Impian-Menjadi-Penulis-Internasional

Sambil Menggendong Anak, Aku Berhasil Wujudkan Impian Menjadi Penulis Internasional

Kisah Utama

Urbanwomen – Jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Ada yang menikah muda tapi pekerjaan belum stabil, ada yang sudah bisa berkarier di usia muda tapi tidak kunjung mendapatkan jodoh. Aku menikah di usia 23 tahun, mengejutkan banyak orang yang berharap aku bisa lanjut studi S2 dengan beasiswa seperti keinginanku ketika itu.

Tidak kunjung mendapat beasiswa, kuturuti tuntutan sosial yang ditujukan kepada setiap lulusan sarjana: bekerja kantoran. Melamar sana-sini pun tidak ada yang berjodoh. Padahal aku termasuk berprestasi di kampus. Setelah kupikir-pikir dan menimbang kembali prinsip hidupku, aku sadar bahwa jalan hidup setiap orang tidaklah sama. Aku pun menikah dengan pacar sekampus. Umur 24 tahun aku sudah mempunyai anak, jadi ibu rumah tangga. Tapi semua tidak menghentikanku untuk terus belajar.

Kalau anak sedang tidur, aku berselancar di Internet, menuangkan pikiran, ide, dan gagasan melalui tulisan dan mencoba melamar sebagai freelancer. Pertama kali aku menulis untuk koran berbahasa Inggris The Jakarta Post. Tulisanku juga mulai terbit di media internasional. Tidak banyak, hanya satu berita setiap dua bulan. Pendapatanku juga sangat lumayan walau hanya di rumah, honor bisa sampai 2 juta rupiah.

Itu semua tidak instan. Beberapa kali tulisanku ditolak. Pertama kali menulis, banyak sekali revisi, atau dinilai kurang tajam. Belum lagi komentar pedas lainnya. Aku sempat merasa tidak percaya diri, tidak ingin menulis lagi. Tapi sayang sekali kalau aku menyerah begitu saja. Aku coba lagi, aku terus belajar menulis. Sampai suatu ketika aku mendapat undangan ke Papua untuk meliput konservasi hiu paus. Itu adalah impianku sejak lama, hanya sayangnya aku masih menyusui anak pertama. Aku juga membatalkan fellowship ke Berlin karena masih menyusui anak kedua. Sempat merasa sedih, tapi semua itu diganti dengan yang lebih baik.

Aku berhasil mendapatkan kesempatan pelatihan jurnalisme sains dari organisasi dunia, dan belajar dari jurnalis sains senior dari publikasi-publikasi terkemuka. Aku tak berhenti belajar dari beberapa narasumber yang notabene ilmuwan dari universitas-universitas bergengsi di dunia. Aku tak pernah menyangka impianku terwujud ketika aku sudah menikah dan punya anak. Semua itu kulakukan sambil menggendong anak dan mengupas bawang. 

Teknologi memudahkanku, dan semua orang, untuk membantu mewujudkan cita-cita. Aku tetap bisa belajar meski tidak bersekolah, tetap bisa bekerja meski bukan di kantor. Bali, Kuala Lumpur, Hanoi, Tokyo, Seoul, San Francisco, Lausanne, Sitandiang, Kereng Bangkirai, Asilulu, Bajo Mekar, semuanya bisa gratis dikunjungi tanpa harus menjadi mahasiswa yang menerima beasiswa ataupun pekerja kantoran.

Baca Juga: Usia Bukan Halangan: 3 Wanita Ini Memulai Profesi Baru di Usia yang Tidak Muda

Penghasilanku bertambah. Yang membanggakan, adalah sepucuk surat dari seorang guru besar ITB, salah seorang ilmuwan pimpinan senior di Observatorium Bosscha, Bandung, “Artikel-artikel Anda membuka mata, saya bahagia banyak orang minta di copy-kan artikel Anda. Selamat bekerja dan beropini menggaungkan suara pikiran dan hati dari sektor dasar dan penelitian.” Ya, itu membuktikan bahwa menikah tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti memperjuangkan cita-cita. Semua yang kuinginkan sudah terwujud, tapi aku tak puas diri, tetap belajar menulis dan mempelajari ilmu parenting untuk mendidik anak-anakku.

Jadi, menikah, menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Semuanya akan datang sesuai waktu yang telah ditentukan. Tetap berpegang teguh pada prinsip hidup kita, terus belajar dan tetap semangat menggapai cita-citamu.

Sumber: Dyna, 32 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu