Setelah Bercerai

Setelah Bercerai Darinya, Kini Hidupku Jauh Lebih Bahagia

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Azizah, 30 tahun, single mother, bekerja sebagai konsultan di Jakarta. Sebelum menikah, aku menjalani hubungan selama 4 tahun. Kami berbeda agama, tanpa paksaan apapun dia rela masuk agamaku sebagai bukti keseriusannya. Dia juga mapan dan tidak pernah kasar padaku. Siapa yang tak luluh, melihat semua perjuangannya. Sampai akhirnya kami menikah. 

Saat hamil, aku berhenti kerja. Dia selalu mendampingiku, sangat bertanggung jawab merawatku. Betapa bersyukurnya aku,, merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Jelang berapa tahun pernikahan, masalah mulai muncul. Setelah 1,5 tahun aku kembali bekerja. Penghasilanku cukup besar. Kemudian, kami berencana membeli rumah. Dia ingin menyicil selama beberapa tahun, sedangkan aku ingin membelinya kontan dengan mengumpulkan uang terlebih dulu. Masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik berakhir dengan pertengkaran hebat. Dia begitu emosional dan kasar. Mulailah terlihat sifat aslinya.

Dia resign dari pekerjaan saat anak kami berusia sekitar 1 tahun karena dia ingin menjalankan bisnis restoran seafood. Aku tidak melarangnya, justru sangat mendukung apapun yang dia lakukan. Tapi dari sinilah kami menjadi sering bertengkar. Dia mulai tidak jujur mengenai keuangannya. Memang, dari awal menikah aku memiliki prinsip “Kalau aku masih bisa bekerja cari uang sendiri, tidak harus minta uang ke suami.” Maka dari itu aku tetap bekerja, agar tidak menyusahkannya. 

Dia sering minta uang dengan nominal tidak sedikit. Alasannya untuk bisnisnya. Tiap aku menanyakan penghasilan restoran dia selalu bilang uangnya diputar untuk membeli makanan dan lain-lain, sehingga belum terlihat berapa pendapatannya. Aku tak ada rasa curiga saat itu, aku sangat percaya padanya. Dia mulai sering tidak pulang, dengan alasan untuk mengurus restorannya. Kami menjadi jarang sekali bertemu karena setiap aku pulang kerja, dia berangkat, begitu seterusnya. Dia juga tak lagi menyentuhku layaknya suami-istri. 

Sampai suatu saat aku melihat di notifikasi handphone-nya ada chat dari seorang perempuan yang menyapanya dengan panggilan mesra. Betapa hancurnya aku. Dia mengaku punya pacar. Uang dariku dipakainya untuk perempuan itu. Pikiranku kacau sekali l, aku merasa tidak berguna sama sekali. Ketika kutanyakan alasannya, dia bilang aku terlalu sibuk bekerja sampai kurang perhatian untuknya.

Aku bekerja keras mengumpulkan uang agar bisa membangun kos-kosan, biaya anak, dan membantu perekonomian keluarga terutama adik yang masih sekolah. Aku tidak ingin di hari tua nanti masih bekerja keras, tak memiliki masa depan. Tapi apa balasannya? Dia mengkhianatiku hanya karena hal itu, yang seharusnya bisa dibicarakan dan diperbaiki bersama. 

Lalu dia pergi dari rumah. Aku memohon-mohon dan mengajaknya memulai lagi dari awal. Sampai berlutut di kakinya. Tapi dia menolak. Aku menemui seorang teman yang berprifesi sebagai psikiater dan diberi resep obat tidur. Istirahat dan tidur cukup membuat pikiranku jernih kembali. Aku mulai sadar  tidak ada yang bisa kuharapkan darinya. Toh aku perempuan mandiri. Kami pun bercerai. Aku usir juga dia dari rumah dan tidak kupedulikan lagi walau dia sempat ingin kembali. Uangnya pasti sudah habis. 

Baca Juga: 5 Tips Bangun Rasa Saling Percaya Dengan Pasangan

Sedikit demi sedikit aku bisa membangun kos-kosan dan fokus pada masa depan anakku. Aku menyibukkan diri, an aku happy melakukannya. Kini aku hanya memikirkan masa tuaku nanti, agar bisa bersantai di rumah bersama keluarga kecilku.

Perlu diingat, hubungan yang tidak sehat amatlah buruk bagi segala relasi dalam hidupmu. Tak peduli seberapa kuat kamu bertahan dalam kondisi itu, kamu bisa kehilangan semuanya.

Sumber: Azizah, 30 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu