Selamat Tinggal, Toxic Relationship!

Selamat Tinggal, Toxic Relationship!

Kewanitaan

Urbanwomen – Aku seorang ibu rumah tangga berusia 23 tahun dengan 1 anak yang pernah menjalani toxic relationship. Seperti orang pacaran pada umumnya, semula dia begitu manis dan memperlakukanku dengan sangat baik. Setelah beberapa bulan semuanya berubah drastis.

Aku tak menyangka dia menjadi sangat kasar dan sering kali main tangan. Dia juga sangat posesif, kasar sekali, dan bisa main tangan. Dia bahkan melarangku membalas sapaan temanku sendiri. Jika dia menghubungiku melalui chat aku harus membalasnya dalam hitungan detik atau dia akan akan marah besar.  Awalnya aku mencoba memaklumi, tapi lama-kelamaan aku menjadi sangat tidak nyaman. Tidak ada privasi sama sekali untukku. Sewaktu dia minta kami bertukar handphone aku sempat berontak, tapi semakin aku membantah semakin kasar dia memperlakukanku. Jadi kuturuti saja permintaannya itu. Kebetulan aku baru saja punya handphone baru dari seorang tanteku. Suatu hari ibuku melihatku memegang handphone yang berbeda dan menanyakan ke mana handphone baruku. Kucari alasan dan harus berbohong agar orangtuaku tidak curiga. 

Karena seringnya kami bertukar handphone aku jadi sangat tertekan. Sampai akhirnya kami bertengkar. Kubanting handphone-ku sendiri di depannya sampai rusak sambil melarangnya untuk menghubungiku lagi. Dengan kata lain aku sudah tidak bisa meneruskan hubungan kami dan memilih bubar. Tapi… dia tidak mau. Dia malah menyerahkan handphone-nya padaku karena milikku rusak. 

Sebenarnya selama kami menjalani hubungan itu beberapa kali kami  sempat putus, tapi dia selalu mengancam supaya aku kembali. Lelah sekali rasanya menjalani hubungan dengan orang yang meracuni. Aku terus memikirkan cara agar bisa terlepas darinya.  

Sampai suatu saat aku dikenalkan oleh kedua orang tuaku dengan laki-laki pilihan mereka. Dia dewasa, bertanggung jawab, dan tidak kasar. Kuceritakan semua kejadian ini pada abangku dan laki-laki pilihan orang tuaku itu, karena itu satu-satunya cara agar aku bisa terlepas dari pacarku. Sementara pada pacarku itu kucoba berbicara secara baik-baik bahwa aku sudah dijodohkan oleh orang tuaku dan oleh karenanya hubungan itu harus selesai. Dia memohon agar aku tetap bersamanya, tapi keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri semuanya karena hubungan ini sudah tidak sehat dan bahkan menyiksa kami berdua hanya untuk tetap bertahan.

Sesudahnya, dia masih mengikutiku diam-diam ke mana saja aku pergi. Laki-laki pilihan orang tuaku bersedia menjemputku pulang dari kegiatan. Kemudian abangku juga berbicara baik-baik dengannya bahwa aku sudah dijodohkan. Lama berselang kudengar dia menikah. 

Baca Juga: Menciptakan Lingkungan Kerja yang Sehat agar Lebih Nyaman dan Berkembang

Aku juga sudah menikah dengan laki-laki pilihan orang tuaku itu. Dia memperlakukanku dengan baik. Kubayangkan, andai waktu itu aku tidak tegas untuk meninggalkan hubungan dengan pacar yang meracuni itu, mungkin sampai sekarang aku masih tersiksa. Jadi, jangan takut kehilangan seseorang jika memang dia tidak baik untuk kita. Jangan takut memutuskan hubungan yang sebenarnya sudah tidak cocok hanya karena sudah berjalan lama. Bagaimanapun kita juga harus mengutamakan kesehatan mental diri kita sendiri.

Sumber: Anonim

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu