Stephanie Kurlow, Balerina Berhijab Pertama di Dunia

Stephanie Kurlow, Balerina Berhijab Pertama di Dunia

Selebritas

Nama Stephanie Kurlow mungkin memang belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia. Namun, langkahnya meniti karir sebagai balerina profesional berhijab pertama di dunia tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan berusia 19 tahun ini, telah menaruh ketertarikan pada dunia balet sejak usia 2 tahun dan akhirnya memutuskan menekuninya sebagai profesional saat usia remaja.

Sebagai seorang berkebangsaan Australia yang memutuskan memeluk agama islam, perjalanannya menjadi balerina profesional tidaklah mudah. Ia kerap kali mendapat penolakan ketika hendak mendaftarkan diri di sekolah balet. Alasannya adalah karena mereka tidak bisa menerima murid yang menggunakan hijab, rok balet panjang, dan lengan panjang saat berlatih. Tidak ingin anaknya pupus harapan, sang Ibu akhirnya memutuskan untuk membuka sendiri sekolah balet untuk Stephanie.

Menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah, Stephanie enggan menyerah pada keadaan. Keputusannya untuk berhijab dan memilih dunia balet adalah sebuah keputusan bulat yang ia buat dengan keteguhan hati. Ia tetap yakin pada pilihannya tersebut. Ia yakin bahwa hijab bukanlah penghalang dalam menggapai mimpi, justru akan membantunya menyempurnakan diri.

Dan berkat perjuangannya, ia kini semakin mendapat perhatian di dunia internasional. Ia menerima beasiswa Aim for the Stars and the Game Changer dari Björn Borg pada tahun 2016, juga menerima beasiswa musim semi dari The Royal Danish Ballet tahun 2018. Bahkan ia juga sempat didaulat menjadi salah satu pembicara pada Resonation Women’s Empowerment Conference di Indonesia tahun 2017 silam.

Nama Stephanie Kurlow kian dikenal luas berkat kolaborasi dengan beberapa brand kenamaan dunia untuk kampanye. Ia pernah didaulat menjadi salah satu ikon dalam kampanye International Women’s Day tahun 2018 oleh Lenovo serta menjadi wajah kampanye global ‘Love The Progress’ di tahun 2019 yang dibuat oleh Converse.

 

Makna Hijab dan Balet

Pilihan Stephanie untuk berhijab tentu saja bukan semata mengikuti orang tua yang memutuskan memeluk islam pada tahun 2010 saja. Ia mengakui bahwa awalnya mengikuti orang tua, namun seiring berjalannya waktu itu mencoba mencari tahu lebih dalam dan mendefinisikan hakikat agama Islam bagi dirinya pribadi.

Ia banyak membaca Al-Quran serta mempelajari maknanya. Ia sendiri juga merasakan bahwa agama Islam membuatnya lebih menghormati diri dengan menjaga tubuhnya, serta menjauhkannya dari gaya hidup yang berbahaya. Ia akhirnya mampu mencintai agamanya dengan lebih baik dari hari ke hari.

Begitupun dengan balet. Memiliki minat natural sejak usia dini, Stephanie selalu merasakan kenyamanan ketika melakukan eksplorasi dalam gerakan-gerakan balet. Ia merasa nyaman dan tenang, sehingga merasa balet adalah rumah yang membuatnya selalu ingin kembali.

Dari Stephanie kita dapat belajar bagaimana mimpi harus terus diperjuangkan, tak peduli seberapa sulit jalan yang harus ditempuh. Keputusan yang matang berdasarkan kesadaran penuh, akan memberikan kekuatan pada diri untuk menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan mimpi. Sudah seharusnya kita menjadi perempuan yang berani berbeda, berani mengambil keputusan sendiri tanpa bayang-bayang dari orang lain, dan mempertanggungjawabkannya.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu