Sudah Bukan Bucin Lagi

Sudah Bukan Bucin Lagi

Blog

UrbanwomenBanyak perempuan percaya bahwa jatuh cinta itu “perempuan banget”. Tidak menghalau rasa itu, bahkan juga menganggap jatuh dalam emosi percintaan, apapun risikonya, adalah normal. Muncullah istilah “bucin”, budak cinta.

Saya pernah begitu. Rasa jatuh cinta itu enak banget. Saya juga memprioritaskan laki-laki yang sedang saya jatuh cintai. Saya ikuti terus perasaan bahagia kuadrat itu dan memenuhi pikiran saya dengan dia, dia, dan dia. Saya merasa jadi perempuan paling beruntung sedunia. 

Tapi layaknya bucin, saya tidak menyediakan waktu untuk mengenali sifat, karakter, dan kebiasaan pasangan saya. Go with the flow saja dan selalu berharap yang terbaik. Dengan sikap seperti ini saya berkali-kali merasa sangat bahagia, sekaligus berkali-kali merasa sangat hancur. Kalau pasangan suka main perempuan, yah, apa mau dikata akhirnya saya pasti akan diselingkuhi. Kalau suka main tangan akhirnya empasan tangan akan mendarat juga di bagian tubuh saya. Kalau suka mengambil keuntungan finansial dari orang lain sudah pasti saya menjadi bulan-bulanan mereka. Saya selalu menenangkan diri dengan jalan percaya cinta akan mengubah segalanya.  Dengan cinta semua akan menjadi lebih baik, dengan cinta apapun bisa dimaafkan demi lembaran baru. Banyak hubungan saya justru penuh air mata, penuh menyesalan, bahkan pernah sampai merasa ingin bunuh diri.

Trauma akhirnya membuat saya sempat malas bertemu laki-laki. Rasanya seperti makan buah simalakama — mau bagaimanapun ujungnya pasti sial. Tapi sebenarnya saya juga bertanya-tanya kenapa pasangan lain baik-baik saja dan awet. Sampai suatu kali saya membantu pelaksanaan tes premarital di komunitas gereja, yang dilakukan pasangan yang akan menikah untuk melihat tingkat kecocokan mereka. Sambil saya membantu memberi nilai pada kertas hasil tes, saya juga mencuri-curi  dengar penjelasan serta cerita para pasangan yang datang. Dari situ saya tahu orang yang mau berpasangan serius pasti diawali rasa suka, tapi tidak lanjut menjadi bucin. Keduanya menyediakan waktu untuk saling mengenal sisi baik dan buruk, serta memantau apakah hubungannya itu memang serasi. Hubungan yang terjadi semata karena emosi saja itu tidak bijak. Sejak itu saya mulai membuka diri kembali tanpa pernah lupa menganalisa. Kalau hasilnya buruk hubungan itu harus dihentikan.

Memang kadang terasa seperti detektif. Tapi dari menganalisa saya jadi bisa memahami sifat pacar saya sebelum terjadi hal-hal yang buruk. Suka selalu ada, tapi sekarang say aitu juga melihat realitanya bagaimana. Dan ternyata… saya bisa. Saya bisa berhenti menjadi bucin, dan saya bisa bilang tidak pada perasaan saya ketika saya tahu perasaan itu akan membawa saya ke dalam hubungan yang tidak sehat atau tidak baik buat saya.

Beberapa hubungan bisa saya selesaikan baik-baik, saya bisa menjaga kesehatan emosi dan fisik saya. Saya sadar hanya memikirkan dan memprioritaskan pasangan itu tidak sehat. Akhirnya saya bertemu seseorang yang semula tidak saya sukai, yang setelah ditelaah baik-baik sikap dan kebiasaan dia pun baik. Keseharian kami normal. Kalau ada waktu sisa barulah kami berkomunikasi, atau berjumpa saat akhir pekan. 

Baca Juga :Tidak Kehilangan Dia, Tapi Kehilangan Dirimu Sendiri

Perempuan harus bisa menyelaraskan perasaaan dan logikanya, terutama dalam urusan memilih pasangan yang baik. Jagalah hati dan pikiran. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu