bertemu.

 

 

 

Seselesainya kami makan, ketika hendak membayar, sebuah kejutan kecil menanti. “Sudah dibayar oleh keluarga tadi…” begitu ucap kasir ketika saya mengulurkan uang. Ibu kemudian tersenyum simpul, “Waduh, dibayarin tapi belum bilang terima kasih.”

 

 

 

Sembari pulang, Ibu mengingatkan saya, “Lia, tadi pagi Mami memberi uang 20 ribu, sekarang kita dibayari makan. Rezeki itu tak berpintu ya!” Saya terenyuh mendengarnya. Kata-kata Ibu seperti tamparan yang menyadarkan saya, betapa pelit dan sok kritisnya saya tadi pagi. Hidup seperti memperlihatkan pada saya, jika mau hanya dalam hitungan jam akan dikembalikannya apa yang diberi dengan tulus itu berkali lipat.

 

 

 

Pagi itu saya memperoleh pelajaran penting yang harus saya ingat dalam hidup, yaitu soal memberi dan berbagi. Menerapkan hal ini tentunya tidak mudah, tapi jika dilakukan dengan ikhlas selalu ada balasan yang tanpa kamu sadari akan datang menghampiri.

 

 

 

Bulan lalu saya menyisahkan sedikit uang dari pekerjaan saya yang tidak tetap untuk membawanya berkeliling Jawa. Perjalanan sederhana dengan fasilitas seadanya. “Lia kan sekarang kerjanya ga tetap, uangnya disimpan saja…” begitu ucapnya ketika saya ajak. Lalu saya jawab, “Ma, rezeki itu tak berpintu. Menyenangkan orang tua tentu akan ada pahala lainnya.” Sepulang dari perjalanan tersebut, seorang sanak yang lama tak berjumpa dengan saya, tanpa ada peristiwa khusus tiba-tiba menyerahi saya angpao. “Ini untuk apa, Ce?” dengan senyum dia hanya tertawa, sambil berkata, “Sudah, ambil aja, untuk Lia.”

 

 

 

Saya terkejut ketika menyadari jumlahnya kira-kira hampir sama dengan pengeluaran saya untuk membiayai perjalanan singkat saya dengan Ibu. Maka rasanya tak salah jika saya katakan, “Rezeki itu tak berpintu, jangan takut untuk berbagi.”

 

 

 

 

 

Bandung, 2016-10-22

 

ivy

 

*biru yang selalu dikejutkan hidup

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu