Notice: fwrite(): write of 571 bytes failed with errno=122 Disk quota exceeded in /home/urbanwom/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 43
Sebelum Belajar Tentang Hubungan Sehat, Perilaku Kasarnya Kuanggap Tanda Sayang – Urban Women
Perilaku kasar saat pacaran

Sebelum Belajar Tentang Hubungan Sehat, Perilaku Kasarnya Kuanggap Tanda Sayang

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Riana, 29 tahun, karyawan swasta di Jawa. Hubungan toxic kujalani berlangsung 3 tahun semasa kuliah. Awalnya dia sosok yang bisa menerima diriku apa adanya, tidak pernah menuntut dan begitu perhatian. Dia pacar pertamaku, aku tidak apa-apa tentang hubungan yang sehat atau tidak. Semua yang dia lakukan kuanggap sangat wajar sebagai tanda sayang dan perhatian.

Dia sering berkata-kata kasar, jika kami bertengkar dia pergi begitu saja, tidak suka diskusi dan sering menyimpulkan sendiri. Dia menjadi posesif dan banyak mengatur, sampai caraku berpakaian juga diatur. Aku tidak boleh pakai rok, pakaian harus longgar. Kalau aku melanggarnya, dia langsung mencaci-maki dan merendah-rendahkan. Aku pernah mencoba terus-terang bahwa aku tidak suka diperlakukan seperti itu, tapi dia malah menyalahkan, tidak mau minta maaf dan memperbaiki sikap. Kuliahku terganggu. Ketika ada tugas sampai larut malam dia memaksaku pulang atau dia memarahiku dan bahkan sampai memblokirku. Dia juga minta aku memutuskan kontak dengan semua teman laki-lakiku. Kalau ditanya kenapa aku tidak putus saja dengannya, itu karena sikapnya yang selalu berubah. Kadang manis sekali, kadang sangat kasar. Aku sempat yakin dia bisa berubah menjadi lebih baik.

Kami sempat berencana menikah. Aku kenalkan dia dengan orangtuaku, demikian pula sebaliknya. Aku jadi tambah yakin. Tapi dia malah semakin seenaknya, semakin kasar, bahkan sampai memukul. Aku menutupi semuanya dari keluargaku, sampai ibuku curiga karena aku sering murung dan terlihat lebih kurus, tidak bersemangat. Pertama kali ibu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi aku tidak berterus-terang dan beralasan tugas kuliah sedang banyak sehingga aku kelelahan. 

Pacarku juga selingkuh. Aku tahu dari handphone-nya. Ketika kutanyakan, dia marah karena aku membuka handphone-nya tanpa seizinnya. Aku malah yang harus minta maaf. Setiap kali habis memukulku dia minta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi. Aku selalu luluh dan memaafkannya. 

Sampai suatu ibuku melihatku menangis di kamar. Kuceritakan saja apa yang sebenarnya kualami. Ibuku bilang bahwa hubunganku tidak wajar, tidak baik jika dilanjutkan sampai ke pernikahan. Kata ibuku itu sudah karakternya, akan sulit diubah.

Aku lantas cari tahu lebih jauh seperti apa hubungan yang sehat dan tidak. Aku jadi paham bahwa pertengkaran itu wajar selama tidak mengarah pada caci-maki apalagi memukul. Aku merasa bodoh dan tidak ingin menikah dengannya dan mencari cara untuk mengakhiri hubungan. Aku mulai memaksakan diri untuk menjauh darinya, selalu membangkang perintahnya. Marahnya tidak kupedulikan lagi. Dia menuduhku selingkuh dan lain-lain. Pas betul momennya untuk mengakhiri hubungan.  Rasanya seperti keluar dari kandang, ternyata lega sekali, bebas walau semula sempat merasa berat dan ragu-ragu. 

Aku sempat menyendiri selama setahun, tidak ingin memulai hubungan baru. Ketika sudah benar-benar sembuh aku bertemu laki-laki yang sebaya denganku, karyawan perusahaan besar.  Aku jatuh cinta. Dia dewasa, sabar, dan lembut. Cukup 1,5 tahun kami menjalani hubungan sebelum memutuskan untuk menikah. 

Baca Juga: Mengenal Fenomena Waithood: Ketika Melajang Jadi Trend Global

Belajar dari pengalaman, aku benar-benar memperhatikan karakternya. Kami punya visi dan misi yang sama dalam pernikahan. Aku bersyukur berani memutuskan hubungan dengan mantanku, karena ternyata mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik. Jika ada masalah kami selalu berdiskusi. Bertengkar tidak masalah asalkan ada perubahan ke arah yang lebih baik. Yang terpenting saling percaya, tidak banyak menuntut, dan tidak saling mencampuri urusan pribadi.

Memang diperlukan ketegasan untuk keluar dari hubungan toxic, agar kamu tidak terlarut dalam bujuk rayu dan perasaan tidak nyata.

Sumber: Riana, nama disamarkan, 29 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu