Financial abuse

Sesudah Menikah, Diam-Diam Suami Menggunakan Uangku Untuk Berjudi

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku menikah muda di usia 19 tahun, karena sudah merasa cocok setalh berpacaran selama 3 tahun. Ibuku merasa dia bukan laki-laki yang tepat untuk diriku, padahal ketika itu belum terlihat seperti apa sifat asli pasanganku. Kuanggap itu hanya karena ibuku baru mengenalnya.

Pihak keluarga pacarku memang sempat merasa khawatir jika kami terlalu lama berpacaran, takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Siapa sangka, pernikahan kami hanya bertahan 4 tahun. Saat menikah aku masih kuliah sehingga belum punya penghasilan. Sedangkan suamiku sudah bekerja. Usia suamiku lebih tua 3 tahun. Semula aku mengira dia lebih dewasa, ternyata tidak.

Setelah beberapa tahun pernikahan dia keluar dari pekerjaan. Katanya karena lelah kerja terus dan ingin menjadi freelance saja sementara waktu sambil sesekali santai di rumah. Aku mencoba untuk menerima alasannya, tidak tega melihat wajahnya yang nampak lelah. Tapi di satu sisi kami juga punya banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. 

Kuberi dia kesempatan, paling tidak satu hingga dua bulan untuk beristirahat di rumah. Ketika itu kami sudah punya satu anak yang masih kecil. Aku harus bekerja, jadi kami bertukar peran. Kusangka dia cukup paham dengan kondisi rumah tangga kami saat itu. Tapi di rumah dia hanya bermalas-malasan, tidak menjaga anak, tidak membereskan rumah. Karena anakku masih kecil, kutitipkan dia pada kakak ipar. Sebagian penghasilan kugunakan untuk membayar kakak iparku.

Sifat asli suamiku mulai terlihat. Sesudah gajian, uangku sering kali habis begitu saja tidak jelas untuk apa. Ternyata dia pakai untuk main judi online. Dia menganggap uangku berarti uangnya juga, sehingga dia merasa berhak menikmati sampai habis, tanpa berniat mengganti. Sementara aku hanya memikirkan anak, suamiku makin menjadi-jadi. Bukan cuma pakai uangku, dia juga berselingkuh. 

Aku selalu mencoba memaafkan, memberi dia kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi dia cuma mengulang-ulang perbuatannya. Jangankan membantu perekonomian keluarga, sekadar meringankan pekerjaan rumah saja dia tidak bisa. Kami selalu mempertengkarkan permasalahan yang sama. Ditambah dia tak kunjung mendapatkan pekerjaan atau berusaha mencarinya. Hanya judi yang ada di pikirannya. Kami pun bercerai.  

Baca Juga: Financial Abuse : Cara paling ampuh mempertahankan toxic relationships?

Kini aku menjadi lebih fokus bekerja. Semua kulakukan demi anak. Meskipun bercerai, aku tidak melarang anakku untuk bertemu dengan ayahnya. 

Aku mengerti sekarang, menikah tidak seindah yang dibayangkan. Tak ada salahnya mencari pasangan yang mapan. Jika dari pacaran sudah terlihat dia pemalas, sebaiknya tidak dilanjutkan sampai ke pernikahan. Dampaknya cukup besar dalam keuangan rumah tangga. Tahu dan kenal  pola asuh dalam keluarganya juga amat penting. Pola asuh memberi pengaruh cukup besar dalam pembentukan karakter manusia.

Sumber: Fira, nama disamarkan, 21 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu