keluarga toxic

Tak Mau Terus Terpuruk, Aku Berusaha Berdamai dengan Luka Masa Kecil

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Ima, 36 tahun, guru BK di Jakarta. Orangtuaku mendidik dengan cara keras. Ibuku tak segan memukulku kalau aku nakal, walau dia pernah diberitahu oleh keluarga untuk tidak memukul. Aku tumbuh menjadi pendiam. Namun aku juga paham bahwa orangtuaku belum memiliki ilmu yang cukup tentang bagaimana mendidik anak secara benar. Mereka menganggap memukul anak adalah hal yang wajar untuk dilakukan. 

Aku dijauhi teman-teman di sekolah karena suasana hatiku yang mudah sekali berubah. Aku bisa tiba-tiba menangis, senang, atau sangat sensitif. Selepas kuliah beberapa kali aku tidak diterima bekerja. Aku semakin down, merasa pantas jika aku diperlakukan seperti itu, merasa tidak berguna, dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Sampai akhirnya aku berhasil diterima untuk mengajar di sekolah internasional sebagai guru BK dan tinggal di kos dengan temanku. Berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat baik-baik saja di depan murid tentu tidak mudah. Terbiasa memendam masalah membuatku stres, sampai pernah sepintas di pikiranku untuk mengakhiri hidup. Tapi kupikir kasihan sekali orangtuaku yang sudah susah payah membesarkanku hingga saat ini. 

Terkadang hal yang belum tentu terjadi juga kupikirkan. Aku takut pada penilaian orang lain terhadapku. Ketika teman-teman sedang berkumpul tanpa diriku aku langsung berpikir jangan-jangan mereka sedang membicarakan diriku. Emosi yang tidak stabil mempengaruhi beberapa aspek kehidupanku, seperti percintaan yang selalu gagal.

Belum terpikir untuk berkonsultasi ke psikolog, sampai aku terlihat murung karena masalah-masalah yang datang bersamaan. Beruntungnya, aku punya teman satu kos yang begitu baik. Dia bertanya apakah aku ada masalah sampai pekerjaanku berantakan. Aku menangis dan menceritakan semuanya. Temanku menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog, karena jika dibiarkan akan memperparah keadaan. 

Kuikuti saran psikolog untuk menolongku dari depresi. Aku harus memeluk diri sendiri dan mengajak berbicara. Sambil memeluk diri sendiri aku melakukan watering flower,  teknik yang kudapat dari kelas mindfulness. Jadi, ada dua sosok yang berbicara saat itu, versi dewasa diriku dan versi anak-anak. Versi dewasa akan menanyakan apa yang membuat si inner child sedih dan marah. Sedangkan versi anak-anak akan mengingat masa lalu yang menyakitkan. Lalu versi dewasa memberi pandangan tentang luka itu, mengapresiasi segala hal yang sudah berhasil dilewati dengan baik. 

Aku juga mulai menjalani pola hidup sehat yang ternyata sangat berpengaruh pada kestabilan emosiku. Mulai dengan mengurangi gula, makan-makanan sehat, dan berolahraga. Butuh waktu kurang lebih satu setengah tahun untuk berproses menjadi lebih baik. Cara ini masih kulakukan hingga sekarang. Ketika aku merasa kecewa, marah, sedih tanpa alasan kupeluk diriku dan tak lelah mengingatkan diri sendiri tentang semua hal baik yang sudah dilewati. 

Baca Juga: Mengatasi Kecemburuan dalam Lingkungan Keluarga yang Toxic

Kini aku mulai bisa mencintai diri sendiri. Mengasihi diri, sadar bahwa kita tidak bisa mengontrol penilaian orang terhadap kita. Cari tahulah apa yang diinginkan diri sendiri dan segera lakukan. Karena semua berasal dari diri sendiri yang mau berubah menjadi lebih baik, atau terus-menerus terpuruk meratapi nasib tanpa melakukan perubahan.

Sumber: Ima, 36 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu