Membeli barang pakai paylater

Sering Membeli Barang Tidak Penting, Paylater Menjadi Bencana Keuangan Untukku

Kisah Utama

Urbanwomen- Aku Noni, 27 tahun, karyawan swasta, di Jawa. Aku memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan saat menggunakan paylater. Awalnya aku coba mengaktifkan paylater karena hanya ingin mengetahui berapa limit yang aku dapatkan. Ternyata, baru pertama kali aku sudah mendapatkan limit 2 juta. Beberapa bulan aku tidak menggunakannya karena masih ragu, apakah aku bisa membayarnya nanti.

Namun, ketika itu skincare aku habis sedangkan aku belum memiliki uang. Akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan paylater kurang lebih sebesar 500 ribu. Di awal pembayaran semuanya berjalan lancar, aku tidak pernah telat membayar tapi entah kenapa aku tergiur dengan barang lainnya. Bahkan, aku sempat membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Semakin tergiur, karena limit paylater-ku semakin meningkat. Pernah total pemakaian sampai mencapai 4,2 juta. Aku kecanduan memakai paylater karena penggunaannya yang mudah dan cepat. Semakin lama aku semakin berani membeli barang-barang yang cukup mahal, seperti handphone untuk suamiku. Dia tidak mengetahui hal ini, dia mengira jika aku menabung terlebih dahulu untuk membeli handphone tersebut.

Limitku terus bertambah hingga 8 juta. Aku memutuskan untuk membeli handphone lagi. Belum sampai sebulan, limitku naik lagi sampai 10 jutaan. Setelah melunaskan semuanya, aku memang berencana untuk berhenti menggunakan paylater. Aku sadar bahwa aku kurang mempertimbangkan bunganya yang jika dihitung cukup besar.

Namun, aku tetap saja tergoda karena limitku terus-menerus meningkat. Mungkin ini karena aku selalu membayar tepat waktu. Ujung-ujungnya gajiku habis hanya untuk membayar utang-utang tersebut. Semakin lama suamiku curiga kenapa uang gajianku cepat sekali habisnya. Akhirnya aku berterus terang padanya jika aku harus membayar tagihan paylater. Dia sempat marah, kenapa meski berutang untuk membeli barang yang tidak begitu penting. Apalagi jumlah tagihanku tidaklah kecil.

Setelah suami mengetahui, untungnya dia segera membantuku melunasi utang-utang. Bahkan sampai menggunakan sebagian uang tabungan terlebih dahulu. Sejak itu, aku tidak lagi menggunakan paylater karena aku mudah tergiur dengan barang-barang yang lucu apalagi jika ada flash sale

Bayangkan saja jika aku tidak memiliki penghasilan sama sekali sedangkan aku memiliki tagihan yang jumlahnya cukup banyak, mungkin aku akan nekad meminjam sana-sini, tutup lubang gali lubang. Dan gaji yang seharusnya bisa aku bisa gunakan untuk membeli barang atau keperluan lainnya yang lebih penting, habis begitu saja tanpa arah.

Sekarang aku sudah menghentikan kebiasaan buruk ini. Meskipun sempat tertatih-tatih membayarnya. Kini, ketika aku ingin membeli barang aku kumpulkan uang terlebih dahulu. Sebisa mungkin aku menghindari berutang. Tak lagi tergoda membeli barang yang harganya cukup mahal seperti handphone. Apabila handphone tersebut masih bisa berfungsi dengan baik, sebisa mungkin aku tidak akan membelinya.

Baca Juga: Paylater? See you later!

Yang aku lakukan untuk berhenti menggunakan paylater dengan menonaktifkannya. Setelah itu setiap hari aku mulai menyisihkan uang yang bisa digunakan untuk membeli barang-barang. Mulai dengan uang yang jumlahnya kecil, misalnya 5000 setiap hari lalu di minggu berikutnya 10.000 setiap hari. Dengan begitu, uang menjadi lebih terarah.

Jadi, bijaklah saat berbelanja. Tanpa disadari, tagihan paylater bisa menimbulkan masalah keuangan apalagi jika kita belum bisa mengontrol penghasilan dengan baik.

Sumber: Noni, 27 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu