Menerima

Sikapnya yang Sering Merendahkan, Perlahan Menghilangkan Rasa Percaya Diriku

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Rere, 25 tahun, karyawan di Jakarta. Tahun kemarin menjadi tahun terberat untukku. Hubungan yang kujalani selama 5 tahun kandas begitu saja. Sebenarnya kami adalah pasangan yang bertolak belakang, jarang sekali satu pendapat dalam obrolan. Kami amat berbeda, aku sensitif sedangkan dia sangat realistis. 

Dia tipikal orang yang dominan dan mengontrol, membuatku selalu mengikuti apa yang dia inginkan. Semua yang dia butuhkan kudahulukan. Kami tidak saling melengkapi. Hubungan ini sangat toxic secara emosional. Dia sering kali mengancam putus. Kesalahan kecilku sering dibesar-besarkan. Aku juga sering dianggap bodoh, tak berguna. Kami bisa bertengkar berhari-hari, dia melempar-lembar barang ke arahku, sesekali kami juga saling pukul. Tapi ketika aku tidak melakukan kesalahan apapun dia memperlakukanku seperti orang yang sangat dicintai. Aku merasa sangat kesulitan untuk meninggalkan dia.  

Aku selalu menyalahkan diri sendiri. Jika saja aku tidak melakukan kesalahan, tidak melawan, kupikir mungkin itu semua tidak akan pernah terjadi. Aku selalu minta maaf dan memohon-mohon agar dia tidak pergi. Aku tidak bisa meninggalkannya. Pikiranku terlalu kacau.  Apakah hidupku akan baik-baik saja tanpa dirinya? Bagaimana jika dia berhasil menemukan pasangan baru sedangkan aku menderita sendirian?

Dia beberapa kali berselingkuh. Saat itu, hidupku penuh dengan insecurities  (cemas, tidak mampu, kurang percaya diri) karena merasa aku bukan pasangan yang baik. Dia selalu kumaafkan. Sampai aku sadar aku sudah kehilangan jati diri. Kami belum menikah, tapi tinggal bersama. Dia sering mengusirku, terang-terangan mau mencari pasangan baru untuk serius membangun masa depan. Masih saja aku bertahan. Kami juga berdebat mengenai finansial, dan dia menunjukan bukti sudah menemukan orang lain dan ingin menikah.

Aku merasa sudah kuat. Aku benar-benar pergi dan hanya mengucapkan terima kasih. Kublokir semua medsosnya. Dua hari kemudian dia minta maaf, mengakui dirinya sudah sangat keterlaluan. Kusampaikan semuanya, kukirim banyak pesan tapi dia hanya membacanya saja, tanpa membalas sama sekali. Aku hampir kehilangan harapan untuk hidup. Aku pergi ke lain kota dan mencari pekerjaan. Aku merasa sangat sendirian, menyesal kenapa aku tidak minta maaf saja dan memohon agar tetap tinggal bersama. Kemudian kuingat momen masa kecilku yang begitu bahagia. Kupikir, apakah ketika itu aku takut menjadi dewasa jika tahu akan mengalami hal seperti ini? Apakah aku akan menjadi anak yang pendiam? Akhirnya kusadari aku sudah dewasa dan sudah saatnya memikirkan masa depan, kebahagiaanku sendiri.

Aku mulai langkah untuk mencintai diri sendiri. Pertama, dengan meyakinkan diri terlebih dulu bahwa keputusanku untuk pergi tidaklah salah. Sudah 5 tahun kucurahkan cintaku kepadanya, tanpa menyadari diri ini sudah menahan rasa sakit terlalu lama. Aku sadar aku tidak bisa mengubah dia sampai kapanpun. Awalnya sangat sulit, masih saja aku mencari pembenaran sikapnya. Selama proses penyembuhan diri aku mulai bersosialisasi kembali, disibukkan dengan pekerjaan yang kusukai, dan mendengar kabar dia menikah dengan orang yang kukenal. Ternyata mereka sudah dekat dari lama. Itu semakin menunjukan bahwa keputusanku berpisah dengannya adalah tepat. 

Baca Juga: Berawal dari Teman Curhat, Aku Terjebak Cinta dengan Pria Beristri

Aku yakin, jika aku bisa hidup bahagia sebelum bertemu dengan dia, hidupku akan lebih baik dan bijak ketika sudah berpisah dari dirinya. Kini aku bisa lebih fokus bekerja, mengasah kemampuan tanpa larangan dari manapun, membuatku lebih mudah mengenali diri sendiri. Aku belajar, terkadang datangnya orang yang salah mengajarkan kita menjadi lebih dewasa, kuat, dan mandiri. Berhenti menyalahkan diri sendiri, dan mulai memperbaiki diri dan tidak asal menerima cinta.

Sumber: Rere, nama disamarkan, 25 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu