Menunda kehamilan

Sepakat Menunda Kehamilan, Banyak yang Menyudutkan Kami

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku sulung dari dari 3 bersaudara yang semuanya sudah menikah di usia muda. Aku menikah ketika berusia 19 tahun ketika aku dan suamiku masih kuliah dan berpacaran lama sebelumnya. Tentu kami tidak asal menikah, banyak hal kami pertimbangkan. Meski masih muda, keuangan suamiku sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga kami. Aku memilih untuk tidak full time di rumah. Sebelum menikah, aku sudah bilang padanya aku ingin tetap kuliah dan bekerja karena masih butuh banyak pengalaman. 

Suamiku setuju. Dia sendiri suka sekali ikut berbagai seminar dan aktif di perkuliahan. Kami mengembangkan diri bersama, bahkan berencana membuka bisnis. Satu tahun pernikahan, aku mau  menunda kehamilan karena masih banyak hal yang perlu diurus dan kami perlu menstabilkan ekonomi.

Suamiku tidak mempermasalahkan usulanku karena dia tahu betul bagaimana kondisiku. Mungkin itu juga yang jadi pertimbanganku sebelum memilihnya sebagai suami. Dia selalu mendukung apapun keputusan yang kuambil. Keluargaku tentu bertanya kenapa aku belum hamil. Aku berterus terang tentang keputusan kami. Ternyata mereka tidak masalah. 

Namun lingkungan sekitarku terutama teman-teman kantorlah yang usil.  Setelah kujelaskan, tanggapan mereka malah menyalah-nyalahkan. Aku kesal, sempat marah juga kenapa mereka bisa menyudutkan diriku sementara mereka tidak tahu kehidupanku yang sebenarnya. Aku sempat merasa bersalah, mempertanyakan kembali keputusanku. Tapi suamiku selalu meyakinkan untuk tidak terlalu mendengarkan komentar orang lain. Biar bagaimanapun cuma kami yang menjalaninya. Aku tahu yang terbaik untuk diriku. Aku tetap jadi ibu rumah tangga yang berkuliah dan bekerja. 

Baca Juga: Seberapa Aman Jika Wanita Berhubungan Seks Saat Hamil Muda?

Ada beberapa hal yang kuterapkan sehari-hari agar semuanya bisa berjalan lancar. Biasanya aku mencatat jadwal di handphone untuk menghindari bentrok, selalu mengecek agenda harian mulai dari jadwal meeting, deadline, bahkan urusan rumah tangga supaya kegiatanku tidak tumpang tindih. Aku bangun lebih pagi sambil sarapan dan memulai obrolan ringan dengan suamiku. Jika merasa kerepotan, aku tidak segan minta bantuannya, seperti menyirami tanaman dan cuci piring. Aku juga membatasi waktu bermain medsos selama jam kerja. Kami juga menyiapkan tabungan khusus dan mental yang lebih baik untuk mendampingi tumbuh kembang anak kami nantinya.

Kehamilan bukanlah suatu perlombaan untuk dapat menentukan kalah-menang. Jangan sampai kehadiran anak dijadikan tolok ukur apakah kita sudah menjadi perempuan seutuhnya atau belum. Kita harus menentukan hal apa saja yang menjadi sumber kebahagiaan untuk diri sendiri. Ingat, hidupmu adalah hidupmu, bukan hidup orang lain. Hargai keinginan perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 

Sumber: Wita, 24 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu